Mohon tunggu...
Johanis Malingkas
Johanis Malingkas Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Menulis dengan optimis

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Tentang Karhutla, Kenapa Tidak Manfaatkan Teknologi Drone?

17 September 2019   11:06 Diperbarui: 17 September 2019   12:12 158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Drone pertama karya TMGAC saat diuji coba dilahan sawah desa Plumbungan kec Karang Malang Jateng 14-01-2018 lalu(sumber:kompas.com)

Artikel teman kompasianer Ronny Rachman Noor bertajuk Aramco Diserang, Akhir Era Keunggulan Sistem Pertahanan Amerika? adalah menarik dan menginspirasi saya menurunkan tulisan ini. Artikel ini diawal alineanya dibuka dengan "Serangan drone...".

Kata "drone" ini sudah mulai di kenal masyarakat Indonesia sebagai alat canggih untuk memantau sesuatu objek dari angkasa. Alat yang dikendalikan manusia dengan menggunakan "remote control". 

Saya pun teringat drone "HOPE", karya anak bangsa, sekelompok pemuda yang mengatasnamakan Temanggung Aeromodeling Club (TMGAC) menciptakan drone untuk pertanian yaitu drone penyemprot pestisida dan pupuk. Drone ini mampu semprot pupuk untuk lahan sawah 5 ha per jam.

Drone pertanian dibuat khusus untuk keperluan spray pestisida, insectisida, herbisida, pupuk dan cairan sejenis lainnya. Drone sebagai alat yang digunakan untuk menggantikan metode manual dengan penyemprotan konvensional oleh tenaga kerja manusia. Kehadiran drone pertanian di era modern sangatlah menguntungkan pihak petani.

Saat ini dikenal beberapa jenis dan tipe drone untuk pertanian antara lain DJI AGRAS-MG15, DJI AGRAS-MG1, AirRotor A410 dan AirRotor A415.  Informasi selengkapnya dapat dilihat disini:https://www.fulldronesolutions.com/daftar-harga-drone-penyemprot-pestisida-dan-sprayer-2019/

Ternyata alat drone ini dapat juga digunakan di bidang kehutanan. Salah satu aspek penggunaannya adalah dalam mengelola dan mencegah kebakaran hutan. Drone ini dapat membantu petugas kebakaran melacak jalur api dan mengidentifikasi lokasi dan intensitas hotspot (titik api). Juga membantu pra pengambil keputusan mengarahkan kegiatan pemadaman kebakaran hutan.

Setelah kebakaran, menggunakan drone atau pesawat tak berawak adalah cara yang sangat efisien untuk menemukan hot spot yang mungkin menyebabkan terjadinya kebakaran kembali(terulang).

Drone kehutanan ini mampu beroprasi pada lahan atau hutan seuas antara 2000 - 4000 ha dalam waktu 3 - 7 hari, tergantung cuaca bila berangin atau hujan drone tidak bisa diterbangkan.

Nah, kalau dikatakan Indonesia Dikepung Asap yang akar penyebabnya karhutla maka kunci utama adalah upaya pencegahan agar tidak terjadi kebalkaran hutan dan lahan. 

Jadi agar karhutla ini tidak meluas maka penggunaan drone dijadikan alternatif yang mungkin dapat dilakukan. Drone ini dalam jumlah besar akan mampu menyemprot kawasan hutan dan lahan agar kebakaran tidak meluas. Drone juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi dari udara titik api atau hot spot di lokasi terjadinya karhutla.

Anak bangsa yang kreatif sudah mampu berkarya menciptakan drone. Ini menjadi angin segar bagi produsen untuk memproduksi drone lebih banyak jumlahnya untuk dimanfaatkan bukan hanya untuk sektor pertanian namun juga kehutanan (terutama mengantisipasi terjadinya karhutla). Pemanfaatkan drone di sektor kehutanan dapat dilihat disini:https://www.fulldronesolutions.com/drone-dalam-forestry-atau-pekerjaan-kehutanan/

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun