Mohon tunggu...
Joko Martono
Joko Martono Mohon Tunggu... penulis lepas

belajar memahami hidup dan kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bersahabat, Berdamai atau Berkompromi dengan Bencana

3 Juni 2020   19:02 Diperbarui: 3 Juni 2020   20:28 204 69 12 Mohon Tunggu...

Masih lekat dalam ingatan, gempa tektonik Yogyakarta dan sekitarnya (2006) yang banyak membawa korban telah memberikan pengalaman sekaligus pelajaran.

Pagi itu, Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.53 wib saya sempat terhuyung jatuh, bangun dan jatuh lagi di depan rumah yang tanahnya berguncang, bergerak meliuk-liuk seperti ular.

Tidak lama kemudian, saya melihat sejumlah bangunan runtuh, roboh bahkan ada yang rata dengan tanah disertai debu-debu berhamburan di sekitarnya. Disusul jeritan orang panik, menyelamatkan diri, bercampur sedih karena sebagian keluarganya terjebak dalam reruntuhan.

Tragis memang di pagi itu. Di tengah suasana mencekam, luluh lantak bangunan dan suasana duka mendalam, sekitar dua jam kemudian muncul kabar yang tak jelas sumbernya bahwa tsunami akan datang. Sontak sebagian besar warga berduyun-duyun menuju ke arah utara/dataran tinggi (Sleman, Magelang) mencari perlindungan, sementara semua sarana komunikasi terputus total.

Beberapa saat setelah gempa, malam gelap/aliran listrik mati total disertai hujan deras, muncul gempa-gempa susulan skala sedang dan kecil sehingga rasa takut, panik dan trauma warga belum terobati -- kembali dibayangi kekhawatiran, was-was dan kecemasan berlangsung sepanjang  hari.

Baca juga ini: kompasiana.com/jk.martono

Semuanya itu dapat dipahami, mengingat terbatasnya pembekalan kepada masyarakat tentang wawasan kebencanaan (gempa tektonik), keterlibatan masyarakat dalam hal ini masih minim.

Sedangkan menunggu bantuan tim darurat dari pemerintah belum tentu segera datang, mengingat yang diurus ribuan orang di lokasi bencana berbeda. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki bekal pengetahuan bencana tersebut bisa menyelamatkan diri, keluarga dan tetangga dekatnya.

Sepintas rangkuman cerita fakta tersebut menggambarkan kehadiran bencana alam seperti di atas datangnya tak bisa diduga, siapapun tak dapat memprediksi kapan peristiwanya akan terjadi.

Kecuali secara umum diketahui bahwa sebagian besar wilayah Indonesia memang rawan bencana gempa, pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific berada di sini, apabila akumulasi energi antarlempeng bertabrakan selanjutnya terjadilah gempa tektonik.

Berkait penanganan bencana, pemerintah telah menyiapkan tim khusus yang disebut Search and Rescu (SAR), kemudian menjadi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berikut jajaran di setiap daerah yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) siaga 24 jam melakukan tugasnya. Lembaga nondepartemen ini diperkuat regulasi yang tercakup dalam UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x