Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Menggugat Takdir

10 Mei 2020   08:19 Diperbarui: 10 Mei 2020   08:20 85 14 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menggugat Takdir
sumber pixabay.com

Aku ingin membuat cerita yang berbeda dari para penulis yang namanya hebat-hebat itu. Aku tidak ingin seorang pun terluka ketika membaca cerita-ceritaku.

Tidak ada putus cinta. Tidak ada cinta yang gagal karena ditinggal mati. Tidak ada kisah gadis yang mengorbankan cintanya demi ayah, bayar utang, atau karena perjanjian. Atau pemuda penuh cinta yang dikecewakan karena kekasihnya menikahi orang lain.

Ceritaku harus selalu cerita yang berakhir dengan bahagia. Mereka yang saling mencintai, sudah selayaknya menikah dan bahagia hingga maut memisahkan. Tidak ada perselingkuhan, apalagi perampasan hak, semuanya hidup dalam cinta kasih.

“Ini kisah di surga, apa di dunia Je-de-a?” 

Aku hanya tersenyum ketika teman-teman mulai merasa ganjil dengan cita-citaku itu. Lagipula apa yang salah dengan mimpi-mimpi bahagia. Bukankah hidup sudah sedemikian rumit. 

Kenapa, ketika membaca, menikmati masa-masa paling intim dengan dirinya sendiri pun, orang harus disuguhi dengan kisah-kisah tragis. Sesuatu yang barangkali telah ia alami dalam kehidupan nyata. Begitu sulitkah kita untuk mendapatkan kisah-kisah bahagia? 

Padahal tidak satupun dari kita menginginkan hidup yang rumit dan berakhir tragis. Tidak ada! Tetapi kenapa kita senang memeliharanya dalam pikiran? Siapa yang sebenarnya  ganjil jalan pikirannya, aku atau mereka?

Ini bukan tentang surga! Ini murni keinginan untuk merekonstruksi pikiran manusia. Bukan kisah tentang kejayaan, tetapi selalu berdasarkan pada keberhasilan menguasai, menjajah, menindas dan menundukkan yang lain. Bukan kepahlawanan yang lahir karena proses-proses yang berdarah-darah. Bukan!

Aku mulai berpikir, kenapa kita terus berperang?  Karena manusia mendambakan kejayaan dan memuja kepahlawanan. Karena aku tahu bagaimana sejarah mengkisahkan kejayaan dan kepahlawanan. Keduanya lahir dari proses yang berdarah-darah. 

Peperangan dimana-mana, dan mereka lahir sebagai pemenang. Itulah kejayaan, itulah kepahlawanan. Selama manusia menikmati keberadaannya, perang tidak akan pernah berakhir. Aku benci  perang, maka peperangan tidak akan pernah menghiasi lembaran kisah yang akan kubuat.

Kejayaan dan kepahlawanan, harus dihasilkan dari kisah-kisah yang baru. Aku harus meruntuhkan teori-teori lama tentang kejayaan dan kepahlawanan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN