Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Gelembung Biaya Transfer di Eropa, di Liga Saudi Bagaimana?

26 Agustus 2023   05:22 Diperbarui: 26 Agustus 2023   05:32 341
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemain klub Juventus|dok. AP/Marco Bucco, dimuat Kompas.id

Sepak bola di masa sekarang ternyata bukan lagi sekadar olahraga, tapi telah berkembang pesat sekali sebagai suatu industri yang nilai bisnisnya sangat besar.

Jangan heran kalau berbagai klub sepak bola profesional di Eropa telah diakuisisi oleh orang superkaya dari luar Eropa, termasuk crazy rich dari Timur Tengah.

Kabar terbaru, klub Manchester United segara dikuasai oleh Seikh Jassim bin Hamad al-Thani dari Qatar dengan nilai sekitar Rp 116,08 triliun (Kompas, 24/8/2023).

Tentu, klub-klub kaya raya itu gampang saja merogoh keceknya dalam-dalam, untuk membeli pemain mahabintang dengan harga yang sangat mahal.

Nah, melihat fenomena seperti itu, regulasi dalam sepak bola perlu juga mengatur soal keuangan klub, jangan hanya mengatur ketentuan dalam pertandingan sepak bola.


Regulasi di bidang keuangan klub di Eropa telah membawa korban, antara lain klub Manchester United dan Barcelona dikenakan denda, yang jika dirupiahkan, besarnya miliaran rupiah.

Baru-baru ini klub Juventus, nama besar dalam sepak bola Italia, diberitakan terlibat dalam skandal laporan keuangan palsu, yang berakibatkan hukuman pengurangan 10 poin.

Hal itu terungkap setelah dilakukannya investigasi selama satu tahun, seperti yang ditulis dalam Tajuk Rencana Kompas (25/5/2023).

Hukuman tersebut menjadi penegas bahwa sportivitas dan keadilan harus ditegakkan tidak saja di lapangan hijau, tapi juga di luar lapangan.

Maksudnya, tidak ada tempat lagi bagi klub-klub di Eropa untuk melakukan kecurangan. Mentang-mentang kaya bukan berarti akan mendapat keistimewaan.

Juventus terbukti menggelembungkan biaya transfer untuk meningkatkan perolehan modal. 

Lebih lanjut football-italia.net menulis, Juve dituduh menaikkan biaya transfer secara artifisial dalam kesempatan pertukaran untuk meningkatkan keuntungan modal.

Dengan begitu, kelihatan seolah-olah Juventus sedang memindahkan lebih banyak aset dan menciptakan keuntungan modal 'palsu'.

Hulu skandal ini adalah aturan Financial Fair Play (FFP) yang disusun Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan diberlakukan terhadap semua klub profesional negara anggota UEFA sejak 2010.

Dalam ketentuan FFP, semua klub wajib mempunyai neraca keuangan yang sehat, menyeimbangkan antara pendapatan dan pengeluaran.

Dengan demikian akan tercipta persaingan yang sehat, karena klub yang dimiliki crazy rich tak bisa seenaknya membeli pemain yang berkategori maha bintang dengan harga gila-gilaan.

Bukankah harga yang terlalu tinggi bisa membuat ketidakseimbangan dengan pendapatan klub, meskipun sumber pendapatan bisa dari sponsor, hak siar televisi, dan tiket pertandingan.

Pemilik yang kaya raya bisa jadi tidak peduli dengan kerugian klub, toh bisa ditutupi dari bisnisnya yang sudah jadi raksasa, mungkin di bidang properti, atau bidang lain.

Masalahnya, jika pemilik klub memang berniat "membakar uang", akan terjadi persaingan tidak sehat, karena klub yang tidak dimiliki konglomerat akan kebagian pemain-pemain kelas dua.

Begitu ketatnya peraturan di Eropa, bagaimana dengan liga sepak bola di luar Eropa? Apakah sudah saatnya seluruh dunia mengadopsi ketentuan FFP?

Sebagai contoh, di Arab Saudi dengan kondisi ekonomi dan sosial yang semakin terbuka, sudah bikin geger persepakbolaan dunia.

Tak bisa dipungkiri, sekarang ini Liga Saudi lagi menjadi pusat perhatian karena uang yang digelontorkannya demikian besar demi mendatangkan pemain bintang 

Tercatat nama besar seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan baru-baru ini juga Neymar telah bergabung di sebuah klub Saudi.

Nama-nama klub Al Nassr, Al Ittihad, dan Al Hilal semakin terkenal karena diperkuat pemain-pemain di atas.

FFP memang belum diberlakukan di Asia. Tapi, melihat mulai "gila-gilaan"-nya Liga Arab Saudi, mungkin sudah saatnya dibentengi dengan FFP.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun