Iwan Piliang
Iwan Piliang

Business: Products; Trading Fine Gold 99.99%, Antam, LBMA premium price, Trading Coal & Crude Oil; Services: Money Changer, Spin Doctor, Content Director for PR, Private Investigator. Social Activities: Citizen Reporter, Private Investigator. email: iwan.piliang7@yahoo.com\r\nmobile +628128808108\r\nfacebook: Iwan Piliang Dua , Twitter @iwanpiliang7

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Jurnalisme dan Pers Kian Penting di Tengah Konten Sosmed yang Blur dan Miring

10 Februari 2018   12:03 Diperbarui: 11 Februari 2018   14:53 1647 3 0
Jurnalisme dan Pers Kian Penting di Tengah Konten Sosmed yang Blur dan Miring
https://assignmentstudio.net

Presiden Joko Widodo di puncak Hari Pers Nasional kemarin, 9 Februari 2018, di Padang, meyakinkan bahwa medium baru, seperti online, Sosmed tak akan mengalahkan pers dan jurnalistik. Dunia jurnalisme akan terus berkembang dan dibutuhkan.

Di tengah tahun politik saat ini, di tengah sosmed kita diisi pembuat konten tak berbekal prinsip dasar jurnalisme, fakta menjadi blur. Blur, judul buku ditulis Bill Kovach, juga penulis The Element Journalism. Dunia di dalam buku Blur dikatakan tsunami informasi mengalami turbulensi blur, bias-bias diteruskan kian membiaskan. Maka jurnalisme menjadi pondasi filter sejak peradaban tumbuh hingga akhir zaman. Jurnalisme seperti apa?

Jurnalis, media, pers, tetap komit kepada esensi dasar jurnalisme, rendah hati verifikasi tiada henti mencari fakta kebenaran. Laku itu, kudu dilandasi hati nurani, akal dan budi. Inti persoalan seteguh apa dan segigih mana jurnalis tetap menjaga berhati-nurani, berakal dan berbudi?

Akal dan budi tergantung asupan bacaan, pengalaman batin, perjalanan melihat warganya dan mencium peradaban dunia baik pernah biadab terlebih merujuk ke kemuliaan peradaban di mana-mana.

Dalam kerangka di atas, saya ingin membedah heboh konten sosmed pem-bully saya karena: kembali dekatnya Iwan Piliang ke Presiden Joko Widodo. Sebagai pendukung Presiden Jokowi sejak dari Solo, akhir 2008, saya bukanlah tukang pembuat konten sosmed. Sejak lama saya seorang content director dengan fokus tajam sebagai spin doctor di bidang komunikasi publik. Pendidikan saya kebetulan juga komunikasi massa.

Saya datang ke Solo mencari Pak Jokowi, awal Januari 2009, sebagai kawan dengan paradigma sosok bisa ubah bangsa mereka punya produk dan atau jasa masuk pasar. Income-nya independen. Mempersingkat kata, saya memang mendukung hingga menjadi presiden melalui core competence saya.

Saya wartawan mainstream 1984-1989, lalu berbisnis di industri komunikasi dan kreatif --kini trader emas-- lantas era reformasi mengembangkan citizen journalist dan aktif menulis di sosmed. Pondasi saya tetap ruh tiga alinea awal tulisan di kolom ini.

Setelah Pak Jokowi duduk di istana, ketika medio 2015 terjadi pembredelan situs internet Islam, seperti Tarbiyah, saya mengritisi keras kebijakan pemerintah. Jejak digital itu, antara lain, membuat bully akhir pekan ini terhadap saya tajam.

Ruh junalisme masih melekat di dada saya. Penulis senior seperti Amarzan Loebis, TEMPO, pernah mengatakan jika bekal pendidikan jurnalis ada di lubuk hati seseorang, dan menjalankan kewartawanan dengan benar, maka, "Laku seseorang itu bagaikan kena kutukan jurnalisme, ia menjadi insan sangat idealis."

Mengacu ke kalimat Amarzan tadi, maka di dalam dunia bisnis saya acap dituding relasi terlalu idealis hingga saat ini.

"Heboh" saya berada di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, petang 8 Februari 2018, di mana saya hadir di sisi Pak Jokowi, bermula dari pertemuan saya dengan Presiden 22 Januari 2018 di Palembang. Sebagai sosok pernah mendukung dirinya, silaturahim tentulah petuah diajarkan agama, maka ketika dapat bersua, dengan konsisten saya manfaat sebagai spin doctor: Apakah salah saya menyarankan presiden di Hari Pers berkunjung ke rumah kelahiran Adinegoro, tepatnya Djamaloedin Datoek Maradjo Soetan?

Latarnya, setelah wafat 50 tahun Adinegoro, nama pena, walau namanya diabadikan sebagai Pulitzer Prize-nya Indonesia, tak banyak orang paham siapa dia?

Acap saya diundang berbicara di kampus-kampus, FISIP, saya tanya siapa tahu buku Melawat ke Barat? Aula kampus senyap. Padahal karena buku itulah antara lain nama Adinegoro ditahbiskan sebagai julukan bagi karya jurnalistik terbaik Indonesia dan diberikan setiap tahun oleh PWI.

Kepada Bapak Presiden saya sampaikan pula bahwa persoalan peradaban kita kini rendahnya minat membaca buku, terlebih sastra. Bandingkan dengan di Inggris kelas SMP wajib membaca karya Shakespeare.

Maka presiden bilang ingin sekali membagikan buku Melawat ke Barat di Hari Pers. Dengan ketulusan hati saya dibantu kawan-kawan jaringan menghubungi keluarga. Di luar dugaan saya pun baru ngeh kalau Adiwarsita Adinegoro, 72 tahun, senior saya di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dulu, putera ke-3 Adinegoro, memudahkan mendapatkan bahan, ijin terbit.

Jaringan kami, termasuk Tim Echo, menerbitkan bersama Yayasan Penglima Besar Soedirman, diproses kilat, termasuk ISBN ada. Dan ini pertama dalam sejarah kita tiga jilid buku Adinegoro digabung ke dalam satu buku, dikerjakan dalam hitungan hari, jadi bisa dibagi 1.500 eksemplar eksklusif, masing-masing 557 halaman. Semua ini terjadi, tidak berlebihan saya katakan karena seluruh tim terlibat modal utamanya kebersihan hati. Di IPCenter kini masih ada 300 eksemplar, menurut keluarga, untuk dibagikan gratis ke lembaga pendidikan.

Lantas apa harus di-bully?

Bila di sosmed, ada konten terkesan nyinyir menanggapi hal ini sah saja. Saya bukan orang partai politik. Pendidikan, pengalaman, latar sudah saya katakan di atas. Kalau cuma pembuat konten maki-maki saya, anak saya, Aku Alesia, paling kecil, juga canggih bikin konten dan sangat mengerti adab, paham etik.

Tapi sebagai anak, Aku, pastilah takzim, paling beradab ke ayahnya.

Beda dengan di sosmed mereka semua bukan anak saya.

Apalagi saya tak paham apakah mereka semua pernah membaca novel "Harimau-Harimau"-nya Mochtar Loebis? 

Aku Alesia, masih kecil sudah membaca Harimau-Harimau. Ia mafhum, bunuhlah Harimau di dirimu terlebih dahulu maka lubuk hatimu akan memandu lalu melalui ruh illahiah menggiring akal; dan budi menyampaikan kebenaran. Bukan hoaks, apalagi fitnah. Demikian.