Mohon tunggu...
Junjung Widagdo
Junjung Widagdo Mohon Tunggu... Guru - Guru

Baca buku

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Merdeka dalam Rencana Aksi, Mengajar dengan Hati

19 Agustus 2022   21:04 Diperbarui: 28 Agustus 2022   16:10 154 7 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Photo by Element5 Digital on Unsplash   

Hari ini adalah hari Jum'at, 19 Agustus tahun 2022, 2 hari setelah gegap gempita perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-77. Semoga dengan semangat kemerdekaan ini para guru-guru juga mendapatkan kemerdekaan dalam melaksanakan pembelajaran. Merdeka dalam menyusun rencana aksi dan evaluasi dalam pembelajaran. Bagaimana dengan pembelajaran hari kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi?

Ternyata kami adalah salah satu guru yang belum merdeka. Sering menggunakan rencana aksi dari teman yang berbagi ataupun dari hasil unduh di dunia maya. Hasilnya adalah pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang kami lakukan "terjajah". Definisi terjajah adalah kami menggunakan rencana aksi dan evaluasi milik orang lain saklek, paling-paling hanya modifikasi sedikit pada kolom tandatangan dan nama sekolah saja di isi dengan nama kita dan nama kepala sekolah dimana kita mengajar. Hal ini menjadikan kami melakukan pembelajaran dan penilaian hasil belajar sama sekali tidak melihat siapa apa dan bagaimana kondisi yang akan kami ajar dan kami nilai tetapi mutlak dengan rencana aksi yang telah kami unduh tadi dan pada akhirnya model pembelajaran kita tidak tepat, dan apa yang akan kita ukur melalui penilaian juga tidak akan tepat. 

Tidak mungkin terelakkan bagi kita sebagai guru di era perkembangan teknologi dan informasi yang luar biasa ini untuk tidak mencoba unduh perangkat pembelajaran di internet ataupun berbagi file di whatsapp grup, tetapi bukan itu yang menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah pikiran kita yang masih "terjajah" oleh kemalasan untuk memodifikasi perangkat pembelajaran yang kita unduh untuk disesuaikan dengan kondisi di sekolah. Fatal jika kita hanya unduh lalu setor untuk tandatangan kepala sekolah sebagai legalisasi demi menggugurkan kewajiban untuk penyiapan perangkat pembelajaran pada tiap tahunnya lalu dokumen itu menjadi dokumen yang tersimpan rapi dalam lemari atau loker meja kita, tapi faktanya banyak dari kami yang melakukan demikian. Tidak dipungkiri memang dalam penyusunan rencana aksi dan rencana evaluasi yang matang itu membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang berlebih berikutnya selain faktor tadi beban kami ketika disekolah juga kadang tidak hanya mengajar, sangat kompleks kadang, menjadi tim kesiswaan, menjadi tim adiwiyata, menjadi tim kurikulum dan kadang dari kami juga diberikan amanah sebagai bendahara BOS yang notabene tugas itu harusnya adalah tugas kawan-kawan yang di struktural.

Menjadi guru itu memang luar biasa, harus pintar-pintar membagi waktu antara tugas pokok kita yaitu mengajar, membuat skenario pembelajaran dan membuat rencana evaluasi pembelajaran untuk peserta didik kita di kelas. Tidak mudah kita melaksanakan semua tugas tadi memang, apalagi kita juga harus berbagi dengan tugas-tugas tambahan yang lain, terlebih pada sekolah yang memberlakukan jam full day school, mengajar dari Senin sampai dengan Jum'at, masuk pada pukul 07.15 dan pulang setelah ashar, belum lagi berbagi tugas untuk mengantar jemput anak dan istri pada tiap pagi dan siang hari, apakabar kita pada malam hari? lelah. Kelelahan ini menjadikan banyak dari kami para guru akhirnya terjerumus pada jalan pintas menuju penjajahan pembelajaran, yaitu dengan hanya unduh, edit, kumpul, tandatangani kepala sekolah lalu simpan. Ironi memang, toh nyatanya dengan seperti pola demikian peserta didik tetap mendapatkan nilai dan lulus dengan baik. 

Walaupun mungkin dengan pola seperti di atas siswa tetap mendapatkan nilai dan lulus dengan baik, tetapi ada banyak sisi selain materi yang patut kita berikan kepada peserta didik, dan itu akan menjadi nihil ketika kita tidak melaksanakan penyusunan aksi dan evaluasi secara mandiri dengan melihat kondisi yang ada di sekolah. Dengan menyusun rencana aksi dan evaluasi sebaik mungkin dengan hati maka pembelajaran yang kita sampaikan juga akan masuk ke hati para peserta didik. Dengan hati ini lah kita akan menaruh harapan-harapan ketercapaian pengetahuan, kompetensi dan sikap pada tiap rencana aksi kita. Harapan yang tersemat pada tiap langkah aksi kita ini menjadikan pembelajaran lebih bermakna menjadikan generasi bangsa ini menjadi generasi-generasi yang memikirkan segala tindak tanduk tingkah laku juga dengan hati. Tidak menjadi generasi sumbu pendek yang selalu bertindak tanpa pikir panjang dan hanya mengandalkan emosi tanpa logika yang benar. 

Begitu pentingnya seorang guru hingga pada saat setelah bom Amerika dan sekutunya jatuh di kota Hiroshima dan Nagasaki kaisar Hirohito pun bertanya kepada para jenderalnya yang selamat, berapa jumlah guru yang tersisa, pertanyaan ini membuat para jenderal bingung, karena yang ditanyakan bukan berapa para jenderal yang tersisa setelah pengeboman terjadi justru guru lah yang pertama kali ditanyakan oleh kaisar Hirohito, dan saat ini pun kita bisa melihat bahwa Jepang menjadi salah satu negara yang maju di kawasan asia bahkan dunia, sangat wajar terjadi karena guru lah yang diutamakan, pendidikan lah yang diutamakan. Guru adalah fasilitator transfer berbagai ilmu pengetahuan dan seharusnya etika juga. Maka wajar jika guru harus "merdeka", buat perangkat secara mandiri, mengajar dengan hati juga pandai dalam waktu yang harus dibagi-bagi. 

Salam sehat, salam semangat, semoga refleksi ini adalah refleksi penulis secara pribadi.

Catatan PPG DALJAB Hari ke-26

 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan