Mohon tunggu...
Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Mohon Tunggu... Guru - Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku

Guru SDM Branjang (Juli 2005-April 2022), SDN Karanganom II (Mei 2022-sekarang) Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Perbedaan Antara Murid Zaman Dulu dan Murid Zaman Now

30 Agustus 2022   07:58 Diperbarui: 30 Agustus 2022   08:02 39607
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mempelajari tentang kurikulum merdeka melalui platform Merdeka Mengajar tentu membutuhkan waktu dan kesabaran tinggi. Tak jarang guru-guru mengulang modul dalam bentuk video atau file lain, jika pada saat mengisi post test ternyata belum lolos. 

Materi kedua yang saya pelajari adalah tentang Kurikulum Merdeka. Ada beberapa refleksi yang coba saya ulas di sini. 

Ada sebuah refleksi yang harus dituliskan. Pertanyaan pertama, jika dibandingkan saat Ibu dan Bapak Guru menjadi murid dahulu dan murid-murid sekarang, hal apa saja yang berbeda?

Tentu saja saya menjawab sesuai pengalaman selama sekolah maupun sudah bekerja di instansi sekolah. Saya membandingkan perbedaan tidak secara menyeluruh. Saya yakin, setiap guru atau orang memiliki pandangan tersendiri tentang perbedaan saat menjadi murid dibandingkan dengan murid-murid zaman now.

Tahun 1998an saya mulai masuk SD swasta. Di sana ada Bu Binti yang sabar membimbing agar para siswa baru di kelas 1 bisa membaca. Tentunya pelajaran membaca masih menggunakan teks "Ini Budi" yang melegenda itu. Pengenalan huruf masih dipelajari pada awal masuk kelas 1. 

Tentu saat itu saya belum memahami apa maksud dari kurikulum, RPP, dan sebagainya. Tapi saya ingat, dulu adanya istilah GBPP. Itu saya ketahui dari perangkat pembelajaran yang dibuat ibu. Lagi-lagi saya kurang paham tentang kurikulum. Tahunya hanya belajar, gurunya memberikan materi pelajaran, baik itu menulis, membaca dan berhitung.

Sedangkan beberapa tahun terakhir, kurikulum yang dipergunakan sebagai acuan pembelajaran adalah Kurikulum 2013. Dalam buku, teks pelajaran sudah bermacam-macam sehingga tak jarang membuat orang tua siswa sudah bingung duluan ketika anaknya yang baru masuk SD ternyata belum bisa membaca. Bahkan hafal huruf alfabet saja ada yang kesulitan.

Mau tak mau orangtua siswa mendaftarkan putra/putrinya untuk les privat atau bimbingan belajar agar anaknya bisa membaca dengan lancar.

Perbedaan kedua, materi untuk tingkat SD sudah cukup sulit. Di semua mata pelajaran. Bahkan ada salah satu sahabat saya yang sering curhat kalau dia kesulitan dalam mendampingi buah hatinya untuk belajar.

"Materi pelajaran sudah sangat beda dengan materi saat saya sekolah ya, Bu" curhatnya. Saya tersenyum. Saya paham bahwa orang tua akan kesulitan membantu putra/putrinya dalam belajar. Apalagi saat masa pandemi mengharuskan anak belajar di rumah. Hampir dua tahun para siswa kurang sentuhan dari guru mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun