Mohon tunggu...
Katedrarajawen
Katedrarajawen Mohon Tunggu... Penulis - Anak Kehidupan

Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis. ________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik ... dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menenun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu [Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Antara Cinta Kasih dan Nyamuk dalam Omong Kosong

9 September 2021   14:32 Diperbarui: 9 September 2021   14:35 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar:postwrap/katedrarajawen 

Kadang diam-diam spontan saya berlinang air mata dan penuh tanya. Apakah saya ini masih manusia?

Apabila masih manusia, di mana cinta kasih itu berada?

Ke mana mau mencari?

Padahal selama ini saya sering berbicara tentang cinta kasih. Bahwa manusia yang beragama harus memiliki cinta kasih. Sebab agama sejati itu adalah cinta kasih. 

Ternyata semua memang omong kosong saja. Omong cinta kasih, ada penderitaan di depan mata pun takpeduli. Omong terus sampai lupa sudah kehilangan cinta kasih.

Beragama masih tega membenci. Tiada rasa melihat yang menderita. Apa arti beragama? 

Setelah berlinang air mata baru timbul sedikit cinta kasih. Lantas mewujudkan dalam perbuatan. Itu pun seadanya. 

Akhirnya berlinang air mata kembali. Merasa diri masih kurang berlatih dalam hal ini. Sadar lagi. 

Ajaran cinta kasih universal itu adalah mencintai semua makhluk. Ada lagi pesan para bijak, melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.

Saya pun mencoba melakukan hal kecil bermaksud menyertai dengan cinta yang besar pada makhluk yang kecil pula. Nyamuk. 

Malam itu duduk dengan membuka baju saya siap menyerahkan tubuh ini pada nyamuk-nyamuk sebagai cara mendonorkan darah. Pasrah. Ikhlas. Membahagiakan para nyamuk. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun