Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Memberi Efek "Wow" Pada Saat Mengajar

10 Juli 2018   08:00 Diperbarui: 11 Juli 2018   07:15 2542 13 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memberi Efek "Wow" Pada Saat Mengajar
sumber : pixabay.com

Jadi guru di tengah milenial, plus metropolitan, itu susah-susah gampang. Apalagi berbekal latar belakang kehidupan ndeso. Jaraknya kok semakin jauh, selain usia. Ada begitu banyak hal yang bikin nggak klop.

Jauh dari kata nyambung. Tetapi, ini justru tantangannya. Karena bagi saya, mengajar itu seni (disini penjelasannyanya ).  Jadi tidak ada salahnya menyanyikan lagu  the light is coming-nya Ariana Grande dengan gamelan komplit.

Di tulisan terdahalu, saya menulis, humor bisa menjadi penghubung. Antara dunia milenial (anak zaman now) dengan generasi lapuak (zaman old).  (bisa dibaca disini ).  Meski humornya juga harus selektif. Ngikuti trend zaman. 

Adakalanya humor yang nggak njamani malah jadi norak. Kata generasi sebelum ini, jayuz. Alias garing. Lucu sendiri bagi yang punya cerita, yang lain bingung cari-cari alasan; lucunya dimana?

Selain belajar materi yang kata Pak mentri mengikuti perkembangan zaman, pasti tidak semakin mudah. Untuk menyampaikan materi itu pun, guru mesti belajar. Kadang bagian yang ini jadi lebih berat

Save saja masih sering lupa, ini program word buat tulis soal saja sudah berubah-ubah seenaknya. Apalagi model-model program buat presentasi. Mulai dari yang pakai gambar bisu sampai gampar ngomong juga sudah tersedia. 

Baru mau sombong satu model mulai dikuasai, lah kok ada model terbaru lagi. Idenya bikin mudah, tapi malah bikin belajar nggak udah-udah. Mudah-mudahan tuh para programmer nggak pada kualat sama gurunya.

Ini baru soal alat bagaimana materi disampaikan. Belum bagaimana kedalaman materinya dikaji, sekaligus dievaluasi. Nyampek nggak itu materi. Secanggih apapun alat, kalau hasil evaluasi tidak menunjukkan siswa ngerti. Hari-hari berlalu di depan kelas rasanya jadi sia-sia.

Faktornya banyak. Paling gampang sih nuduh, anaknya malas belajar. Tetapi itu tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Padahal materi sudah disampaikan menggunakan alat alat peraga dan media yang mengikuti perkembangan zaman. 

Tetapi itu tetap tidak dapat memberi jaminan kepastian. Anak pasti mengerti apa yang diajarkan oleh guru. Tidak juga mesti membangun ekspektasi, semua anak ngerti. Ada aturan main dan prosentasenya.

Di era milenial, ada begitu banyak hal yang merebut perhatian siswa. Tidak peduli sewaktu berada di kelas ataupun di luar kelas. Internet benar-benar merevolusi peradaban. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x