Mohon tunggu...
Asaf Yo
Asaf Yo Mohon Tunggu... Guru - mencoba menjadi cahaya

berbagi dan mencari pengetahuan. youtube: asaf yo dan instagram: asafgurusosial

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Gara-gara Warisan: Film Keluarga karena Orangtua yang Pilih Kasih

26 Juni 2022   00:07 Diperbarui: 26 Juni 2022   00:18 3144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hal yang sama juga terjadi pada Laras. Semua kebutuhan Dicky selalu terpenuhi oleh ayahnya. Ada adegan dimana ayahnya transfer uang untuk Dicky yang katanya untuk biaya kuliah namun dipakai oleh Dicky untuk beli Narkoba. Dua kakaknya mengetahui bahwa adiknya adalah pengguna Narkoba namun percuma untuk berdebat karena ayahnya tidak akan pernah mau tahu akan hal ini dan selalu berpikir bahwa Dicky adalah anak yang baik atau akan berubah menjadi anak yang baik.

Pada bagian itu, aku merasa gregetan sih melihat ayahnya kenapa terlalu memanjakan Dicky padahal jelas-jelas Dicky itu pecandu narkoba. Baru ketahuan pada satu momen mengapa Dahlan begitu memanjakan anak bungsunya itu. Dia berusaha menebus rasa bersalahnya kepada Dicky karena sewaktu bayi dia merokok dekat dengan Dicky sehingga membuat Dicky akhirnya sakit-sakitan. 

Penebusan rasa bersalah itu diwujudkan dengan memberikan apapun yang diinginkan oleh Dicky dan mengabaikan dua saudaranya yang lain. Sementara itu Laras sendiri begitu benci dengan ibu tirinya yang diperankan oleh Ira Wibowo. Baginya ibu tirinya tidak bisa menggantikan peran ibunya dan menurutnya, gara-gara ibu tirinyalah, maka Dahlan ingin menjual GH tersebut.

Pada momen itu aku berpikir mungkin benar jangan-jangan memang ibu tirinya itu ibu tiri yang matre, yang menikahi Dahlan hanya untuk mendapatkan harta kekayaannya saja. Tapi melihat karakter ibu tirinya dari awal sampai pertengahan kok tidak menunjukkan kelicikan ala ala peran antagonis gitu wkwkwkwk , jadi ini pasti jebakan. Dan ternyata memang benar dugaanku, bahwa itu semua merupakan persepsi dari Laras sendiri yang sejak awal sudah tidak menyukai kehadiran Ibu tirinya, sehingga berpikir keputusan apapun yang dibuat oleh Dahlan itu pasti karena bujuk rayu dari ibu tirinya itu.

Sosok Dicky yang diperankan ge Pamungkas adalah sosok yang bikin kita semua menjadi geregetan. Disatu sisi, tokoh ini adalah tokoh yang memiliki talenta sebenarnya dibidang music. Yah, karena dia anak band. Tapi disisi lain pergaulan yang bebas dan uang yang begitu mudah didapat dari ayahnya membuat dia akhirnya terjebak dalam pecandu narkoba, termasuk dia akhirnya dijebak oleh gembong narkoba agar bisa mendapatkan GH Dahlan. 

Itu beneran bikin greget, kok bisa sebodoh itu sih ini anak. Tapi kalau dipikir-pikir, andaikan dia tidak gampang ditipu sama gembong narkoba yang diperankan oleh Lukman Sardi, ya film itu sudah selesai dunk, hahahahaha.

Berbagai latar belakang dan konflik yang ada saat mereka berkumpul di GH akhirnya bisa terurai satu persatu. Tapi ada bagian yang bikin aku gregetan, mengapa Dahlan begitu ngotot untuk tidak meminta donor hati kepada anak-anaknya, padahal dokter mengatakan bahwa itu tidak masalah dan hati yang terpotong dari anaknya bisa pulih dengan sendirinya. 

Pada bagian ini, aku merasa penulis naskah berusaha agar dramanya lebih mengena dengan sikap keras kepala Dahlan yang tidak ingin melukai anak-anaknya dan siap dengan risikonya. Tapi disisi lain ya greget aja sih. Kalau bisa mendapatkan cara yang gampang dan tidak berbahaya mengapa harus dibuat sedrama itu. 

Bagi saya sih, bukannya membuat saya menjadi iba dengan sosok Dahlan tapi malah menganggap Dahlan adalah sosok yang mencoba menjadi superhero, sok pahlawan gitu. Tapi ya tidak-apa, kan ini menurutku, jadi ya sesuai dengan yang aku rasakan dan aku lihat dunk, wkwkwkwkwk.

Istrinya Adam (lupa aku siapa yang meranin ya) juga secara tidak langsung menyindir masyarakat kita yang menganggap bahwa sekolah swasta itu lebih baik daripada sekolah negeri. Sekolah swasta dengan bahasa asingnya itu lebih baik daripada sekolah negerinya. 

Apalagi dia melihat  anak tetangganya (yang tidak bisa dijadikan referensi utama sih) suka berbicara kotor dan kasar. Akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwa anak-anak yang masuk di sekolah negeri itu pasti seperti itu. Padahal ya tidak juga. Banyak juga anak-anak yang sekolah di sekolah swasta dengan label internasional juga memiliki perilaku yang buruk dan tidak bisa menjadi contoh yang baik

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun