Mohon tunggu...
Isur Suryati
Isur Suryati Mohon Tunggu... Guru - Menulis adalah mental healing terbaik

Mengajar di SMPN 1 Sumedang, tertarik dengan dunia kepenulisan. Ibu dari tiga anak. Menerbitkan kumpulan cerita pendek berbahasa Sunda berjudul 'Mushap Beureum Ati' (Mushap Merah Hati) pada tahun 2021. Selalu bahagia, bugar dan berkelimpahan rejeki. Itulah motto rasa syukur saya setiap hari.

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Mitigasi Risiko Kenaikan Harga BBM Ala Ibu Rumah Tangga

5 September 2022   17:30 Diperbarui: 6 September 2022   07:29 916
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dengan cara menanam cabai, tomat, bawang daun, seledri, kunyit, sayur-sayuran, dan lain-lain. Benar saja, saya sudah tidak direpotkan lagi untuk mengejar-ngejar Kang Sayur. 

Selain itu, anggaran untuk biaya makan sehari-hari pun menjadi hemat. Kita tinggal petik saja dari kebun mini di pekarangan rumah. Praktis dan tentu saja lebih menyehatkan. Karena, ditanam secara organik tanpa menggunakan pupuk yang berbahan kimia.

Mengapa, kita harus fokus pada ketahanan pangan. Karena, hanya sektor inilah yang dapat dikendalikan dari dalam. Sektor dana transpor dan belanja bulanan merupakan faktor eksternal yang berada di luar kekuasaan kita. 

Selain ketahanan pangan, ada upaya lain menekan biaya makan. Yakni, menyiapkan makanan berdasarkan permintaan anggota keluarga. Hal ini, saya rasa lebih hemat dan ekonomis. Tidak ada makanan yang terbuang. Waktu dan tenaga juga jadi lebih produktif.

Dulu, saya memasak satu atau dua menu dalam satu kali jadwal makan. Umpama, pagi-pagi memasak sayur dan goreng telur. Ternyata, anak-anak dan suami malah makan mie atau menggoreng nugget. 

Akhirnya, rubah haluan deh. Fokus pada menyediakan semua bahan yang biasa disukai anak-anak dan suami, yakni telur, tahu, tempe, nugget, sosis, mie, dan ikan asin. Saya pun memasak berdasarkan pesanan seperti di warung nasi.

3. Limitation

Kenaikan harga BBM bukan barang baru. Setiap tahun sudah dapat diprediksi, bakal naik. Tapi, tetap saja kita merasa kaget, ya. Seharusnya, bila hal ini sudah bersifat rutin, kita sudah bersiap. Karena, kenaikan BBM sudah ibarat anak kembar dengan kenaikan harga bahan pokok lainnya. Bila yang satu ingin naik, maka adik kembarnya pun ikut-ikutan mau naik.

Pintar-pintar kita dalam menyikapinya. Formula dan rumus seperti apa yang dapat diterapkan. Agar kenaikan harga tidak mengganggu stabilitas perekonomian rumah tangga. 

4. Transference

Saat kita tidak sanggup menelan pil pahit kenaikan harga ini sendirian. Ajaklah suami sebagai partner dan mitra berdiskusi, mencari solusi dalam mengatasi membengkaknya pengeluaran sebagai dampak kenaikan harga tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun