Mohon tunggu...
jaeful rohman
jaeful rohman Mohon Tunggu... Guru - Guru di sekolah dasar

Mengajar adalah keseharian ku dan bermedia menjadi bagian dari kegiatan keseharian.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Setan Kerdil Penunggu Kedung Srintil

15 April 2022   09:26 Diperbarui: 15 April 2022   09:31 736
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Netizen kita sering mengatakan kalau sekarang hantu itu sudah tidak ada harga dirinya. Kalau ketemu hantu, orang malah pada penasaran dibuat konten diburu ramai-ramai. Pokoknya sudah tidak ada takut-takutnya lagi. Tapi percayalah itu hanya sekedar komen-komen saja karena sang komenter tidak mengalaminya. Jika dia ngalamin sendiri berani gak kayak kementarnya?

Dan ini terjadi pada diriku sendiri. Begini ceritanya.

Malam itu, 25 tahun yang lalu, sekitar pukul 02.00 pagi tiba-tiba perut mules pengen ke belakang. Gak mungkin kan pergi sendiri. Kami belum memiliki kamar mandi sendiri. Di desa kami nyaris tidak ada yang punya kamar mandi di rumah. Semuanya ke sungai untuk keperluan MCK. Listrik belum ada, penerangan menggunakan lampu minyak. Bisa dibayangkan suasana waktu itu.

Iyah malam itu terasa syahdu eh gak juga dah lupa. Pokoknya waktu itu, penerang adalah bulan bukan purnama sih. Bersama dengan bapak, aku pergi ke sungai jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sekitar 500 meteran. Kalau ga percaya kesini saja tempatnya masih sama tapi sudah berbeda rupa.

Sampai di sungai, saya mencari tempat untuk gitu lah yah. Tahu sendiri. Setelah menemukan tempat yang pas aku mulai fokus sambil melihat ke kanan kiri. Suasana benar-benar hening beberapa kunang-kunang nampak terbang. Dan teringat kata teman ku kunang adalah kukunya orang meninggal. Eh apa iya kuku bisa berubah menjadi serangga.

Bapak ku masih duduk sambil merokok di pinggir sungai. Sungai di sini penuh bebatuan kanan kiri adalah pepohonan kelapa dan albasia. Aku menerawang melihat ke langit penuh bintang. Dan aku terkejut entah sejak kapan, di depan sana sekitar beberapa puluh meter terlihat ada orang seperti sedang mencuci dan disampingnya ada obor untuk penerangan. Karena sungainya lurus maka aku bisa melihat dengan jelas meski jauh.

Orang tersebut tetap melakukan kegiatanya. Aku mulai berpikir siapa malam-malam gini mencuci di sungai. Mulai menerka siapa orangnya sambil mengingat rumah terdekat. Aku makin fokus pada sosok tersebut yang tampak biasa saja. Semakin aku perhatikan ada yang aneh. Sosok tersebut kerdil tinggi badannya hanya setinggi batu yang menjadi tempat ia meletakan obornya padahal sosok tersebut sudah berada di air. Pikiran ku makin melayang semakin penasaran siapa sosok kerdil tersebut sepertinya tidak ada diantara orang yang tinggal di sekitar memiliki tubuh kerdil. Jika ia balita, lah masa iya balita malam-malam ke sungai sendiri?

Duh kenapa sekarang jadi merinding nulisnya, padahal siang.

Lanjut, tiba-tiba sosok tersebut nampak naik dari air ke atas batu sambil meletakan barang entah apa bentuknya. Dan benar sosok tersebut terlihat kerdil jelas sekali karena sosok tesebut berdiri di sebelah obornya dan tingginya tidak lebih dari obor tersebut. Sejurus kemudian dia mengambil obor dan wadah yang ia bawa naik ke batu sebelahnya dan berjalan maniki tangga batu. Dan lap! sosok tersebut berubah menjadi cahaya berwarna melewati rimbun pepohonan.

Aku melongo terkejut dengan apa yang aku lihat. Tidak tahu apa bapak ku melihat juga. Tapi saat itu aku anehnya biasa saja. Masih di tempat yang sama tidak menjerit ketakutan atau langsung lari seperti di video prank-prank di youtube sekarang. Dalam hati, oh iya mungkin ini yang namanya hantu obor teman-teman pernah cerita katanya ada hantu obor.

Setelah selesai, aku mengajak bapak pulang dan kami pun berjalan biasa menuju rumah. Aku tidak bertanya pada bapak ku apakah tadi melihat sosok tersebut. Dari tempat bapak ku menunggu, sosok tersebut juga pasti terlihat. Apa bapak ku sengaja diam saja agar aku tidak takut padahal melihat atau apa tidak tahu. Bahkan sampai sekarang belum pernah tek ceritakan sama bapak ku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun