Mohon tunggu...
Jumari Haryadi Kohar
Jumari Haryadi Kohar Mohon Tunggu...

Aku lahir di Kotabumi - Lampung Utara, campuran dua suku bangsa dari dua pulau yang berbeda. Ayahku berasal dari Kediri - Jawa Timur, sedangkan ibuku berasal dari Baturaja - Sumatera Selatan. Latar belakang pendidikan di bidang IT dan sempat menjalani profesi sebagai programmer, guru, dosen dan konsultan IT. Terakhir menjadi direktur sebuah perusahaan IT, lalu beralih profesi menjadi penulis sampai sekarang. Menulis adalah pilihan hidupku. Penulis buku, trainer dan motivator adalah profesiku. Selalu merasa haus ilmu dan mau belajar dengan siapa saja. Tidak pernah merasa pintar karena selalu merasa sebagai pembelajar. Indah rasanya hidup ini jika banyak jejak karya tulisku yang bermanfaat bagi orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Media Sosial Bisa Ciptakan Anti Sosial

25 September 2014   19:44 Diperbarui: 17 Juni 2015   23:32 0 2 2 Mohon Tunggu...
Media Sosial Bisa Ciptakan Anti Sosial
1411623507195093569

Oleh: J. Haryadi

Lahirnya media sosial seperti Facebook, Twitter, Google+ dan Blackberry Messenger (BBM) membuat banyak orang bisa terkoneksi satu dengan lainnya dengan mudah, meskipun mereka berada dalam jarak yang berjauhan. Berkat media sosial ini sudah banyak orang yang bisa bertemu dengan teman atau keluarga yang sudah berpisah puluhan tahun lamanya.

Akibat pesatnya kemajuan perangkat telekomunikasi, peran media sosial justru semakin meningkat pula. Pola hidup manusia pun ikut berubah, sehingga alat komunikasi seperti HP, tablet dan laptop seolah-olah tidak bisa jauh dari tangan manusia. Hampir setiap saat mereka mengubah status, mulai dari bangun pagi sampai menjelang tidur malam, gadget sudah menjadi bagian dari hidup mereka yang sulit dipisahkan.

Sekarang kita bisa melihat betapa komunikasi secara fisik, face to face, sudah mulai ditinggalkan. Sekedar contoh, ketika anggota sebuah keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga, masing-masing anggota keluarga asik dengan HP-nya masing-masing (lihat ilustrasi gambar). Mereka sibuk berkomunkiasi dengan teman atau koleganya di dunia maya. Ironinya, orang yang berada di dekatnya justru diabaikan dan tidak diajak bicara.

Fenomena ini juga bisa kita lihat ketika kita sedang berada dalam kendaraan umum seperti kereta api,  angkutan kota atau bus. Hampir semua penumpang sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Dunia maya seakan begitu menggoda mengalahkan kehidupan dunia nyata. Keasyikan berkomunikasi melalui dunia maya sampai mengabaikan bersosialisasi di kehidupan nyata.

Banyak orang yang lebih asyik menyendiri daripada berkumpul bersama keluarga atau temannya di dunia nyata. Ada yang menyendiri di dalam kamarnya. Ada juga yang pergi ke tempat sepi, misalnya di taman, lalu asyik bercengkrama dengan rekannya di dunia maya melalui jejaring sosial. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian kita semua, jangan sampai dunia maya mengalahkan dunia nyata. Seharusnya media sosial bisa melengkapi pergaulan di dunia nyata, bukan justru mengalahkannya sehingga kita menjadi makhluk yang anti sosial di dunia nyata.

***




[caption id="attachment_361599" align="aligncenter" width="700" caption="Sumber ilustrasi (Http://reformedchristianhomeschooling.files.wordpress.com) "][/caption]

Oleh: J. Haryadi

Lahirnya media sosial seperti Facebook, Twitter, Google+ dan Blackberry Messenger (BBM) membuat banyak orang bisa terkoneksi satu dengan lainnya dengan mudah, meskipun mereka berada dalam jarak yang berjauhan. Berkat media sosial ini sudah banyak orang yang bisa bertemu dengan teman atau keluarga yang sudah berpisah puluhan tahun lamanya.

Akibat pesatnya kemajuan perangkat telekomunikasi, peran media sosial justru semakin meningkat pula. Pola hidup manusia pun ikut berubah, sehingga alat komunikasi seperti HP, tablet dan laptop seolah-olah tidak bisa jauh dari tangan manusia. Hampir setiap saat mereka mengubah status, mulai dari bangun pagi sampai menjelang tidur malam, gadget sudah menjadi bagian dari hidup mereka yang sulit dipisahkan.

Sekarang kita bisa melihat betapa komunikasi secara fisik, face to face, sudah mulai ditinggalkan. Sekedar contoh, ketika anggota sebuah keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga, masing-masing anggota keluarga asik dengan HP-nya masing-masing (lihat ilustrasi gambar). Mereka sibuk berkomunkiasi dengan teman atau koleganya di dunia maya. Ironinya, orang yang berada di dekatnya justru diabaikan dan tidak diajak bicara.

Fenomena ini juga bisa kita lihat ketika kita sedang berada dalam kendaraan umum seperti kereta api,  angkutan kota atau bus. Hampir semua penumpang sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Dunia maya seakan begitu menggoda mengalahkan kehidupan dunia nyata. Keasyikan berkomunikasi melalui dunia maya sampai mengabaikan bersosialisasi di kehidupan nyata.

Banyak orang yang lebih asyik menyendiri daripada berkumpul bersama keluarga atau temannya di dunia nyata. Ada yang menyendiri di dalam kamarnya. Ada juga yang pergi ke tempat sepi, misalnya di taman, lalu asyik bercengkrama dengan rekannya di dunia maya melalui jejaring sosial. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian kita semua, jangan sampai dunia maya mengalahkan dunia nyata. Seharusnya media sosial bisa melengkapi pergaulan di dunia nyata, bukan justru mengalahkannya sehingga kita menjadi makhluk yang anti sosial di dunia nyata.

***