Jonny Hutahaean
Jonny Hutahaean wiraswasta

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Kencing Setan dan Energi Ramah Lingkungan

6 Desember 2017   15:09 Diperbarui: 6 Desember 2017   15:12 1040 0 1

Pada zaman kerajaan Yunani kuno, minyak bumi mendapat julukan yang seram, cairankencing setan. Warnanya yang hitam dan sangat bau menjadi alasan julukan yang seram itu. Rakyat Yunani sering menaburkan cairan kencing setan itu sepanjang sisi kiri dan sisi kanan jalan menuju istana raja lalu menyulutnya dengan api. Jalan ke istana menjadi benderang, dan istana tampak jelas di malam yang pekat dan gulita itu. Satu-satunya kegunaan cairan kencing setan itu ya hanya itu.

"1. Perjalanan nasib Kencing Setan

Perkembangan teknik permesinan yang dipicu oleh revolusi industri, yaitu ditemukannya teknologi combustion internal pada bidang permesinan, serta-merta mengubah nasib cairan kencing setan itu menjadi mutiara hitam, lalu naik kelas menjadi emas hitam, dari barang najis menjadi harta karun yang diburu dan dicari segala bangsa ke semua pelosok bumi. Telah terjadi banyak perang antar bangsa, dan mungkin masih akan terjadi,  hanya untuk memperebutkan emas hitam, si kencing setan ini.

Kini, takterbayangkan bagaimana roda perekonomian dunia akan berputar tanpa kehadiran emas hitam ini. Wilayah yang kandungan deposit kencing setannya banyak mendadak menjadi negeri makmur sentosa. Si kencing setan menjadi sumber energi utama penggerak roda ekonomi seluruh dunia, bukan cuma itu, emas hitam juga menjadi kekuatan politik penekan yang sangat ampuh, politik minyak.

Daya hipnotis si kencing setan yang begitu kuat, membuat mata manusia tertutupi labirin nafsu, dan terlambat menyadari bahwa ekstraksi energi dari emas hitam yang massif dan kolosal ternyata membawa dampak sangat buruk terhadap lingkungan, bahkan menuju terancamnya eksistensi manusia itu sendiri. Emisi gas dan partikulat pada skala yang super massif ternyata memicu perubahan iklim global, kini menjadi masalah besar yang mesti dihadapi. Kesadaran yang sangat terlambat, yang datang di saat ketergantungan terhadap kencing setan sudah tidak mungkin ditanggalkan, atau bisa ditanggalkan hanya jika cadangan kencing setan di perut bumi sudah habis tuntas dikeruk dan dibakar.

Dari barang najis menjadi barang berguna, lalu menjadi primadona, lalu menjadi terdakwa perusak lingkungan, perjalanan nasib si kencing setan mirip seperti rolling-coaster.

Maka saya mengajukan hipotesis bahwa akan selalu ada dampak yang unpredictable yang ditimbulkan oleh kegiatan ekstraksi energi, dari sumber apapun itu.

'2. Akhir Nasib (?)

Kini berbagai bangsa sibuk mencari sumber energi alternatif, diimbuhi oleh energi terbarukan, ditimpali pula dengan energi ramah lingkungan. Jelas bahwa pendorong utama usaha ini bukanlah kecintaan terhadap lingkungan, tetapi kekhawatiran pada malapetaka ekonomi di masa depan. Bayangkan jika deposit kencing setan telah habis tuntas, sementara sumber energi lain belum ditemukan atau belum diciptakan, malapetaka besar-besaran yang mungkin tidak sanggup ditanggung oleh umat manusia beserta keserakahannya, akan terjadi dan sangat mengancam.

Banyak jenis energi alternatif yang sudah disebut-sebut dan dalam skala kecil-menengah sudah terwujud. Misalnya energi panas bumi, tenaga hidro, energi bayu (angin), energi surya, energi potensial air terjun, dan lain-lain. Bauran dari semua energi alternatif itu nyata-nyata tidak berdaya menggeser kecintaan manusia akan cairan kencing setan. Akhir kiamat bagi kencing setan hanya jika depositnya sudah nol, tandas tuntas dihisap dari perut bumi.

'3. Energi Ramah Lingkungan

Kehebatan dari biosfer adalah dia memiliki mekanisme otomatis menyehatkan diri, suatu keajaiban alam. Tetapi tentu saja kemampuan menyehatkan diri itu ada batasnya. Pemahaman umat manusia perihal kemampuan ajaib biosfer untuk menyehatkan diri sendiri secara otomatis menjadi pengetahuan krusial jika hendak menjaga agar biosfer tetap sehat. Biosfer yang sakit menjadi hari kiamat buat umat manusia.

Frase energi ramah lingkungan itu sedikit membingungkan saya dan mungkin menyesatkan yang lain, apa yang dimaksud dengan ramah lingkungan?, tidak merusak lingkungan, atau tidak mencemari lingkungan, atau justru membuat lingkungan menjadi lebih baik, atau apa?. Pemahaman terbaik saya terhadap fraseenergi ramah lingkungan saya tempatkan pada bingkai batas kemampuan biosfer untuk menyehatkan diri sendiri. Selama biosfer masih mampu menanggung dampaknya, maka energi terebut masuk kategori ramah lingkungan. Jadi energi ramah lingkungan tidak bergantung pada jenis sumbernya, tetapi pada skala penggunaannya.

Kencing setan alias minyak bumi, energi fosil, tidak memberikan dampak buruk apapun apabila level pemakaiannya, dan karena itu pertikulat dan gas yang diemisikannya, berada pada batas-batas kemampuan biosfer untuk menyehatkan diri sendiri. Masalah baru timbul saat level ekstraksi energi dari kencing setan ini melampaui batas daya tahan biosfer untuk menyehatkan diri sendiri, dan itulah yang sudah terjadi dan akan terus dalam jangka waktu yang masih lama, yang dampaknya mulai kita tuai dan kita sesali, dan tidak berdaya mengubahnya kecuali hanya di ranah wacana.

'4. Semuanya Ramah dan Juga Tidak Ramah

Lalu bayangkanlah impian utopis manusia untuk menggantikan energi fosil (minyak) dengan sumber melimpah-ruah dan mudah diperoleh di bumi, yaitu air, berhasil dengan gilang gemilang diwujudkan melalui penguasaan teknologi. Dua pertiga permukaan bumi adalah permukaan air, sangat menarik. Lalu apa dampak yang unpredictable itu?

Mobil anda berhenti di tepi sungai dan mengisi penuh tanki mobil dengan air, anda hanya perlu sebuah gayung, masalah selesai, perjalanan bisa dilanjutkan. Hebatnya lagi, mesin mobil anda hanya akan mengemisikan uap air, atau mengemisikan gas hidrogen, atau mengemisikan gas oksigen. Ramahkah itu terhadap lingkungan?

Tetapi mungkin semua sungai akan kita bendung dan mendirikan pabrik di sana, mungkin di semua tepi pantai akan kita bangun pembangkit listrik, dan karena murahnya bahan bakar air itu maka setiap orang akan fokus agar memiliki sebuah mobil untuk dirinya sendiri.

Jadi pada akhirnya manusia akan menjejali biosfer dengan uap air, gas hidrogen, dan gas oksigen, pada skala yang sangat massif. Hingga kini manusia belum tahu apa dampak buruk jika kadar uap air, kadar gas hidrogen, dan kadar gas oksigen di biosfer meningkat secara drastis. Sebagai catatan, saat percobaan peledakan bom atom yang pertama (Trinity), ada kekhawatiran bahwa energi yang sangat besar yang dihasilkan dari ledakan bom  akan membakar atmosfer (gas oksigen) dan memicu kebakaran berantai yang akan membakar seluruh atmosfer. Kekhawatiran itu muncul saat kadar gas oksigen di udara sekitar 28%. Apa yang akan terjadi jika kadar gas oksigen meningkat menjadi 40%?, kita belum mengetahuinya.

Seperti juga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang mengekstrak energi dari energi potensial air terjun. Apa dampak terhadap siklus hidrologi apabila semua sungai yang ada kita bendung untuk keperluan PLTA?, kita juga belum mengetahuinya. Yang kita sudah paham adalah bahwa siklus hidrologi adalah salah satu nyawa biosfer, artinya jika siklus hidrologi mati maka biosfir juga mati. Dan jika biosfir mati? ...

Kita lanjutkan, jika semua tiupan angin kita cegat untuk menggerakkan turbin listrik, itu pasti mengubah pola aliran udara. Kita manusia belum mengetahui apa dampaknya terhadap iklim, yang kita sudah ketahui adalah bahwa aliran udara yang kita sebut angin itu adalah salah satu komponen pembentuk cuaca.

Dan kemudian semua sinar matahari yang terpapar ke bumi, atau katakanlah sebagian terbesar, kita konversi menjadi energi listrik, kita juga belum mengetahui dampaknya kepada siklus energi di atmosfer, terutama di biosfer. Jika seluruh permukaan gurun pasir kita tutup dengan sel surya, pasti ada dampak merugikan yang belum kita ketahui.

Sebagian besar arus laut kita konversi menjadi listrik, hal itu pasti mengakibatkan perubahan pola arus laut. Kita belum mengetahui dampak dari perubahan itu.

Apapun jenis sumber energi yang diekstrak, jika masih berada pada batas kemampuan biosfer untuk menyehatkan diri, maka energi itu dapat digolongkan sebagai energi ramah lingkungan. Tetapi menjadi tidak ramah, atau berbahaya, jika ekstraksi energi itu melewati batas daya tahan biosfer.

Sebabnya, tidak mungkin bagi manusia untuk mengangkangi Hukum Kekekalan Energi.