Irmina Gultom
Irmina Gultom Apoteker

A Pharmacist who love reading, traveling, photography, movies and share them into a write | Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta | IG: https://www.instagram.com/irmina_gultom/ | https://marvelousthings250552759.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

"Devoyage", Wisata Baru di Bogor untuk yang Hobi "Selfie"

12 September 2018   09:00 Diperbarui: 12 September 2018   09:02 512 3 1
"Devoyage", Wisata Baru di Bogor untuk yang Hobi "Selfie"
Dokpri

Sejak menjamurnya smartphone didukung dengan koneksi internet, plus media sosial dan berbagai aplikasi photo editor, kaum muda zaman sekarang (bahkan juga generasi orangtua) tampaknya selalu mengabadikan setiap kegiatan mereka dalam bentuk foto.

Makan, olahraga, traveling, reuni, ngobrol & ngopi cantik, hingga OOTD (Outfit of the Day) dan MOTD (Makeup of the Day). Tinggal siapkan smartphone canggih dan arahkan ke wajah sendiri, jepret, edit, terus upload deh di media sosial. Tinggal tunggu jumlah like/love dan komentar-komentar dari friends/followers.

Kalau saya sih, dibandingkan selfie, lebih suka mengambil gambar landscape (pemandangan). Jadi untuk kamu-kamu yang hobi selfie atau difoto, ada tempat wisata yang lumayan baru di daerah Bogor yang bisa kamu kunjungi bersama teman, sahabat, pacar maupun keluarga.

Berawal dari rasa penasaran saya untuk meng-explore Kota Bogor (yang kini juga menjadi kota tempat tinggal saya yang baru), saya mencoba untuk mencari tempat wisata baru (atau yang mungkin belum pernah saya kunjungi) yang unik dan bertemakan budaya atau alam selain Kebun Raya Bogor. Dan kebetulan sekali saya melihat postingan salah satu teman saya di Instagram tentang Devoyage.

Dokpri
Dokpri
Terletak di dalam area Bogor Nirwana Residence (dekat The Jungle Bogor), Devoyage sebenarnya adalah sebuah kompleks berupa miniatur desa bergaya Eropa (European Looks) khususnya Belanda, Italia dan Prancis. Rupa-rupanya, Devoyage boleh dibilang masih tergolong tempat wisata baru karena peresmiannya baru dilaksanakan April 2018 lalu. Meskipun begitu, nampaknya tempat ini sudah terdengar kemana-mana karena pengunjungnya sudah banyak.

Namanya juga miniatur, Devoyage didesain dengan berbagai properti yang full color seperti rumah-rumah khas Belanda lengkap dengan kanal dan kincir airnya. Selain itu ada juga miniatur Menara Eiffel dan kanal beserta gondolanya.

Dokpri
Dokpri
Sekilas, konsep tempat ini seperti Le Petit France di Korea (baca artikelnya di sini), namun dengan area yang lebih kecil. Penataan properti yang apik, membuat tempat ini cocok sekali untuk mereka yang hobi berfoto selfie maupun untuk pasangan yang akan melakukan foto pre-wedding.

Selain selfie, Devoyage juga menyediakan area-area untuk bermain games, berfoto dengan memakai kostum khas Belanda hingga mencoba gondola ala Venesia di kanal buatan. Tentunya masing-masing dikenakan biaya terpisah dari harga tiket masuk. Tapi karena kebetulan saya hanya ingin melihat-lihat, saya tidak mencoba ketiga kegiatan tersebut.

Mengusung tema Holiday, Selfie and Foodies, disini pengunjung tidak hanya bisa selfie. Usai berfoto ria, pengunjung bisa mencoba makanan khas western di restoran yang terletak di luar area. Selain itu Devoyage juga menyediakan toko suvenir yang menjual mug, T-shirt, gantungan kunci, hingga snack ringan. Tapi sejujurnya, harganya kurang worth it untuk suvenir semacam itu :(

Dokpri
Dokpri
Lalu bagaimana kesan setelah mengunjungi Devoyage? Sejujurnya bagi saya pribadi, Devoyage sedikit mengecewakan saya atau malah mungkin ekspektasi saya yang terlalu tinggi. Secara konsep sebenarnya Devoyage cukup memuaskan tapi ketika kita sudah memasukinya, komentar "Oh, ternyata gini doang!" seakan tidak bisa ditahan keluar dari mulut. Tidak hanya saya, tapi dari beberapa pengunjung lain, saya juga mendengar komentar yang sama. Mengapa?

Area tidak terlalu besar

Kalau pengunjungnya sedikit sih rasa-rasanya tidak masalah ya. Tapi yang namanya wisatawan Indonesia yang kalau sudah dengar ada tempat wisata baru, mereka pasti langsung berbondong-bondong ke sana membawa handai taulan bak laron yang melihat sumber cahaya.

Seperti yang saya alami, kebetulan hari saat saya berkunjung bertepatan dengan hari libur Tahun Baru Hijriah plus kebetulan ada event gathering karyawan dan keluarga dari salah satu kantor di Jakarta. Jadi meskipun saya sudah sengaja berangkat pagi-pagi sebelum loket buka, nyatanya area ticketing sudah penuh dengan antrean pengunjung!

Alhasil begitu loket dibuka, pengunjung yang sudah membeli tiket langsung merangsek masuk memenuhi setiap inchi tempat. Mood saya  langsung hilang seketika karena saya sendiri tidak suka berfoto dengan terlalu banyak orang di latar saya. Dan sepanjang pengamatan saya di sana, banyak pengunjung yang juga merasa tidak nyaman karena sesi foto mereka terganggu dengan banyaknya pengunjung yang sering menghalangi.

Saya sempat berpikir, karena tempat ini memang ditujukan seperti foto studio outdoor, seharusnya jika memang sedang banyak pengunjung, jumlah yang masuk dibatasi supaya pengunjung juga lebih puas untuk berfoto di (yang katanya ada) 150 spot foto. Pasti gak asik dong sudah pasang pose yang pas, tiba-tiba ada orang yang lewat menghalangi kamera. Pasti kesal banget rasanya. Belum lagi kalau ada orang atau grup yang memonopoli satu spot foto padahal posenya sama-sama juga. Pasti geregetan rasanya pengen bilang, "Gantian dong!".

Dokpri
Dokpri
Saya jadi ingat sewaktu mengantre foto di salah satu karya Yayoi Kusama bertajuk Infinity Room (baca artikelnya di sini) di Museum MACAN , dimana pengunjung hanya diberi waktu sekitar setengah menit untuk berfoto karena saking banyaknya pengunjung.

Selain itu, jika pengunjung terlalu crowded, tentu resiko kerusakan properti hingga sampah menjadi hal yang memerlukan pengawasan ekstra. Tahu sendiri kan tipe turis Indonesia? Capek banget kan kalau properti-properti yang sudah dicat warna-warni nan cantik itu tiba-tiba cacat atau rusak?

Properti yang dibuat kurang maksimal

Sekali lagi mungkin ini karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi, jadi mungkin orang lain memiliki pendapat yang berbeda dengan saya. Meskipun penampakan di luarnya ciamik. Sayang sekali Devoyage ini tidak membuat properti-propertinya secara untuh. Dibandingkan dengan Le Petit France di Korea yang propertinya dibuat secara utuh mulai dari tampak depan hingga ruangan di dalamnya yang dekoratif plus perabotan pendukung dan pendingin ruangan (AC) sehingga pengunjung bisa duduk-duduk dan berfoto di dalam ruangan, Devoyage hanya membuat properti tampak depan saja dan tidak bisa dimasuki kecuali properti tersebut memang dibuat untuk area permainan.

Kalau Le Petit France mengkombinasikan properti foto dengan berbagai cerita sejarah yang menyertai konsep tempat wisata tersebut (misalnya biografi pengarang novel The Little Prince yang terkenal), Devoyage benar-benar murni hanya untuk berfoto tanpa ada embel-embel cerita dibalik layar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2