Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Tu Angka Ina, Aha do na Botul, Martamiang manang Martangiang?

3 Mei 2021   13:26 Diperbarui: 3 Mei 2021   14:02 650 3 1 Mohon Tunggu...

Bataksch-Nederduitsch Woordenboek karya Herman Neubronner van der Tuuk, 1861, hlm. 220. Di sini tertulis dalam Surat Batak: mortangiang, bukan martangiang.

Judul artikel ini adalah bahasa Batak yang bermakna: "Kepada Ibu-ibu, Mana yang Benar, Martamiang atau Martangiang?

Ini persoalan apa?
Dalam artikel saya yang lain, ada himbauan kepada ibu-ibu Batak agar tidak menggunakan kata: Sipudan, Sebuah Gejala Hiperkoreksi dalam Bahasa Batak.

Kali ini yang mau saya bahas adalah tidak dibedakannya kata "Martamiang" dengan "Martangiang" yang kelihatannya memang sangat mirip, namun maknanya sangat berbeda, setidaknya menurut beberapa orang.

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin meneruskan cerita saya sebelumnya dalam artikel sebelum ini: Let Go dan Move On dari Musibah 2001, di mana saya menyebutkan bahwa akhirnya sekarang ini saya sudah mengumpulkan lagi sekitar 50 meter buku sejak akhir 2001, setelah sebelumnya kehilangan 32 meter.

Sejak 2004 saya pindah ke Jakarta dengan membawa koleksi baru saya dari Medan. Untuk mencapai 50 meter yang sekarang, saya pernah dua kali mengalami banjir sewaktu masih tinggal di Sunter, yaitu 2007 dan 2008, persis pada saat saya berada di Dubai. Sepulangnya dari Dubai awal 2007 dan 2008, kedua banjir itu memang sudah reda, namun setiap tahunnya saya terpaksa harus membuang masing-masing sekitar 2 meter buku yang rusak. Jadi, sekiranya tidak ada "musibah-musibah kecil" itu, buku saya sekarang sekitar 54 meter.

Nah, satu di antara 4 meter buku itu adalah Agama Suku dan Batakologi karya Bapakanda Rudolf Pasaribu yang seingat saya memberikan penjelasan sbb:
Tangiang kata dasarnya adalah tangi, yang bermakna mendengar Tuhan. Jadi hakikat doa adalah memohon kepada Tuhan agar berbicara atas hidup kita, yang berbicara bukan kita, kita mendengarkan Tuhan berbicara atas hidup kita melalui doa itu, sedangkan tamiang kata dasarnya adalah tami atau tami-tami yang bermakna sesajen.

Ternyata buku yang diterbitkan pada 1988 itu tak terlihat membawakan dampak, malah sekarang ada definisi-definisi yang sama sekali berbeda dengan yang disampaikan oleh penulisnya, malahan ada yang jelas-jelas menyamakan tangiang dengan tamiang, dan dengan demikian ibu-ibu itu pun tidak merasa ada yang salah dengan cara pengucapan mereka. Mungkin kerancuan ini muncul karena tidak jelasnya pembedaan antara berbicara dengan mendengarkan, siapa yang berbicara siapa pula yang mendengarkan.

Berikut saya sertakan hasil penelusuran saya atas beberapa kamus:
1. P. Leo Joosten OFMCap, Kamus Batak Toba, Penerbit Bina Media Perintis, Medan, 2012 (382 hlm.), diterjemahkan dari: J. Warneck, Toba-Bataks-Nederlands Woordenboek, Penerbit Landsdrukkerij, Batavia, 1906, yang diterjemahkan dari:  J. Warneck, Tobabataksch-Deutsches Worterbuch (Kamus Toba-Jerman), Penerbit Verlag der Rheinischen Missions-Gesellschaft, 1905.
Hlm. 331
tami
tami-tami: pemberian, hadiah
marsitami-tami: mempersembahkan, memberikan, menghadiahkan
tamiang: var. tangiang

Hlm. 334
tangi
manangihon
: mendengarkan
tangiang: doa
martangiang: berdoa

Di satu sisi kamus ini memberikan definisi yang jelas dari tami yang tidak ada kaitannya dengan doa, tetapi malah menyebutkan bahwa tamiang adalah varian dari tangiang (doa)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x