Mohon tunggu...
JBSurbakti
JBSurbakti Mohon Tunggu... Penulis | Bankir | Akuntan | Penikmat Hidup

Menulis Adalah Sebuah Esensi Dan Level Tertinggi Dari Sebuah Kompetensi - Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya, Untuk Apapun Di Bawah Langit Ada Waktunya

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Mereka Berlibur, Kami Bertaruh Nyawa

8 Mei 2021   12:37 Diperbarui: 8 Mei 2021   22:53 169 18 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mereka Berlibur, Kami Bertaruh Nyawa
ilustrasi tentara komando (jawapos.com)

"Maaf nak, bapak tidak bisa telponan ya seminggu kedepan. 

Sehat-sehat semua, selamat Lebaran"

Momen haru yang hanya memakan waktu kurang lebih 5 menit itu dan ditutup dengan ucapan dari ujung telepon antara seorang istri dan anaknya dengan sang ayah yang sedang ditugaskan di daerah konflik di Papua. Sebagaimana seorang tentara yang mengabdi dan memegang teguh sapta marga dan sumpah prajurit untuk selalu siap diterjunkan ke medan manapun. Bertaruh nyawa demi menjalankan pengabdian demi bangsa dan negara.

Sebuah pengalaman yang sama juga pernah saya alami sebagai seorang anak tentara. Layaknya anak seorang prajurit lainnya maka orang tua baik ayah atau ibu yang menjadi seorang prajurit maka kehidupan mereka adalah berlabel milik negara. Hidup dan mati mereka adalah bagi negara. Saya yang Nasrani juga merindukan ayah untuk bisa hadir dalam acara keluarga. Apalagi saat momen-momen libur khususnya dalam perayaan hari besar keagamaan seperti Natalan dan Tahun Baruan atau Lebaran yang sebentar lagi juga dirayakan oleh teman-teman umat Muslim di Indonesia.

Namun demikianlah momen penting yang harusnya adalah tempat berkumpul dan bercanda tawa dalam perayaan acara keagamaan dan libur yang hangat menjadi pupus karena ayah harus ditugaskan bahkan berperang kala itu ke Kalimantan dan Timor-Timur. Sebuah hal yang tidak bisa keluarga protes atau berdemo atau menggerutu meminta agar ayah untuk tidak bertugas. Dia adalah ayah saya, kami adalah pemiliknya demikian pembelaan seharusnya.

Bagi anak tentara dan keluarga besar tentara adalah sebuah pengorbanan dan keikhlasan yang turut menjadi sumpah keluarga juga untuk tidak egois dan menyerahkan hidup mati ayah demi tugas negara. Bukan hanya hitungan sehari, seminggu atau sebulan bahkan bisa bertahun. Dipisahkan jarak bahkan tidak tahu mereka entah dimana kala hari “H” perayaan keagamaan itu kita rayakan.

Cemas? Ya, tapi tepatnya ikhlas dengan berdoa dan meminta tugas bisa diselesaikan dengan baik. Pulang dan kembali berkumpul dengan sehat walafiat.

“Kan sudah demikian tugasnya?” Benar sekali dan tanpa menuntut pengalaman yang sama dengan profesi ayah orang lain yang bisa berkumpul dengan keluarga di sebuah rumah mewah bahkan resort wisata ternama dengan seluruh kegemerlapannya plus hidangan makanan serba ada layaknya sebuah pesta perayaan. 

Semua dijalani dan berdoa dengan hanya satu tujuan agar ayah bisa diberikan kesempatan untuk menelepon atau sekadar mengucapkan selamat hari raya yang dulu adalah sebuah hal yang sangat mustahil dengan fasilitas telepon dan komunikasi yang serba terbatas.

sumber : AFP photo
sumber : AFP photo
Dan itu yang mungkin kini bisa menjadi perlipur lara ditengah-tengah hutan bergerilya dan berharap ada sinyal, seorang tentara di penugasan konflik bisa menghubungi keluarganya nun jauh disana. Melepas rindu dan mengucapkan selamat hari lebaran meski pertaruhan hidup atau mati. Sebuah pengorbanan yang tidak perlu dibanding-bandingkan dengan profesi lainnya. 

Karena jiwa patriotisme hanya bisa dibandingkan dengan menyelesaikan tugas dengan baik tanpa pamrih demi mempertahankan kedaulatan ibu pertiwi.

Terkadang saya sendiri malu bercampur egois kekanak-kanakan. Sebagai seorang pekerja biasa sedikit banyak bila dibandingkan dengan para pengabdi tugas negara lainnya seperti tentara yang bertugas di medan konflik, pelayan publik kesehatan yang saat pandemi bertugas hampir 24 jam di rumah sakit, satgas keamanan yang mengamankan jalur mudik, para wartawan, reporter, dan profesi lainnya yang keberadaannya tetap dituntut bekerja di hari libur rasa-rasanya untuk disuruh untuk meluangkan waktu yang berhubungan dengan pekerjaan di kala libur membuat jiwa menjadi marah, mengomel, dan rekasi negatif lainnya. Seakan-akan waktu liburan adalah waktu yang sakral tanpa debat untuk mematikan handphone dan untuk memanjakan diri tanpa batas.

Bersyukurlah bila memang profesi anda sekarang bisa menikmati liburan selama 24 jam penuh, dan respeklah bagi mereka yang menaruh waktu, tenaga bahkan nyawa demi suatu tugas yang tidak bisa ditinggalkan demi kelancaran orang banyak untuk bisa “hepi-hepi” menikmati liburan.

Lantas sedikit menjengahkan pula di tengah pandemi yang masih mewabah ini banyak diantara kita tidak dapat menahan diri berpergian atau tetap di rumah menikmati liburan. Kondisi yang tak kan ada pemenangnya bila anjuran pemerintah untuk melarang mudik kepada masyarakat untuk diperdebatkan dan berlaga argumentasi terhadap kebijakan ini efektif atau tidak.

Fakta di lapangan di beberapa daerah menunujukkan peningkatan pasien yang terjangkit berikut pula peningkatan kematian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN