Mohon tunggu...
Jonny Hutahaean
Jonny Hutahaean Mohon Tunggu... tinggi badan 178 cm, berat badan 80 kg

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Covid-19 Menunjukkan Siapa kita

23 Maret 2020   11:02 Diperbarui: 23 Maret 2020   11:14 123 2 1 Mohon Tunggu...

Wabah, penyakit apapun itu, endemi atau pandemi, selalu menginfeksi dua bagian dari setiap diri manusia, tubuh (fisik) dan pikiran. Vektor wabah menginfeksi tubuh, berita wabah menginfeksi pikiran. Kecepatan menginfeksi pikiran lebih cepat dari dari kecepatan menginfeksi tubuh. Wabah COVID 19 juga sama. Jumlah pikiran yang terinfeksi jauh lebih banyak dari jumlah tubuh-tubuh yang terinfeksi.

Tubuh yang terinfeksi menunjukkan ciri yang jelas. Katanya, setelah masa inkubasi 14 hari (besaran waktu yg 14 hari inipun tdk pasti, sebab banyak yang mengatakan lain), demam, batuk, flu. Tetapi tidak ada masa inkubasi untuk menginfeksi pikiran, dan tidak ada metodologi medis untuk mendeteksi pikiran yang terinfeksi. Sebabnya, ciri-ciri pikiran yang terinfeksi sangat personal, tiap orang menunjukkan gejala yang berbeda.

Memang ada gejala yang umum, yaitu kegilaan untuk men-share apapun tentang wabah. Sebuah tulisan yang judulnya mentereng, "Menangkal Virus Corona", dalam ukuran detik langsung tersebar ke seluruh ponsel yang ada, semua men-share ke semua, sepuluh detik kemudian sudah di-share kembali ke penulis artikel tersebut. Tampaknya yang terjadi adalah, tanpa membaca langsung men-share. Sebab isi tulisan itu hanya begini : "kematian adalah takdir yang sudah ditentukan oleh Allah, maka terimalah keadaan".

Infeksi lainnya adalah paranoid. Hand sanitizer habis diborong, apa lagi masker hingga kini lenyap tak berbekas. Begitu ada yang men-share bahwa jahe baik untuk menangkal virus, jahe lenyap dari pasar-pasar. Sering-seringlah cuci tangan, katanya, maka hand soap lenyap dari rak-rak di semua swalayan. Infeksi paranoid ini dimanfaatkan betul oleh orang yang terinfeksi ketamakan. Orang ini, dengan sangat tega sekali, menjual masker bekas pakai. Orang ini juga yang memborong masker lalu mengekspor ke luar sana, tentu dengan harga yang kelewat tinggi.

Karena immunitas tubuh yang baik, ada sedikit orang yang kebal terhadap infeksi fisik COVID 19. Nah, ada juga banyak orang yang kebal terhadap infeksi pikiran COVID 19 ini. Bukan karena immunitas pikirannya sangat hebat, tetapi justru karena kebebalan dan ketengilan yang luar biasa. 

Pemda menutup tempat wisata dan hiburan untuk mengurangi keramaian dan memutus sedikit rantai penyebaran virus, eh malah orang-orang tengil ini berkerumun ramai-ramai menuju puncak di Bogor sana. Bahkan, mantan petinggi di negara ini bertanya sarkastis, mengapa kita membuat masjid seolah-olah menjadi sumber penyebaran virus?. Itu untuk menanggapi anjuran pemerintah dan MUI untuk tidak melakukan shalat jumat berjamaah.

Pra-infeksi, infeksi pikiran sebelum wabah benar-benar melanda negeri ini. Ketika berita wabah di China meledak, sementara di sini belum ditemukan (karena tidak dicari?) satu orangpun yang terinfeksi virus brengsek ini, sejumlah orang di negara ini sudah mengalami infeksi pikiran awal, keangkuhan. 

Virus itu adalah tentara Allah yang dikirim untuk membinasakan negara, karena negara itu hendak membinasakan umat tertentu. Kita tidak akan mengalami wabah karena negara kita negara tropis, kata orang lain yang juga menderita pra-infeksi. Kedua orang penderita pra-infeksi itu kini terdiam bungkam.

Infeksi pikiran yang paling menyakitkan adalah kebingungan. Informasi laksana air bah mendera tiap mata dan telinga, dan hebatnya banyak di antara informasi itu saling bertolak belakang dan semua mendaku diri dari sumber yang sah dan resmi. Infeksi pikiran berupa kegilaan untuk men-share apa saja tentang wabah membuat setiap kepala dihujani dan dijejali berita laksana tsunami. 

Orang-orang menjadi linglung, tidak tau mana yang benar, mana yang bisa dipercayai, siapa yang layak dipercayai. Orang tidak tau hendak bertanya ke mana dan ke siapa. Pada masa seperti ini, stasiun TV justru panen duit.

Kematian akibat demam berdarah lebih tinggi dari kematian akibat corona, kata pejabat anu. Kematian akibat influenza lebih tinggi dari akibat corona, kata yang lain lagi, kenapa harus takut dan panik?. Lantas banyak yang menjadi bingung, kenapa virus corona membuat sejumlah negara harus mengambil kebijakan beresiko tinggi dan sangat menyakitkan, lock down, sementara virus influenza tidak seperti itu, dan juga demam berdarah belum pernah menyebabkan Jakarta harus mengalami lock down, kenapa? Nah, tidak ada yang menjawab, makin bingunglah kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN