Jimmy Haryanto
Jimmy Haryanto penulis bebas

Pecinta Kompasiana. Berupaya menjadi pembelajar yang baik, karena sering sedih mengingat orang tua dulu dibohongi dan ditindas bangsa lain, bukan setahun, bukan sepuluh tahun...ah entah berapa lama...sungguh lama dan menyakitikan….namun sering merasa malu karena belum bisa berbuat yang berarti untuk bangsa dan negara. Walau negara sedang dilanda wabah korupsi, masih senang sebagai warga. Cita-cita: agar Indonesia bisa kuat dan bebas korupsi; seluruh rakyatnya sejahtera, cerdas, sehat, serta bebas dari kemiskinan dan kekerasan. Prinsip tentang kekayaan: bukan berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak yang sudah kita berikan kepada orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Benarkah Bangunan Tahan Gempa Bisa Dibuat?

12 Oktober 2018   08:08 Diperbarui: 12 Oktober 2018   17:55 452 1 0

Gempa di Situbondo, Palu dan Lombok tahun 2018 ini masih segar dalam ingatan kita. Bahkan bantuan untuk masyarakat di wilayah itu masih berlangsung hingga tanggal 11 Oktober 2018 ini. Pada umumnya korban gempa itu karena akibat bangunan yang rubuh atau tertimpa barang berat. Benarkah gedung itu bisa dirancang agar tahan gempa?

Jepang merupakan negeri yang rawan gempa, bahkan hampir setiap hari terjadi gempa. Sampai-sampai di dalam telepon genggam ada program dengan simbol ikan lele (masyarakat Jepang percaya ikan lele yang paling sensitif terhadap gempa) yang membuat tanda atau peringatan kalau terjadi gempa. Berapa kekuatan gempa dan di mana terjadi langsung muncul di layar telepon.

Ketika kita hendak merenovasi gedung di kota Tokyo beberapa waktu lalu, terjadilah percakapan dengan konsultan dan arsitek Jepang itu. Mereka menanyakan seperti apa gedung berlantai 20 yang akan dibangun untuk memperbaiki gedung lama yang sudah rusak akibat beberapa kali gempa di Jepang itu.

Konsultan memberikan beberapa alternatif. Alternatif pertama membuat gedung yang tahan gempa namun fondasinya tetap, hanya gedungnya akan bergerak mengikuti irama gempa seperti nyiur melambai. Biayanya akan lebih besar dua kali dibandingkan dengan bangunan biasa.

Alternatif kedua, merupakan cara membangun bangunan tahan gempa yang paling baik saat ini yakni dengan membangun beberapa bola beton berdiameter satu hingga dua meter yang diletakkan jauh di bawah tanah. Kemudian di atas bola-bola beton itulah nanti mulai disusun fondasi gedung tersebut. Untuk menambah keamanan maka diperlukan ruang setengah meter ke depan dan belakang serta ke samping kiri dan kanan.

Dengan demikian jika terjadi gempa, maka gedung akan bergerak sesuai dengan irama gempa. Konsultan itu menjelaskan harganya empat kali lebih besar dibadingkan dengan bangunan biasa. 

Mereka mengingatkan hampir semua bangunan tinggi di Jepang sudah menggunakan konsep itu, dan dikatakan konsep itu sudah terbukti baik ketika terjadi gempa dan tsunami tanggal 11 Maret 2011 di Tohoku, Jepang, maka menara Tokyo yang merupakan bangunan tertinggi di Jepang tidak mengalami kerusakan yang berarti. 

Mereka juga mengingatkan salah satu dampak negatif dari cara ini yakni orang yang berada di dalam gedung itu tidak merasakan sama sekali gempa itu, pada hal jika terjadi gempa sebaiknya segera meninggalkan gedung untuk menyelamatkan diri.

Pertanyaan bagi kita di Indonesia yang juga rawan gempa ini, apakah rancangan bangunan dengan menempatkan bola-bola beton di bawah tanah sebelum membangun fondasi akan tepat dilakukan untuk mengurangi dampak gempa. Tentu harganya akan jauh lebih mahal, namun keselamatan akan lebih baik.

Para arsitek muda Indonesia kiranya dapat memberikan masukan demi mengurangi dampak negatif kejadian alam seperti gempa ini.