Mohon tunggu...
Yourkalis Kompasiana
Yourkalis Kompasiana Mohon Tunggu... https://www.youtube.com/channel/UC2diGW2vQTiL9a_mIVtnaSQ

Yourkalis Geographic Youtube Video : https://www.youtube.com/channel/UC2diGW2vQTiL9a_mIVtnaSQ Nasib bangsa ada di tangan anak mudanya Bersatu anak muda, berjaya bangsanya.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Investasi Asing di Indonesia dan Target Indonesia Untuk Masa Depan

22 Januari 2020   06:40 Diperbarui: 24 Januari 2020   03:56 135 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Investasi Asing di Indonesia dan Target Indonesia Untuk Masa Depan
Foto Suasana Malam Hari. Dokpri

Kelemahan investasi asing untuk Indonesia adalah jika modal asing sangat dominan dan tidak terkontrol, ekonomi Indonesia akan semakin melemah di samping jumlah utang Indonesia tidak kunjung berkurang. 

Semakin banyak investasi asing, semakin banyak juga aliran dividen dari investasi itu yang akan mengalir ke luar negeri sehingga turut membebani neraca pembayaran RI yang sering defisit. 

Syukur kalau dividen dalam bentuk rupiah, bagaimana jika bukan rupiah. Selain itu, mengalirnya keuntungan ke luar negeri juga akan membuat permintaan dollar AS meningkat.

Akibatnya nilai tukar rupiah berpotensi melemah. Melemahnya rupiah, dapat menaikkan harga apa saja. Jangan sampai investasi asing membebani Indonesia.

Sedangkan keuntungan investasi asing adalah bahwa Indonesia memperoleh tambahan dana atau modal untuk mewujudkan sebuah proyek atau usaha yang harus digunakan untuk kepentingan negara dan kepentingan rakyat dalam jangka panjang. 

Sementara penanam modal juga memperoleh keuntungannya dalam bentuk dividen atau kesepakatan lainnya yang tidak boleh membebani Indonesia baik dalam bentuk pembayaran maupun tatanan hidup bangsa Indonesia sendiri.

Apa target yang harus dicapai dengan adanya investasi? Investasi yang tidak memiliki target yang jelas adalah ibarat orang yang hidupnya selalu bergantung kepada orang lain.

Oleh karena itu, target utama yang harus dicapai adalah kapan Indonesia tidak bergantung lagi dengan investasi asing sehingga dapat berdiri sendiri dalam menopang ekonomi negara (negara benar-benar berdaulat).

Untuk mewujudkan target tersebut, Indonesia harus segera melunasi utang beserta bunganya dan meningkatkan investasi oleh lokal daripada investasi asing. Sehingga suatu hari nanti, Indonesia tidak hanya menjadi negara tujuan investasi saja, namun Indonesia juga dapat menjadi negara investor untuk negara lainnya dalam mewujudkan dan menjaga kestabilan ekonomi dunia (global).

Berbangga dengan semakin banyaknya investasi asing mungkin dapat diterima. Namun harus diingat bahwa jangan sampai menutup mata terhadap kekuatan negara berupa hukum, lingkungan, agama, dan perdagangan. Artinya jangan sampai hukum, lingkungan, agama, dan perdagangan dibuat menjadi mudah dari yang semestinya sudah  diterapkan dengan baik.

Oleh karena itu, perasaan bangga terhadap investasi tersebut harus diubah menjadi perasaan peduli. Artinya kita tidak hanya memikirkan uang atau modal yang didapatkan saja, namun juga bagaimana pertanggungjawababnnya (target dan realisasinya di lapangan) serta kesanggupan terhadap balik modal dan pembagian dividen dari keuntungan investasi. 

Perasaan peduli inilah yang dapat membawa Indonesia keluar dari ketergantungan investasi dan ketergantungan utang serta ketergantungan yang besar terhadap negara lain. 

Sehingga pada akhirnya, investasi dilakukan bukan karena kebutuhan lagi, tetapi karena ingin mendapatkan keuntungan yang seimbang misalnya 50% 50% (kekuatan tawar menawar). Kekuatan tawar menawar inilah yang dapat memproteksi kebijakan dan hukum di dalam negeri Indonesia baik dalam bentuk undang-undang maupun peraturan yang selama ini sering diubah demi kelancaran investasi. 

Namun sayangnya perubahan ini berpotensi melemahkan keamanan nasional baik dalam bidang hukum, lingkungan, agama, dan perdagangan. Beberapa contoh yang berpotensi melemahkan adalah UU KPK, wacana perubahan undang-undang sertifikat halal, dan beberapa masalah lingkungan (pembebasan lahan yang subur dan pembangunan pabrik di tempat yang tak semestinya).

Sertifikat halal sejatinya berguna untuk menjamin bahwa produk yang beredar dan dikonsumsi lebih aman dan bebas dari penyakit (menular atau tidak menular) serta mencegah menularnya virus yang membahayakan negara yang dapat mengancam keamanan nasional baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

Adapun ekonomi (perdagangan) yang cenderung melambat bukan sepenuhnya karena faktor internal atau eksternal, tetapi karena permintaannya (demand) pada saat itu memang lebih sedikit daripada penawaran (supply) atau jumlah penawaran sudah terlalu banyak jauh melebihi kebutuhan pada saat itu sehingga banyak usaha, toko, dan perusahan yang merugi pada saat itu. Oleh karena itu, pengendalian kuantitas produk dan jasa harus terukur dan penawarannya harus tepat sasaran dan tepat waktu agar tercipta keseimbangan antara penawaran dan permintaan dalam suatu periode dan daerah. Jadi jangan juga berlomba-lomba menghasilkan produk dan jasa sebanyak-banyaknya, namun masyarakat tidak selalu membutuhkannya karena masih ada kebutuhan pokok yang lebih penting dan lebih mendesak daripada kebutuhan sekunder dan tersier tersebut. Jangan sampai juga proyek yang sudah dibangun tadi tidak terpakai atau hanya bisa menjadi pajangan semata.

Bahkan teknologi terbaru yang datang dari luar negeri pun tidak harus diikuti tanpa ada kebutuhan yang jelas. Misalnya jika masyarakat belum membutuhkan jaringan 5G (jaringan selular generasi ke-5), teknologi tersebut jangan digunakan dulu di Indonesia karena harus mengupgdrade infrastruktur yang biayanya tidaklah murah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x