Mohon tunggu...
JBS_surbakti
JBS_surbakti Mohon Tunggu... Akuntan - Penulis Ecek-Ecek dan Penikmat Hidup

Menulis Adalah Sebuah Esensi Dan Level Tertinggi Dari Sebuah Kompetensi - Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya, Untuk Apapun Di Bawah Langit Ada Waktunya.

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

Bank Digital dan Tantangan Generasi Milenial

27 Oktober 2021   09:48 Diperbarui: 31 Oktober 2021   17:47 675
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Belanja Online | Sumber : Techno FAQ

Berangkat dari upaya pemenuhan kebutuhan berdasarkan analisa karakteristik para milenial, maka tidak mengherankan memang bahwa hampir seluruh perbankan berlomba menciptakan produk jasa layanan berikut fitur-fitur lainnya. 

Kebutuhan akan eksistensi diri dengan tidak perlu repot oleh banyaknya administrasi yang melelahkan dengan prinsip kemandirian semakin menegaskan pula bahwa pasar milenial begitu menjanjikan dan menggiurkan. 

Sebagai pembanding, melansir data persaingan toko online di Indonesia milik iPrice, Rabu (22/8/2021) menampilkan data traffic terhadap 10 e-commerce di Indonesia secara total hampir menyentuh 370 juta lebih kunjungan bulanan dan di dominasi oleh para milenial.

E-commerce atau toko online bagaikan pasar yang dipenuhi hiruk pikuk para pembeli dengan pedagang yang perlu dijembatani lewat sistem pembayaran terkoneksi dengan bank.

Dalam hal inilah, layanan bank digital diciptakan secara penuh beroperasi dan terintegrasi dengan e-commerce menciptakan kemudahan bertransaksi bagi para milenial. 

Setidaknya kebutuhan dasar para milenial dari mulai makanan, gadget, pulsa, alat elektronik, fashion, dan alat-alat kesehatan maupun kecantikan (health care/skin care) oleh para produsen ditawarkan ke pasar digital. Dan jasa bank digital berfungsi sebagai institusi keuangan perantara menyelesaikan pembayaran.

Ilustrasi Medsos | Sumber : theberkeleygraduate.com 
Ilustrasi Medsos | Sumber : theberkeleygraduate.com 
Hitungan jasa yang terbilang adalah merupakan fee based income atau sumber pendapatan turunan di bank konvensional kini menjadi sumber pendapatan utama bagi bank digital. 

Transaksi yang masif dengan mengejar volume terbilang hitungan receh bila dilihat nomial per transaksi (kisaran Rp 1.000-Rp 5.000). 

Namun bila diperhitungkan dengan volume transaksi hingga mencapai ratusan juta per bulannya bahkan diprediksi semakin meningkat ke depan, sungguh akan menjadi potensi bisnis dengan keuntungan yang fantastis. 

Fee layanan transaksi pasar digital bagaikan sebuah restribusi parkir yang lebih murah bila dibandingkan berbelanja luring manakala harus ke pusat perbelanjaan atau pasar nyata. Belum lagi bila memperhitungkan biaya transportasi dan juga faktor pandemi Covid-19 yang masih mengancam.

Pada dasarnya full digital banking atau bank digital beroperasi secara penuh dengan digitalisasi perbankan adalah dua hal yang berbeda namun jasa pemenuhan kebutuhan perbankan secara digital bagi nasabahnya menjadi tujuan yang sama. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun