Mohon tunggu...
Iskandar Zulkarnain Tabroni
Iskandar Zulkarnain Tabroni Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis

Seorang Lulusan Sosiologi dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Senang dengan dunia otomotif, dan menjadikan kegiatan mengendarai sepeda motor sebagai bentuk hobi.

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Ngabers, Apa Sih Artinya?

15 Juli 2022   21:40 Diperbarui: 15 Juli 2022   22:44 346 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

NGABERS, apa artinya?

Beberapa tahun ke belakang, ramai penggunaan kata "ngabers" di media sosial yang seringkali dipakai oleh netizen untuk menunjuk sekelompok orang yang melakukan aktivitas tertentu. Selain dalam media sosial, bahasa gaul ini juga dapat terdengar dikalangan remaja-remaja yang aktif di dunia sepeda motor. Namun, sebenarnya apa arti sesungguhnya dari kata tersebut dan bagaimana asalnya kata tersebut dapat muncul belumlah jelas. Dalam tulisan kali ini, penulis ingin menyampaikan apa yang menjadi opini penulis terhadap bahasa gaul yang unik ini.

Menelisik mundur lebih jauh, penggunaan bahasa gaul atau prokem merupakan hal yang lumrah digunakan di Jakarta. Ragam bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar ini sudah muncul sejak tahun 1970-an. Bahasa gaul ini seringkali merupakan sebuah kata asli atau dialek bahasa yang diberikan sisipan. Seperti kata Bapak yang mengalami penyisipan "ok" sehingga dipotong dan kemudian menjadi kata Bokap (Kridalaksana, 2008). Ragam bahasa terus bertambah dimana penyisipan, pemaknaannya, serta cara pengucapannya terus berkembang mengikuti periode waktu dimana kata tersebut digunakan, salah satunya dengan munculnya kata ngabers ini.

Ngabers sendiri berasal dari kata "abang", yang dipotong menjadi "bang" lalu diucapkan secara terbalik dan kemudian diberikan imbuhan akhiran ers. Imbuhan akhiran (suffix) ers ini berasal dari Bahasa Inggris, yaitu er yang menunjukkan seseorang yang sedang melakukan suatu hal tertentu. Imbuhan er ini diberi tambahan s sehingga ers menunjukkan kepemilikan orang banyak. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa kata ngabers merupakan sekelompok laki-laki yang sedang melakukan suatu hal tertentu. Namun hal seperti apa yang dilakukan sehingga dapat disebut ngabers? Apakah spesifik di dunia roda dua saja, dalam hal ini sepeda motor, atau kata ini sebenarnya berlaku universal? Lalu bermakna positif, netral, atau negatif?.

Sebagai seorang yang dekat dengan aktivitas roda dua di Jakarta, penulis tentu tidak asing dengan kata ngabers. Penulis berpendapat bahwa kata ini cenderung dekat dalam hal konsep dan maknanya dengan kata jamet. Jamet (Jawa Metal/Jajal Metal) sendiri merupakan kata yang digunakan untuk mengklasifikasikan kelompok masyarakat tertentu, dimana jamet ini ditujukan pada kelompok yang cenderung aneh (nyeleneh), dan tidak sejalan dengan norma mayoritas yang berlaku. Kriteria nyeleneh ini seringkali berputar pada penampilan, dan tingkah laku. Dalam hal ini diantaranya adalah gaya berias (berdandan), selera berpakaian, atau tingkah laku yang aneh. Sebagai contoh, seseorang akan dicemooh jamet jika menggunakan pakaian nyentrik dan aneh diluar kebiasaan atau mode fashion yang sedang tren.

Ngabers sebutan untuk "anak motor" yang mana?

Nyeleneh, tidak sesuai norma, merupakan kata kunci yang bisa diaplikasikan untuk memahami kata ngabers. Kata ngab sendiri merupakan kata panggilan yang sifatnya universal, seringkali digunakan para remaja ketika berkumpul (nongkrong). Namun kata Ngabers cenderung berkonotasi negatif dan dominan digunakan untuk menunjuk para remaja penggemar sepeda motor. Ngabers dapat diartikan sebagai sekelompok laki-laki yang gemar mengendarai sepeda motor namun memiliki perilaku berkendara yang nyeleneh, tidak sesuai, ataupun melanggar aturan lalu lintas. Kriteria pengendara sepeda motor serta perilaku yang dianggap nyeleneh dan melanggar aturan ini juga sangatlah dinamis mengikuti tren yang sedang berlaku.

Sama halnya dengan jamet,  Kriteria pengendara sepeda motor yang termasuk sebagai ngabers dapat dicontohkan dalam hal selera modifikasi sepeda motor yang dilakukan. Modifikasi yang cenderung merugikan orang lain seperti memotong spakbor bagian belakang dan melepas spion agar terkesan lebih sporty merupakan beberapa contohnya. Selain dari sisi modifikasi, sisi perilaku berkendara pun dapat kita amati. Sebagai contoh, dari sisi perilaku berkendara pertama adalah tindakan yang mengabaikan sisi keamanan berkendara, seperti tidak memakai sepatu, tidak mengenakan helm, serta belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) karena belum cukup umur. Dari sisi aktivitas juga dapat dikenali dengan mudah. Ciri-ciri seperti berkendara berkelompok dengan satu selera yang sama, jenis sepeda motor yang seragam, menempati titik-titik di Ibukota yang tren menjadi tempat kumpul di kalangan "anak motor", dan seringkali berkendara dengan kecepatan tinggi, bermanuver di tikungan, serta melakukan atraksi seperti wheelie di jalan raya umum juga menjadi beberapa indikator kriteria perilaku berkendara para ngabers.

Tentunya terdapat faktor lain diluar kriteria yang penulis uraikan. Riset mendalam diperlukan untuk membedahnya secara lebih komprehensif dan mendetail. Namun benang merah yang diperlukan dapat terjawab, bahwa ngabers tidaklah merujuk pada kelompok anak motor tertentu. Ngabers bersifat umum dimana ia merujuk pada seluruh "anak motor" yang berkelompok dan melakukan kegiatan yang cenderung nyeleneh, berlawananan dengan norma kebiasaan masyarakat, serta cenderung melanggar aturan lalu lintas, dimana aspek tersebut dapat dilihat melalui contoh selera modifikasi dan perilaku berkendara yang telah penulis jabarkan sebelumnya.

Kesimpulan:

Tendensi mayoritas yang terkonstruk dalam masyarakat mengenai kata ngabers melekat kepada para pengguna sepeda motor matic (Aerox, Vario, Nmax, dll) tentunya tidaklah tepat. Berdasarkan opini dan penjabaran penulis diatas, pada hakikatnya kata ngabers tersebut merujuk pada seluruh "anak motor" yang cenderung nyeleneh, berlawananan dengan norma kebiasaan masyarakat, serta cenderung melanggar aturan lalu lintas. Tendensi terhadap user sepeda motor matic tersebut dapat terjadi karena berbanding lurusnya market share penjualan jenis sepeda motor matic yang menguasai pasar dengan banyaknya pengendara yang termasuk kriteria ngabers tersebut. Banyaknya sepeda motor matic digunakan di jalan dengan kombinasi pengendara yang cenderung belum bijaksana dalam perilaku berkendara melahirkan imej negatif yang kemudian dimaknai dan diartikan oleh netizen dengan menggunakan kata ngabers. Sifat kata ngabers yang sebelumnya universal perlahan menjadi melekat spesifik untuk pengguna sepeda motor matic. Tentu, dengan imej yang sudah terlanjut terkonstruk, kita dapat memberikan pemahaman bahwa ngabers berlaku untuk semua "anak motor".

Referensi:

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Edisi ke-4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan