Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Yuk, Minum Kofi

2 April 2021   11:00 Diperbarui: 24 April 2021   02:49 193 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yuk, Minum Kofi
Diadaptasi dari: https://www.thejakartapost.com/life/2016/06/17/coffee-lovers-here-are-some-fun-facts-about-coffee.html

Kofi (bukan kopi).

Dari Catatan Harian 28 Maret 2021,
Sangat mengherankan kenapa bahkan beberapa pakar bahasa Indonesia seakan berpantang fonem "f," apalagi "v" (yang pernah saya ulas sebelumnya) dan mengganti  "f" dan "v" ini menjadi "p," padahal kedua fonem ini jelas-jelas ada dalam abjad Indonesia.

Hal ini  tentu saja berpotensi menimbulkan kerancuan dalam berbahasa Indonesia yang tidak disadari oleh para pengubah itu. Contoh:
Dalam buku 9 dari 10 Kata Indonesia adalah Asing, karya  Alif Danya Munsyi, Bab: $ATU NU$A SATU BANG$A DUA £ANGUAGES:

Canvas jadi kanpas. Ayip Rosidi, Sebuah Lukisan Telah Terjual, "... paling tahu segala titik cat yang melebur seluruh kanpas...." dan Subagio Sastrowardojo, Kejantan di Sumbing, "...biasa mencoret-coret di atas kanpas kosong..."
2. Revolutionary menjadi repolusioner, A.A. Navis, Robohnya Surai Kami, "...menjadi pemimpin gerakan repolusioner."

Contoh lain:
Copy jadi kopi. St. Takdir Alisyahbana, Layar Terkembang, "... tidak boleh tidak kopi verslag kongres itu..."
(Yang ini penggantian fonem "c" menjadi "k.")

Demikianlah, "photocopy" diadaptasi menjadi "fotokopi." Tapi tunggu dulu, ini kan rancu dengan kata "kopi" yang diadaptasi dari "coffee"?

Menurut saya, solusinya adalah jangan lagi kita berpantang beberapa fonem tertentu dan mulai sekarang mari kita gunakan kata "kofi" untuk "coffee."

Kata "coffee" sendiri masuk ke dalam bahasa Inggris pada 1582 via bahasa Belanda "koffie," yang dipinjam dari bahasa Turki Ottoman kahve, yang meminjam istilahnya dari bahasa Arab  قهوة  qahua.

Sekarang kita lihat derivasi kata ini dalam berbagai bahasa:
China: 咖啡 Kafei, Perancis: Café, Jerman: Kaffee, Jepang コーヒー Koohii, Korea: 커피 Keopi, Portugis: Café, Rusia: Кофе (Kofe), Spanyol: Café, Afrikan: Koffie, Finlandia: Kahvi, Yunani: Καφές (Kafés), Hindi: कॉफ़ी Kofee, Islandia: Kaffi, Romania: Cafea, Swedia: Kaffe, Tamil: கொட்டைவடி நீர் Koṭṭaivaṭi nīr.

Dari contoh ini hanya bahasa Korea yang mengadaptasi fonem "f" menjadi "p," namun ini tidak menimbulkan kerancuan karena adaptasi kata "copy" dan "photocopy" (bu dan bogsa) sama sekali tidak melibatkan fonem "p" seperti pada bahasa Indonesia.

Kita memiliki istilah alternatif untuk kedai kopi (seharusnya kedai kofi), antara lain kafe (dari bahasa Inggris cafe) dan kopitiam (dari dialek Hokkien, seharusnya kofitiam). Kenapa kita tidak menyebut kafe dengan kape hanya karena kape memiliki makna lain (putty knife) dan bukan karena fonem "f" tidak usah diganti dengan "p"?

Yuk, minum kofi.

Jonggol, 2 April 2021

Johan Japardi

VIDEO PILIHAN