Mohon tunggu...
Jihad Bagas
Jihad Bagas Mohon Tunggu... Pekerja (katanya) milenial

Green Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Defleksi Nilai dalam Keteraturan Semesta

3 April 2021   03:45 Diperbarui: 3 April 2021   04:02 165 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Defleksi Nilai dalam Keteraturan Semesta
https://line.17qq.com/articles/lkncnkdv.html

Ada sebuah istilah, kita hari ini merupakan representasi dari kumpulan kejadian di masa lalu. Tempaan masa lalu membuat seutuhnya menjadi kita sekarang ini. Jika sebuah pedang yang kuat pasti dibuat oleh penempa besi yang hebat, maka kita saat ini merupakan hasil dari tempaan lingkungan tempat kita berada.

Mungkin kita tidak bisa memilih akan berada di situasi seperti apa, tapi kita sepenuhnya mempunyai kebebasan dalam pemaknaan setiap realitas yang menimpa kita. Di sini lah letak free will kita selaku manusia. Karena tiap persepsi akan mendorong untuk bereaksi yang berbeda terhadap realitas yang sama.

Dalam situasi yang persis sama, tiap kita pasti memiliki sikap yang berbeda dalam menyikapinya. Ini lah letak uniknya dari manusia. Seperti istilah tokoh besar yang memilik julukan El Rumi, "manusia itu unik, manusia itu bukan seperti tetesan air dalam samudera luas. Melainkan samudera dalam bentuk tetesan". Sebegitu kompleksnya manusia sehingga dalam pandangan Rumi, besarnya samudera diwujudkan dalam bentuk tetesan air untuk menggambarkan kompleksitas sifat manusia.

Menurut pakar sejarah Yuval Noah Harari, manusia yang berasal dari spesies Sapiens yang mana pada saat lahir hingga sampai kondisi stabil membutuhkan waktu paling lama dalam proses perkembangan fisik dibandingkan spesies lain. Ini menyebabkan manusia memiliki evolusi paling canggih dalam perkembangan nalar akalnya.

Porsi perkembangan akal (otak) yang melebihi spesies lain membuat manusia memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Dan lagi perkembangan kognitif yang melampaui spesies lain. Itu lah mengapa secara sederhananya manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Dan dalam islam manusia disebut sebagai Khalifah di bumi, yang artinya pemimpin atau perawat bumi ini. Padahal secara fisik manusia tidak lebih perkasa dibanding spesies karnivora lainnya.

Perkembangan nalar yang pesat ini membuat kita bisa berimajinasi membayangkan seperti apa keadaan yang kita inginkan di masa depan. Kemampuan berkhayal ini diiringi dengan kemampuan bersosialisasi yang baik sehingga bersama -- sama saling menyokong untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik di masa mendatang. Begitulah gambaran sederhana manusia dalam mencapai puncak penguasa bumi mengalahkan spesies lain.

Sekarang perkembangan peradaban manusia telah maju dengan adanya ciptaan teknologi hasil olahan akal manusia. Inovasi selalu muncul dalam setiap generasi. Inovasi teknologi didasari oleh berbagai permsalahan keadaan dan berharap ini akan jadi lebih mudah jika teknologi ini ada.

Jika dibandingkan dengan kondisi nenek moyang kita, sudah jelas bahwa keadaan kini jauh lebih baik. Contohnya dengan adanya teknologi penerangan, membuat kita bisa tetap beraktivitas pada malam hari. Dengan bantuan teknologi ini kita bisa beradaptasi dengan keadaan lingkungan yang gelap.

Perlahan dari generasi ke generasi, kebiasaan baru pun muncul. Sehingga kebudayaan baru pun terbentuk dengan adanya teknologi ini. Zaman dulu dimana malam hari umumnya semua beristirahat untuk menutup hari, masa kini sebagian dari kita tetap beraktivitas dalam menjalani kehidupan. Pertanyaannya dengan segala perkembangan yang ada, apa kini nilai kehidupan menjadi lebih baik?

Bersyukur jika jawabannya iya. Jika jawabannya tidak, apakah teknologi itu dibuat benar -- benar menyelesaikan masalah atau hanya sekedar memindahkan masalah? Menutupi masalah lama, dan menimbulkan siratan masalah baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x