Ekonomi

Kerugian Garuda: Saatnya Clean Up BUMN

7 September 2017   09:31 Diperbarui: 7 September 2017   10:15 707 0 0

Oleh: Jon A. Masli, Penggiat Go Public & Investasi

Judul ini terinspirasi ketika dalam penerbangan stop over di Beijing ke Los Angeles dengan Air China, berdasarkan informasi yang kami terima dari breaking news dari stasiun televisi swasta bahwa Ibu Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan dicecar oleh para anggota DPR Komisi VI bidang BUMN tentang kerugian Garuda Indonesia sebagai flagship kebanggaan RI. Kerugian Garuda per semester I tahun 2017 ini cukup signifikan sebesar Rp3,7 trilun atau $283,8 juta. Ada keanehan disini, mengapa bukan Menteri BUMN yang dicecar oleh Komisi VI, dan mengapa pula bukan Pahala Mansury yang merupakan CEO GARUDA yang paling bertanggung jawab.

Memang nilai perusahaan Garuda sejak Go Public sampai sekarang sudah masuk dalam kelas papan atas perusahaan penerbangan, hampir mendekati perusahaan penerbangan Singapura SQ yang lebih besar armadanya dibanding Garuda. Namun, kerugian sebesar Rp.3,7 Triliun atau $283,8 juta ini sangat mengagetkan karena merupakan kerugian tertinggi dalam sejarah Garuda dan tertinggi juga dibanding dengan kerugian 24 BUMN- BUMN lain tahun ini. Makanya kerugian Garuda masuk ke kategori hot topic breaking news.

Kami tidak bermaksud menganalisa apa komentar Pak Roy Suryo, pakar IT dan anggota DPR komisi VI yang normatif menanyakan mau dibawa kemana BUMN Garuda yang sudah go public ini. Tapi kami sebagai penggiat perusahaan Go Public dan investasi berhasrat ingin berbagi pendapat tentang mengapa Garuda harus menyalahkan harga avtur yang tak terkendali dan pembayaran Tax Amnesty sebagai pemicu kerugian perusahaan sampai Rp. 3,7 T. Sebagai sebuah perusahaan Go Public dan BUMN yang selama ini kita banggakan, Garuda adalah aset nasional yang kita seyogyanya kita pedulikan bersama.

Masih terbersit diingatan kita ketika pada tahun 2015 diberitakan rencana Garuda menambah armada baru berbadan lebar, sempat terjadi perbedaan pendapat yang hangat diperdebatkan. Mantan Menko Maritim, Pak Rizal Ramli juga mengingatkan Direksi Garuda untuk mengurungkan rencana pembelian armada baru tersebut karena akan menambah beban operasional dan hutang yang sudah mencapai Rp. 39,6 T. Alasan beliau ternyata tidak meleset, bahwa pembelian armada akan membebani biaya operasional Garuda dan mengancam kebangkrutan.

Dimata pemegang saham perusahaan yang sudah go public, manajemen Garuda patut disayangkan secara moral telah melanggar Good Corporate Governance mengingat sudah adanya analisa resiko bahwa bila menambah armada dengan ketidakpastian load factor, yang mana bahan bakar adalah fixed cost dari setiap penerbangan, perusahaan akan merugi. Namun, Direksi tetap mengakomodir dengan penuh percaya diri.Dari kedua alasan utama yang dipaparkan CEO Garuda tentang penyebab kerugian Garuda, AVTUR dicap sebagai pemicu penyebab kerugian itu.

Ini adalah kambing hitam yang patut dikembalikan ketanggung jawab Para Direksi dan Komisaris yang memutuskan membeli armada baru yang akhirnya menambah beban operasional. Mereka inilah yag membuat keputusan pengadaan tambahan armada tanpa mempertimbangkan dengan seksama kajian dan saran dari pakar manajemen internal BUMN maupun external dari kalangan pasar modal waktu itu yang mengingatkan untuk menahan diri agar tidak perlu menambah armada mengingat harga Avtur yang tidak terkendali dan persaingan dengan low cost carrier yang kian intense serta beban hutang yang hampir Rp.40Triliun dengan beban bunga. 

Lagi pula Garuda masih termasuk pendatang baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Kecerobohan pengadaan armada baru bukan saja membuat beban pembiayaan bahan bakar melesat drastis, ternyata langkah ini tidak diimbangi dengan strategi terobosan pengembangan usaha pasar dengan model bisnis yang lebih inovatif, malah Garuda bereuphoria dengan bangganya mengiklankan armada baru dan berbagai kegiatan pencitraan menerima penghargaan The Best Cabin Crew, The best CEO BUMN, the best ini itu bermimpi terbang tinggi dibawah komando CEO dari Bank Mandiri. Sementara persaingan pasar kian intense dengan adanya terobosan aliansi global network seperti Star Alliance, oleh perusahaan- perusahaan penerbangan full service internasional seperti Qatar, Etihad, Emirates, Eva, etc termasuk Hainan Airlines, pendatang baru yang masuk peringkat 9 perusahaan penerbangan terbaik dunia mengalahkan Garuda diperingkat 10.

Tidak hanya Mantan Menko Maritim & Sumber Daya, Rizal Ramli yang melihat rencana pengadaan armada tambahan dengan dalih pengembangan usaha, tanpa dasar strategi pengembangan usaha yang matang, akan memberatkan beban usaha Garuda, para penasihat internal BUMN dan analis bursa saham pun sempat memprediksi Garuda bakal merugi berat bila biaya operasional membengkak karena tambahan armada. Merekapun wanti- wanti dalam kondisi sekarang yang ruginya demikian besar, ada kemungkinan didelisting bila dalam waktu 6 sampai 9 bulan kedepan Garuda tidak dapat menunjukkan perbaikan kinerjanya.

Isu ketidak efisiensi manajemen juga perlu menjadi perhatian, karena anggota Direksi yang jumlahnya Sembilan orang ini sangat tidak lumrah dibandingkan dengan perusahaan- perusahaan penerbangan internasional pada umumnya, yang rata- rata hanya lima orang namun efektif.

Dimata para pemegang saham Garuda, mereka masih berharap Garuda dapat bangkit seperti kompetitornya. Menurut mereka ada banyak kemiripan dan perbedaan antar SQ dan Garuda, dengan asumsi bahwa keduanya milik BUMN yang sudah go public. SQ berarmada dan mempunyai rute yang lebih besar, dibantu dengan dana oleh lembaga keuangan dan pemerintah Singapura. Garuda, tidaklah demikian halnya, dan tidak sekredible reputasi SQ yang dinakhodai oleh BOD yang handal dan professional. Reputasi Garuda sempat goncang di Bursa Efek Indonesia ketika kasusnya Ex CEO Garuda Emirsyah Satar merebak menjadi tersangka.

Mereka juga sempat kecewa dengan keputusan Direksi yang menambah armada baru di tahun 2015, dan sekarang lebih kecewa lagi dengan kapabilitas tim manajemen Garuda yang mana mereka anggap telah gagal kelola. Dewan Komisarisnya ternyata lemah dalam pengawasan, kebanyakan mereka bukan berlatar belakang operational seperti tim BODnya SQ yang solid menguasai dunia penerbangan yang amat kompetitif, seperti penilaian kaca mata pemegang sahamnya dipasar modal Singapura.

Tapi SQpun juga sempat merugi karena beberapa faktor kunci, seperti persaingan usaha dengan low cost carrier, dan biaya avtur yang tidak terkendali, beban operasional anak- anak perusahaannya seperti SIA Engineer Company, Silk Air, Singapore Airport Terminal Service, SIA Properties, dan pelayanan ground crew yang kalah bersaing dengan para karyawan low cost carrier yang rata- rata berusia lebih muda dari karyawan Singapore Airlines. Kasus SQ itu mirip tapi tak sama, khususnya di kualitas tata kelola.

Dari zaman Soeharto, cerita Garuda selalu klasik dan beda2 tipis, yaitu kalau namanya "Pengadaan pesawaat, pengadaan barang dan jasa", akan menjadi trend berita yang menonjol ketimbang cerita terobosan strategi pengembangan usaha diera persaingan global yang ketat. Konon anggota- anggota direksi dan komisaris Garuda menyandang berbagai gelar akademi dari universitas papan atas, bahkan ada yang dari luar negeri yang katanya selalu siap dengan seperingkat strategi canggih "lagu manajemen klasik" seperti efisiensi, perampingan usaha, pengetatan biaya, restrukturisasi rute, dll. Tapi konyol mengapa kinerjanya kalah dengan pendatang baru seperti Lion Air dan Citilink. (Catatan: Kita juga belum tahu apa cerita kinerja sebenarnya dengan Lion Air, Citilink, Air Asia dll Let us wait and see).

Penyebab kerugian Garuda bukanlah masalah AVTUR dan Tax Amnesty, melainkan adalah Menajemen yang tidak kompeten dan gagal kelola titik. Garuda perlu tim manajemen yang hands on dalam memimpin operasional dengan bertangan besi, bukan orang- orang keuangan saja. Garuda butuh komisaris- komisaris yang memahami arti fungsi pengawasan supaya tidak ada kejadian tikus- tikus kampungan yang berkerah putih yang kerjanya cuman menggerogoti keuangan perusahaan dan getol menambah jumlah pesawat dengan dalih pengembangan usaha.

Garuda harus tegas melakukan restrukturisasi manajemen, cuci gudang para eksekutif yang tidak berkinerja, bukankah kita punya jutaan pool eksekutif yang bertalenta yang selama ini tidak dijangkau secara maksimal. 

Mereka juga selama ini punya kemampuan dan lagi berkarya diperusahaan- perusahaan nasional swasta, dan secara de facto mereka berhak mencalonkan diri menjadi Direksi dan Komisaris BUMN. Jangan selalu terpaku merekrut dan ngambil para eksekutif dari BUMN- BUMN saja seakan- akan berpikiran bahwa perusahaan BUMN harus diisi oleh eks executiveBUMN, menutup pintu bagi putra putri Indonesia terbaik lainnya yang ada diberbagai pooltalenta eksekutif yang lagi tekun berkarya di perusahaan- perusahaan swasta.

Terlalu banyak pencitraan Garuda dengan berbagai pencitraan menerima awards sebagai CEO terbaik, crew cabin terbaik, BUMN terbaik dll, tapi tidak ada terobosan strategi dan inovasi bisnis meningkatkan kinerja Garuda seperti misalnya "menjemput bola dengan menggaet pasar pariwisata dari Cina dengan inovatif" dimana perusahaan- perusahaan penerbangan lain telah terapkan. Garuda hanya menambah armada pesawat berbadan lebar dan membuka rute Cina-Indonesia dengan perwakilan- perwakilannya, di Beijing, Shanghai, beban operasional tanpa ada kejelasan strategi inovasi perang menggaet kueh pangsa pasar".

Kita juga tidak melihat adanya upaya efisiensi mengurangi armada- armadanya dengan mengurangi jumlah pesawat- pesawat berbadan lebar yang membebani bahan bakar dengan penumpang minim.Garuda yang lengket dengan predikat BUMN strategi menunggu bola, berpikir dalam kotak, bukan "out of the box, seperti layaknya perusahaan- perusahaan bergaya monopoli atau oligopoli, adalah contoh konkrit prilaku corporate action BUMN- BUMN yang merefleksi gaya mereka menjalankan perusahaan dengan lamban melakukan perubahan menyesuaikan permintaan pasar dan peluang menjemput bola ini.

Captive market pasar Jemaah Haji adalah makanan empuk yang Garuda nikmati setiap tahun, rute- rute gemuk dalam negeri, tapi aneh rute luar negeri kalah bersaing. Lihat strategi perang pasar apa yang dibuat oleh Airways, Emirates, Qatar Airways, Air China, Korean Air, ketika membuat/ merancang strategi perang pasar yang amat kompetetif ini. Mereka jauh lebih muda dibandingkan Garuda yang sudah exist sejak tahun 50an.

Kami bukan ahli penerbangan yang paham tentang faktor- faktor kunci teknis operasional seperti, Cabin Crew, Ground Staff, Fuel Management, rute penerbangan dan lain- lain yang mana katanya Garuda sudah hebat kinerjanya karena sering dapat berbagai awards ini itu dengan bayaran fantastis ratusan juta bahkan miliaran rupiah, yang asal membuat bos senang sambil mimpi disiang bolong menipu diri sendiri. Ternyata rapuhnya manajemen Garuda yang merugi sampai Rp 3,78 Triliun. Ini korelasi anomali, bagaimana mungkin ketika memenangkan sederetan kinerja pencitraan Awards manajemen, namun hancur lebur keuangannya.

Garuda dapat berdiri lagi, tapi bukan dengan auto pilot, melainkan harus segera beraksi melakukan beberapa solusi masalah manajemen kunci, antara lain:

1. Retrukturisasi Dewan Direksi dan Komisaris dengan tim lebih ramping dan yang lebih berkompeten. Bila perlu rekrut para eksekutif dari perusahaan nasional swasta dan asing, apa salahnya? Justru inilah terobosan baru yang akan membawa budaya dan warna corporate culture yang baru dan segar. Keluar lah dari pikiran dalam kotak selama ini, bahwa perekruten eksekutif harus dari BUMN, ini konsep pemikiran kuno dan terbelakang sudah tidak zamannya lagi.Jutaan talenta eksekutif yang minimal sama kompetensi dan produktif, bahkan tidak tertutup kemungkinan lebih "qualified".Simak berapa potential loss BUMN- BUMN yang belum go international seperti yang sudah dilakukan PT.Telkom, PT.WIKA, PT. Adhi Karya, Bank Mandiri dll yang sudah go public.

2. Buat perbaikan (New Improved) strategi terobosan pengembangan usaha meningkatkan pendapatan menjangkau potensi pasar pariwisata dengan rute- rute internasional barunya sesuai dengan aksi korporasi pembelian armada baru yang sudah dilakukan oleh para direksi dan komisaris belum lama ini. Pelajari dan bila mungkin buka pasar- pasar baru di Johannesburg, Ningxia(kota Muslim di Cina), India, Papua New Guinie, Fijie dll, yang Garuda sudah pasti lebih tahu, seperti yang dilakukan Lion Air, Vietnam Airlines, Qatar, jangan menunggu bola, nunggu rejeki nomplok tanpa kerja keras.

3. Restruktulisasi fleet management dan anak anak perusahaan yang membebani pembiayaan operasional, seperti antara lain strategi go public GMF yang sedang direncanakan Ibu Rini Sumarno.

(SQ pun melakukan perampingan anak- anak perusahannya seperti SIA Property, SATS, dll)