Mohon tunggu...
Jainal Abidin
Jainal Abidin Mohon Tunggu... Wiraswasta - jay9pu@yahoo.com

Wiraswasta

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Membaca untuk Indonesia agar Mendunia

4 Februari 2023   06:18 Diperbarui: 4 Februari 2023   06:22 469
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber poto: gurusiana.id

Sudah tidak usah diceritakan lagi, tingkat literasi negara kita memang rendah. Mau atau tidak menyadari, begitulah faktanya.

Tidak usah memungkiri dengan mengatakan bahwa netizen kita rajin baca medsos. Kalau hanya untuk menghibur diri mungkin membaca medsos bisa dimasukkan kategori literasi.

Tapi kategori literasi yang bagaimana? Karena mayoritas netizen kita suka menghujat duluan. Hal ini terlihat manakala suatu isu selalu ditanggapi dengan nada negatif bahkan cibiran.

Andaikan ada proses membaca tentu akan ada proses berpikir. Minimal merasa apa yang dirasa orang yang sedang kesusahan, tidak malah mencaci-makinya di medsos.

Penghujat tak pernah berpikir andaikan kejadian yang sama menimpa yang bersangkutan. Bagaimana rasa dan perasaan jika sudah dalam kondisi kesusahan ditambah dengan hujatan.

Jika memang netizen benar-benar membaca tentu ada kegiatan telaah. Dimana orang tidak langsung menghakimi, dikarenakan selalu berpikir dari berbagai sisi.

Hasilnya mereka akan berkomentar secara proporsional melihat situasi, kondisi dan keadaan yang terjadi. Sehingga meminimalisir kata hujatan yang tambah menimbulkan gaduh dan perpecahan.

Memperhatikan gejala realita seperti itu sepertinya ada beberapa hal yang sekiranya patut kita cermati bersama agar angka buta aksara di negeri kita bisa berkurang:

Pertama, tidak ada budaya sejak dini untuk menanamkan kebiasaan membaca. Hal ini sangat berbahaya, karena tidak ada suatu upaya untuk mewariskan kebiasaan para kaum intelektual.

Boleh dilihat bagaimana cara orang tua modern agar anak tidak rewel? Bisa dipastikan bahwa orang tua akan memberi anak tersebut mainan Gadget. Mudah memang tapi hal instan pasti ada dampaknya.

Dampaknya anak menjadi ketagihan jika dibiarkan berlebihan. Tapi melarangpun sebenarnya juga serba salah, mengingat anak disekitar juga sudah banyak yang bermain game dalam gawai.

Sebagai orang tua yang bisa kita lakukan bermain gawai tapi juga tetap menanamkan kecintaan untuk terbiasa membaca. Salah satunya menyediakan sumber bacaan yang cukup bagi si kecil.

Hal kedua yang patut menjadi perhatian bersama adalah minimnya fasilitas pendidikan. Pemahaman orang tua yang masih membatasi alat pendidikan hanya boleh berupa buku, pulpen, penghapus, dan pensil turut membuat ruang lingkup pendidikan makin menyempit.

Padahal jauh hari, Ki Hajar Dewantara pernah berpesan bahwa semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

Berdasarkan pernyataan Bapak pendidikan kita itu, sudah seharusnya kita mulai memanfaatkan semua yang ada disekitar sebagai sarana prasarana untuk mencapai tujuan pendidikan.

Kita mendidik generasi kita untuk menggunakan gawai sebijak mungkin. Tidak hanya mempergunakan untuk bermain tapi juga belajar. Orang tua berperanan penting dalam mewujudkan hal itu.

Jika semua sudah berbuat dengan tujuan untuk belajar, kegiatan membaca dan menulis akan tumbuh menjadi kebiasaan. Harapannya, posisi literasi di negara kita akan diperhitungkan. Sehingga lahirlah sebuah generasi yang kritis tanpa mendiskreditkan pihak manapun.   

Satu lagi tradisi yang perlu ditambahkan di negeri ini, yakni berwisata ke perpustakaan. Tradisi ini perlu didukung teknologi baru agar tidak ada kesan membosankan di perpustakaan.

Dengan begitu kemampuan membaca netizen di medsos dapat diasah menjadi ketrampilan untuk membaca dunia. Agar betul-betul kecakapan dan kemampuan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai salah satu kompetensi literasi digital terwujud.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun