Mohon tunggu...
MArifin Pelawi
MArifin Pelawi Mohon Tunggu...

PNS yang lagi dibayarin LPDP untuk belajar pendanaan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Alasan Mengapa Pendidikan Indonesia Tidak Akan Bisa Meniru Finlandia

4 Januari 2018   07:55 Diperbarui: 6 Januari 2018   00:41 0 25 12 Mohon Tunggu...
Alasan Mengapa Pendidikan Indonesia Tidak Akan Bisa Meniru Finlandia
Ilustrasi. RF123

Finlandia adalah sebuah negara yang tenar dan sangat banyak dibahas oleh semua orang yang belajar pendidikan baik dari sisi ilmu pendidikan, ekonomi maupun sosiologi. Mereka adalah fenomena unik. 

Dari 5 besar negara pada ranking PISA oleh OECD, mereka adalah negara dengan sistem pendidikan terunik. Murid di Finlandia baru mulai sekolah pada umur 7 tahun dan sebelum itu mereka hanya diperbolehkan untuk bermain. Waktu belajar mereka juga bisa dikatakan sangat singkat itupun lebih banyak di luar ruangan.

Tidak ada pekerjaan rumah yang diberikan kepada murid. Murid baru dites kemampuannya secara wajib ketika mereka umur 16 tahun dan tamat secondary schools. Guru-guru di Finlandia tidak diawasi dan dinilai oleh siapa pun. Bahkan banyak penelitian menunjukkan bahwa guru yang diberikan otonomi penuh inilah kunci keberhasilan pendidikan di Finlandia. Guru-guru disana mampu diberikan otonomi penuh karena mereka yang bisa jadi guru adalah lulusan terbaik dan memiliki passion sangat besar untuk mengajar.

Keberhasilan Finlandia juga tidak bisa ditimpakan kepada kualitas anaknya yang superior karena gizi tinggi serta dirawat baik waktu bayi atau ras mereka superior. Tetangga Finlandia, Norway, yang bisa dikatakan memiliki ras yang hampir mirip, sesama Nordic tidak memiliki kualitas pendidikan setara Finlandia. Norway lebih kaya dari Finlandia dan mereka juga memberikan cuti sampai tahunan kepada orang tua ketika anak mereka dilahirkan sehingga bisa merawat penuh anaknya. 

Norway seperti Finlandia juga memberikan tunjangan kepada orang tua atas anak dan memberikan penitipan gratis yang berkualitas kepada orang tua yang bekerja. Namun rangking Norway hanyalah 30 di 2012 ketika Finlandia adalah juara, dan membaik menjadi 24 di 2015. Rangking Norway kalah dari Vietnam (19) yang bisa dipastikan anaknya tidak akan mendapatkan gizi dan perawatan yang lebih baik dari anak di Norway.

Negara dengan gaji tertinggi bagi guru (3 kali lipat dari gaji guru di Finlandia) dan memberikan sumber dana tertinggi untuk pendidikan (tertinggi di negara OECD) seperti Luxemburg  tidak menjadikan sistem pendidikannyanya sukses. Ranking mereka antara 29-32 di PISA score dengan nilai totalnya di bawah skor rata-rata hasil tes .

Cara belajar dengan bermain juga bukan cara yang pasti untuk memberikan pengajaran yang bermanfaat bagi anak-anak. Masyarakat di Amerika Serikat sangat tertarik untuk mempelajari Finlandia, dan telah banyak peneliti dikirim ke sana. Bukan saja Amerika tapi juga dari banyak negara lain di dunia. Bahkan ada lelucon bahwa peneliti dari dunia pendidikan penyumbang terbesar pemasukan turisme bagi Finalndia setelah 2012. Namun, tidak banyak negara yang ikut menerapkan cara belajar dengan bermain di luar kelas.

Anggaran pendidikan di Amerika Serikat per murid lebih besar dari Finlandia dengan pendapatan per kapita yang lebih rendah dari Finlandia. Maka jika masalah resource, kualikasi guru dan cara menagajar yang jadi masalah maka tidak akan ada kesulitan untuk meniru Finlandia. Hal ini menunjukkan bahwa kesimpulan dari banyak penelitian bahwa rahasia pendidikan sukses dari Finlandia sangat sederhana , yaitu guru dengan kualifikasi baik dan memiliki passion tinggi serta otonomi penuh untuk mengajar, adalah satu-satunya penjelasan yang belum bisa dibantah.

Pertanyaanya sekarang, apakah Indonesia bisa membuat sistem pendidikan seperti Finlandia? Jawabannya adalah hampir 99% kemungkinannya tidak bisa.

Ada empat alasan menurut opini saya yang membuat kita tidak bisa memiliki sistem pendidikan seperti Finlandia. Pertama adalah kita membenci sosialisme. Sistem ekonomi sosialis memiliki basis pandangan yang banyak mengambil pemikiran tokoh komunisme seperti Karl Marx. Sistem sosialisme yang diterapkan di Finlandia mengutamakan kebebasan pada penduduknya untuk memilih apa yang mau dikerjakan sesuai dengan passionnya dan equality. Warga diberikan kepastian untuk memilih pekerjaan apapun yang diinginkannya tanpa takut kegagalan karena negara akan selalu di belakangnya.

Negara menjamin bahwa seluruh warga pasti bisa sekolah dan mendapat perawatan kesehatan berkualitas. Negara juga akan memberi tunjangan untuk hidup layak jika belum mendapatkan pekerjaan dan memberikan pelatihan atau sekolah lagi jika butuh menambah skill baru. Setiap anak yang lahir akan diberikan kebutuhan dasar penuh dan tunjangan bulanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3