Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Belajar Sejarah Itu Asyik dan Bisa Bikin Kreatif

18 Juni 2018   08:00 Diperbarui: 18 Juni 2018   10:26 0 6 6 Mohon Tunggu...
Belajar Sejarah Itu Asyik dan Bisa Bikin Kreatif
pixabay.com

Ketika saya bertanya, apa yang terbersit dalam pikiranmu ketika mendengar kata sejarah? Seisi kelas nyaris kompak menyebutkan tiga hal; angka tahun, nama tokoh dan nama tempat. 

Pertanyaan saya lanjutkan, senang tidak belajar sejarah. Kelas sepi. Yang terlihat hanya senyuman menyembul diantara para penghuni kelas  itu. Belum ada jawaban, pertanyaan kembali saya lanjutkan. Penting nggak sih belajar sejarah. Mulai ada yang jawab, penting sih, tapi..., sambil garuk kepala lantas dia juga tidak melanjutkan. Melihat reaksi mereka, saya hanya tersenyum.

Penting, namun mengapa pakai kata tapi? Ini menggelitik pikiran. Meski kata itu sering saya dengar, terutama dari mereka yang baru pertama kali mengikuti pelajaran bersama saya. Untuk menuntaskan penasaran pada apa yang mereka pikirkan, kembali saya bongkar pengetahuan mereka tentang pelajaran yang saya ampu ini.

Abaikan dulu kata tapi, apa yang membuat kamu bisa bilang jika sejarah itu penting? Untuk apa? Begitulah kemudian saya bertanya. Untuk bisa mengetahui apa yang pernah terjadi di masa lampau. Kita bisa tahu perjuangan para pahlawan. Begitulah jika saya simpulkan dari beberapa jawaban para penghuni kelas itu. Tidak keliru, namun masih perlu dilengkapi.

Membaca judul di atas, barangkali ada yang ganjil terbersit dalam pikiran. Bukankah selama ini saat belajar sejarah di sekolah, kita sering berkutat dengan sesuatu yang monoton. Cenderung membosankan. 

Hafalin nama tokoh, nama tempat dan yang paling menyedihkan harus mengingat angka-angka. Tanggal yang tak ada rumus pembagi atau pengurangnya, pokoknya hafal mati, titik! Jauh dari kata kreatif yang tertera di judul. Jawaban para siswa di kelas semakin menegaskan pendapat saya itu.

Pada tulisan ini, saya mengajak pembaca berpikir berbeda dari apa yang selama ini dimengerti tentang pelajaran sejarah. Memang tidak mudah, namun tidak ada salahnya. Perlahan mencoba menelusuri, mencari tahu tentang apa dan bagaimana sebenarnya sejarah atau pelajaran sejarah itu semestinya dipelajari.

Sejarah Itu Hasil Rekonstruksi Masa Lalu

Objek kajian sejarah adalah masa lalu, utamanya berkenaan dengan apa yang dilakukan, dipikirkan dan dihasilkan oleh manusia. Mengapa harus dipelajari? 

Ini berkaitan dengan kepentingan masa kini, setidaknya agar manusia mengerti dan memahami keberadaan dirinya. Karena apa yang terjadi di masa kini sangat berkaitan dengan apa yang telah dilakukan oleh manusia di masa lalunya. Bagi masa depan setidaknya hal tersebut dapat dijadikan acuan atau pembelajaran. Sehingga kualitas hidup manusia dari waktu ke waktu menjadi lebih baik.

Berdasarkan hal tersebut maka poin utama dalam mempelajari sejarah adalah belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Kehidupan manusia di masa lalu sebagai sumber belajarnya. Seperti pepatah bilang "pengalaman adalah guru terbaik."

Rentang waktu masa lalu sebagai objek kajian sejarah tidak terbatas. Sejam, sehari, seminggu, sebulan, setahun, seabad, seribu atau bahkan sejuta tahun yang lalu, semuanya adalah masa lalu. Sementara kita, sebagai orang yang mempelajari peristiwa di masa lalu tersebut hidup di masa sekarang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3