Mohon tunggu...
Bude Binda
Bude Binda Mohon Tunggu...

Langkah kecil kita mengubah dunia. Berpuisi di Http://jendelakatatiti.wordpress.com.

Selanjutnya

Tutup

Travel

Pesona Dieng

16 April 2012   13:31 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:33 0 2 5 Mohon Tunggu...
Pesona Dieng
13354335211846002755

Oleh Bude Binda [caption id="attachment_177298" align="aligncenter" width="300" caption="Candi Dieng"][/caption] Dieng, udara yang dingin, pemandangan indah. Paduan yang selalu mempesona. Saya tak bosan bahkan selalu ingin datang lagi dan lagi ke sana. Tadi kami, saya dan teman-teman sekantor ada acara ke Batur, pemotretan kartu identitas pegawai. Kami pun mencarter mikrobus menuju Batur. Dari sekolah berangkat pukul 09.15. Lewat Pagentan, Pejawaran dan belok ke timur menuju Batur. Jalanan menanjak, berkelok. Semakin tinggi kian dinginlah udara. Kami pun mulai mengenakan jaket, penahan dingin. Satu setengah jam kemudian sampailah kami di depan kecamatan  sekaligus rumah dinas Camat Batur. Turunlah kami dari mikrobus, dan mulai antri untuk foto dengan baju warna khakhi khas pegawai Pemda.  Selesai foto, kami ganti kostum dengan baju santai, perut lapar kami pun cari warung makan. Setelah meletakkan baju seragam untuk foto di mikro, pergilah  saya dan teman-teman ke warung makan di depan kantor kecamatan. Karena  lapar dan udara dingin membuat nasi yang kusantap terasa enak. Sayurnya daun pepaya, lauk ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalapnya. Usai makan, saya pun lanjut ke pasar. Namun baru beli daun ranti dua ikat seharga seribu rupiah 1 ikat, dari masjid berkumandang adzan dhuhur. Saya pun masuk masjid yang ada di dekat pasar untuk sholat dhuhur. Selesai sholat, belanja dilanjutkan, beli kentang 3 kg @Rp3.000. Cabe dieng yang super pedas, cabe  hijau, cabe merah, carica yang bisa dibuat manisan, kapri, seledri. Tahu-tahu tas belanjaku penuh dan terasa berat. Saya dan teman lain berjalan menuju perempatan. Ternyata  teman-teman sudah ngumpul di sana duduk dekat penjual gorengan sambil beli dan makan tahu, tempe goreng dan geblek. Geblek itu makanan khas Wonosobo yang terbuat dari tepung aci/tapioka yang digoreng, rasanya asin dan kenyal. Kami menanti mikrobus yang ditelpon sopirnya disuruh berangkat ke Dieng dan mengambil kami di perempatan. Maklum belanjaan yang berat membuat ku malas jalan ke tempat mikro parkir. Akhirnya mikrobus datang. Maka naiklah saya dan teman-teman. Mikro pun berangkat ke arah Dieng. Tempat yang kami tuju Candi Dieng.  Jalan menanjak dengan tikungan yang tajam, sopir yang lincah dan berpengalaman membuat perjalanan ini lancar tanpa kendala. Udara kian dingin. Di kanan kiri ladang yang berisi tanaman kentang, wortel, kobis/kol, kapri, adas, loncang/daun bawang, carica. Sayangnya tanaman kentang sampai ke puncak-puncak bukit. Hal ini tentu membahayakan lingkungan. Bagaimana kalau longsor? Aroma tak sedap kadang menerpa hidung kami, bau pupuk kandang yang ada di pinggir jalan. Pemandangan indah masih terus tersaji di depan mata. Bukit, pegunungan, ngarai, ladang yang berteras-teras. Bunga kana, dahlia, mawar, mau pun bunga rumput berwarna-warni. Udara yang sejuk menyebabkan bunga tumbuh subur dan berbunga bagus melebihi yang tumbuh di dataran rendah. Mawar di  Dieng lebih besar kuntumnya, demikian juga dahlia. Tak sampai setengah jam, kami sudah sampai di komplek candi Dieng atau candi Arjuna. Mobil pun parkir. Di sebelah parkir ada candi satu. Di seberang jalan terdapat museum Kaylasa, di atasnya teater untuk pemutaran film tentang Dieng. Museum dan teater ini indah dipandang karena letaknya tinggi bahkan teaternya lebih tinggi lagi, dihiasi taman yang terawat dengan bunga-bunga bermekaran. Kami pun turun menuju komplek candi. Belum turun di undak-undakan sudah sibuk pose foto.He  he he narsis juga ibu-ibu ini. Jalan setapak menuju candi di kanan kirinya pohon cemara dan bunga berwarna ungu semacam dahlia. Bunga ungu ini semarak tengah mekar. Sambil berjalan kami masih terus berfoto ria. Akhirnya tibalah di komplek candi. betul-betul indah, seperti yang ada di iklan TV dengan latar belakang candi Arjuna ini. Tak lupa  kami pun banyak mengambil foto dengan latar candi. Candi-candinya terawat, bersih, dan tamanan hias dan bunga yang ada di sekitarnya juga menambah kecantikan lingkungan candi. Selain rombongan saya, ada juga rombongan anak-anak sekolah yang setelah kutanya dari SMA 1 Semarang. Rupanya mereka kelas 2 SMA yang sedang libur karena kelas 3 sedang ujian nasional. Puas menikmati candi, kami pun kembali ke tempat parkir, berpapasan dengan oma-opa yang setelah kami tanya dari Wonosobo. Waktu ashar hampir tiba, saya dan teman-teman ke arah mushola yang ada di komplek museum. Museum ini menyimpan koleksi arca dan benda-benda kuno. Kata petugas museum turis mulai banyak di musim libur ini, namun tidak semua turis masuk museum, hanya kalangan tertentu saja yang ke sana, seperti anak-anak sekolah. Saya juga sempat berpapasan lagi dengan pelajar yang saya tanya "Dari mana Mbak?". "Dari museum Bu, eh kami dari SMK 1 Banjarnegara". "Kelas berapa?". "Kelas dua". Saya ke tempat wudlu, ambil air wudlu setelah kamera dan telepon genggam saya titipkan di tas Bu Sri. Juga jam tangan dan kaca mata. Kami pun menunaikan sholat Ashar berjamaah, dengan Bapak Kepala  Sekolah menjadi imam. Rukuh/mukena yang ada di mushola bagus dan bersih, mushola dan tempat  wudhunya juga bersih. Usai sholat, kami pun naik mikro setelah membayar parkir Rp3.000,oo. perjalanan pulang pun dimulai. Puas rasanya mereguk keindahan di Dieng. Walau saya berjanji dalam hati kapan-kapan akan ke Dieng lagi, dengan menjelajahi semua tempat wisatanya: Telaga Warna, Telaga  Merdada, Kawah Sikidang, Sumur Jalatunda. Dieng tunggu aku...... Dieng meliputi wilayah Banjarnegara dan Wonosobo. Candi ada di Banjarnegara, Telaga Warna ada di Wonosobo. Untuk menuju ke Dieng bisa lewat Wonosono ( Wonosobo, Garung, Dieng). Atau lewat Banjarnegara (Banjarnegara, Karangkobar, Wanayasa, Batur, Dieng) bisa juga dengan rute Banjarnegara, Singomerto, Pagentan, Pejawaran, Batur, Dieng. BUDE BINDA Banjarnegara, Senin 16 April 2012

KONTEN MENARIK LAINNYA
x