Mohon tunggu...
IVANA A.
IVANA A. Mohon Tunggu... Mahasiswa

Human Society

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Islam dan Stratifikasi Sosial dalam Masyarakat

25 Januari 2021   00:00 Diperbarui: 25 Januari 2021   00:07 110 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Islam dan Stratifikasi Sosial dalam Masyarakat
Sumber: Medicaldaily.com

Stratifikasi sosial yaitu ketidak samaan kelas atau level, perbedaan tingkatan. Menurut J. Dwi Narwoko-Bagong Suyanto, stratifikasi sosial yaitu berkaitan dengan adanya dua atau lebih kelompok-kelompok bertingkat dalam suatu masyarakat tertentu, yang anggota-anggotanya mempunyai kekuasaan, hak-hak istimewa dan prestise yang tidak sama pula.

Dalam islam, faktor penyebab stratifikasi sosial, bukan saja karena faktor ekonomi, tingkat pendidikan, sumber daya manusia, suku, bangsa, tetapi faktor keislaman, keimanan, pengamalan agama dan etos kerja. Munculnya perbedaan kelas dalam masyarakat Arab disebabkan oleh perbedaan status sosial, etnis, suku, bangsa, dan tingkat ekonomi. Ada tiga aspek karakteristik stratifikasi sosial yaitu pertama, perbedaan tingkat kemampuan masyarakat. Kedua, perbedaan dalam gaya hidup. Ketiga, perbedaan dalam hak dan akses untuk memanfaatkan sumber daya.

Lalu, ada dua unsur penting di dalam stratifikasi sosial yaitu kedudukan atau status sosial dan peran sosial. Kedudukan atau status sosial maksudnya posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Dalam kehidupan sosial ada dua jenisnya yaitu pertama, ascribed status maksudnya status sosial yang diperoleh sejak lahir. Kedua, achieved status maksudnya status yang diperoleh berdasarkan prestasi, keahlian dan profesional.

Dalam pandangan islam, stratifikasi sosial dianggap sebagai sunnatullah atau hukum alam sebagai fakta empiris yang ditakdirkan oleh Allah terhadap umat manusia. Konsep kelas sosial dalam islam lebih mengarah kepada keadilan sosial. Orang yang mampu atau golongan kaya yang dapat merealisasikan keadilan sosial dipandang sebagai ibadah dan jihad. Salah satu upaya islam untuk memperkecil kesenjangan sosial yang terjadi yaitu dengan menerapkan konsep zakat.

Zakat bukanlah pemberian maupun kebaikan orang yang kaya terhadap fakir atau miskin. Zakat melainkan kewajiban secara teologis maupun politis. Sistem sosial yang dibangun islam bersifat dinamis, yaitu membentik kerjasama satu sama lain, saling membantu dan tidak membentuk iklim sosial yang tidak sehat terutama pada golongan kaya dengan golongan fakir dan miskin. Dengan demikian terbentuklah struktur sosial yang adil diantara sesama umat Islam sehingga kaum yang tidak mampu secara ekonomi tersahuti kepentingannya.   

Jadi, stratifikasi sosial dalam islam lebih mengarah kepada keadilan sosial. Dimana golongan kaya wajib membantu golongan fakir dan miskin. Salah satu upaya agar tidak terjadi kesenjangan sosial yaitu dengan menerapkan konsep zakat. Zakat tersebut dimaksudkan sebagai kewajiban untuk semua masyarakat. Al-qur'an secara tegas menyerukan kepada orang yang mampu secara ekonomi, kekuasaan dan kehormatan tidak hanya berada di tangan orang-orang yang berpunya saja tetapi juga harus menjadi milik orang yang tidak mampu. Meskipun islam mengakui adanya kelas-kelas sosial, kelas-kelas tersebut tidak sama hal nya dengan kelas sosial yang ada di Barat ataupun Yunani. Sekalipun ada konsep tersebut, islam lebih mengarah kepada terciptanya keadian sosial. Sistem sosial yang dibangun oleh islam bersifat dinamis yaitu membentuk kerjasama satu sama lain, saling membantu, dan tidak menyekat antara golongan kaya dengan golongan fakir dan miskin. Islam sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya agar senantiasa terhindar dari adanya konflik.

VIDEO PILIHAN