Muda highlight

Memahami Kemerdekaan dari Sejarah Indonesia

10 Agustus 2017   13:55 Diperbarui: 10 Agustus 2017   14:03 379 0 0
Memahami Kemerdekaan dari Sejarah Indonesia
Indonesia Damai - www.smkn3metro.sch.id

Indonesia bisa merdeka berkat perjuangan para pahlawan. Indonesia bisa bebas dari penjajahan, karena kegigihan masyarakatnya untuk bisa hidup damai dan merdeka. Dulu kita mengenal kisah Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, Cut Nyak Dhien dan masih banyak lagi pahlawan lokal lainnya. Dulu kita juga mengenal bagaimana resolusi jihad perang melawan penjajah demi merebut kemerdekaan, juga pernah dilontarkan KH Hasyim Asyari. Bersama masyarakat Surabaya, para santri dan ulama juga ikut berjuang melawan Inggris yang ingin merebut Surabaya. Masih banyak lagi kisah para pahlawan yang bisa kita pelajari, dan bisa kita jadikan renungan untuk bisa menatap Indonesia kedepan.

Setelah berhasil merebut kemerdekaan, kita juga bisa belajar dari sejarah generasi muda, ketika ingin merebut reformasi. Rezim orde baru yang dirasa otoriter dan tidak memberikan ruang untuk demokrasi, digagalkan untuk kembali memimpin setelah 32 tahun berkuasa. Setelah hidup di era demokrasi, kemerdekaan itu ternyata tidak sepenuhnya benar-benar dirasakan. Kepentingan segelintir orang telah membuat kemerdekaan yang menjadi hak semua orang, tidak bisa merata dirasakan. Padahal kemerdekaan sejatinya hak setiap manusia, dan sudah dijamin oleh Allah SWT.

Dalam mengisi kemerdekaan, seharusnya tidak ada ujaran kebencian antar sesama. Dalam mengisi kemerdekaan, seharusnya juga tidak ada lagi provokasi, yang bisa memecah belah bangsa ini. Sebaliknya, dalam mengisi kemerdekaan, harus saling bergandengan tangan tanpa memermasalahkan setiap perbedaan yang ada. Negeri ini sudah berbeda sejak awal. Dan Tuhan telah menciptakan Indonesia dalam keberagaman. Karena itu tidak ada gunanya mempersoalkan keberagaman yang ada. Mari kita fokus mengisi kemerdekaan yang telah diraih, dengan hal-hal yang inovatif dan berguna bagi negeri ini.

Sekali lagi, mari kita saling bergandengan tangan dan tidak saling membenci antar sesama umat. Dalam Al Quran, telah diingatkan bahwa "hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. "(QS Al Hujurat : 11)

Jelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke 72 ini, mari kita renungkan kembali nilai-nilai Pancasila. Karena Pancasila sudah final, tidak perlu lagi mempersoalkan dasar negara ini. Karena Pancasila didasakan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial. Nilai-nilai Pancasila begitu universal dan bisa diterima oleh siapa saja. Dan di bulan Agustus ini, menjadi momentum yang tepat untuk kembali memantapkan diri untuk mengisi kemerdekaan dengan perdamaian, kerukunan, toleransi, dan hal yang berguna bagi kemaslahatan umat.