Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Ketika Jadi Orang Kantoran Bukan Lagi Impian

2 Oktober 2020   19:45 Diperbarui: 3 Oktober 2020   04:56 595
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya beberapa kali membaca puisi Khalil Gibran yang berjudul "Anakmu Bukanlah Milikmu". Secara umum saya memahami bahwa puisi tersebut menghendaki orang tua yang tidak mendikte anak-anaknya, karena mereka punya dunianya sendiri.

Namun demikian, tak urung saya sering mencemaskan masa depan ketiga anak saya. Yang sulung kendati telah menamatkan kuliahnya, tak tertarik bekerja secara formal, lebih asyik di bidang desain grafis, tapi baru sesekali menerima pesanan dari teman-temannya sendiri dengan harga pertemanan.

Anak saya yang tengah, memang bekerja sebagai orang kantoran, seperti yang saya inginkan. Tapi, ia sering mengeluh tidak betah dengan pekerjaannya. 

Di perusahaan pertama, ia hanya tahan selama 6 bulan, lalu menganggur 3 bulan, dan sekarang sudah 6 bulan bekerja di perusahaan sekuritas.

Impian anak saya tersebut bekerja hanya untuk mengumpulkan tabungan, nantinya tetap menginginkan berkarier di bidang musik atau bidang lain yang bersinggungan dengan musik. Sekarang pun, sepulang dari kantor, ia sering latihan main band dengan teman-temannya.

Anak bungsu saya sudah berada di semester 7, kuliahnya di jurusan yang memang ia minati, broadcasting. Sekarang ia lagi magang di sebuah perusahaan production house. Ia juga sudah menyatakan tidak tertarik jadi orang kantoran.

Tanpa saya arahkan, mereka bertiga relatif kompak membuat video saat anak yang nomor dua lagi main musik. Saya tidak tahu, video tersebut diunggah di mana, dan sudah berapa banyak warganet yang menonton tayangannya. Jujur, saya memang kurang aktif dalam bermedia sosial.

Tampaknya, ketiga anak saya tidak menginginkan pekerjaan formal yang terkungkung oleh rutinitas, tapi menyukai bidang yang sekarang disebut sebagai industri kreatif. Tak ada yang salah menurut saya. Ada banyak orang yang sukses dan hidup mapan dari industri kreatif.

Namun jangan dilupakan, lebih banyak lagi orang yang sudah bersusah payah berkarya, tapi harus selalu bersabar sampai entah kapan, karena industri yang berkaitan dengan popularitas itu tidak bisa diprediksi hasilnya secara matematis.

Itulah yang kadang-kadang saya cemaskan, apakah anak-anak saya mampu menyandarkan hidupnya sampai tua dari industri kreatif tersebut?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun