Mohon tunggu...
Renita Yulistiana
Renita Yulistiana Mohon Tunggu... Guru - Pendidikan

I wish I found some better sounds no one's ever heard ❤️😊

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Sebuah Khayalan untuk Pendidikan Indonesia

23 Juni 2022   23:20 Diperbarui: 30 Juni 2022   16:30 229 19 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
ilustrasi pemberlajaran di kelas. (Foto: KOMPAS/PRIYOMBODO)

Saya takzim, saat meresapi lirik lagu milik Idgitaf yang berjudul Takut. Per hari ini, sudah belasan kali ia memutar di telinga. 

Kemudian, saya kembali mengingat tulisan pada buku harian tentang "Sekolah Impian". Diperkuat karena baru saja mendengar beberapa curahan hati para pelajar dan mahasiswa tentang perjuangan di garis waktunya masing-masing.

Menjadi dewasa memaksa untuk melihat sesuatu dari banyak sisi. "Pelabelan Sekolah Bagus dan Tidak", menjadi salah satu alasan terbesar kenapa berkhayal dan menaruh mimpi untuk pendidikan Indonesia terus diperlukan, bagi saya. Meskipun sulit digapai dan menjadi topik bahasan membosankan.

Dua hari lalu, saya mengobrol dengan salah satu orangtua murid. Iya meminta maaf karena anaknya sering absen dalam pembelajaran daring. 

Namun, saya menemui fakta bahwa anak ini ternyata mengalami trauma akibat proses belajar yang kurang menyenangkan di jenjang TK. 

Dokumentasi Pribadi: Pameran CIPTA
Dokumentasi Pribadi: Pameran CIPTA

Kemarin, saya diskusi dengan beberapa rekanan. Kami membahas program sosial dan SDGs untuk pelajar. Lalu, kami menemui tantangan. 

"Bagaimana cara efektif membuat program berdampak ya? Contohnya angkat isu kemiskinan dengan sasaran siswa yang memiliki privilege yang wah. Apa indikator yang bisa pastikan mereka benar-benar peduli terhadap isunya?"

Saya bersyukur, sempat menemui kondisi dan komparasi ini. Jika tidak, mungkin pikiran saya masih sesempit lima tahun lalu---yang memandang pendidikan sekadar soal ketimpangan ekonomi saja. 

Setahun menjadi guru, saya banyak menemukan sekolah dengan sistem dan kurikulum yang bagus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan