Mohon tunggu...
Irene Cynthia Hadi
Irene Cynthia Hadi Mohon Tunggu... Jurnalis

Just an ordinary girl from Surakarta, who writes perfect moments at the perfect time...

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Review Film "Aladdin", Petualangan Klasik Penuh Warna dan Perjuangan Feminisme

27 Mei 2019   21:37 Diperbarui: 27 Mei 2019   21:53 0 3 1 Mohon Tunggu...
Review Film "Aladdin", Petualangan Klasik Penuh Warna dan Perjuangan Feminisme
Aladdin (Sumber: WTOP.com)

Akhir Maret 2019, kita disuguhkan dengan dunia dongeng klasik Aladdin. Bukan film biasa, Aladdin merupakan perwujudan live-action remake yang sudah digadang-gadang sebagai film fenomenal tahun ini. Kisahnya tetap sama, yakni mengenai petualangan Aladdin, sang pencuri yang jatuh cinta pada seorang putri kerajaan.

Meskipun sudah mengetahui jalan ceritanya, saya tetap menyempatkan diri untuk menonton adaptasi kartun ini. Kisahnya memang sama, namun tentu penggambaran visualnya dibumbui dengan teknologi visual effects yang memanjakan mata. 

Sebagai seorang penikmat kartun Disney, harus saya akui bahwa film ini benar-benar sangat memikat. Mulai dari permainan warna, humornya, setting, pemain hingga musik, semuanya digarap maksimal dari awal sampai akhir.

Namun yang paling menarik ialah aransemen lagu dan musik yang digubah dan dinyanyikan oleh masing-masing pemain. Ya, ada musik rap ala Gennie yang diperankan Will Smith, gubahan fenomenal A Whole New World yang dinyanyikan kembali oleh Mena Massoud dan Naomi Scott serta Speechless. 

Ketiga lagu tersebut dibarengi dengan adegan yang pas sehingga sangat memorable saat kita menonton film ini. Bayangkan saja, jika dulu kita hanya melihat Aladdin dan Jasmine versi kartun, kini kita bisa menyaksikan versi manusia keduanya menaiki karpet terbang melintasi kota, laut dengan lumba-lumba sampai air terjun yang dalam.

Aladdin (Sumber: Slashfilm.com)
Aladdin (Sumber: Slashfilm.com)
Meskipun begitu, ada beberapa hal yang masih menjadi kelemahan Aladdin. Dalam adegan saat Jasmine berusaha kabur di bagian awal film, nampak background setting yang digunakan benar-benar terlihat seperti set studio. 

Selain itu, karakter Jafar pun terasa kurang cocok diperankan oleh marwan Kenzari. Marwan terkesan seperti agak memaksakan aktingnya saat berperan sebagai sang penyihir jahat. Padahal, akting Jafar sebagai seorang villain legendaris sangat dinantikan karena ia merupakan karakter antagonis utama di Aladdin.

Jafar (Sumber: Screenrant)
Jafar (Sumber: Screenrant)
Terlepas dari semua kekurangan dan kelebihan itu, kita dapat mengambil banyak pesan menarik dari film ini. Pertama yakni tentang feminisme. Ya, di antara pesan-pesan lain, feminisme merupakan tema yang cukup kuat karena beberapa kali ditampilkan oleh Putri Jasmine saat ia menentang peraturan kerajaan dan perintah yang menyudutkan dirinya sebagai seorang perempuan. 

Dalam Aladdin, Jasmine kerap kali dipojokkan. Hanya karena ia merupakan seorang perempuan, sudah kodrat Jasmine untuk diam, tidak mengutarakan pendapat, manut kepada laki-laki serta tidak bisa menjadi sultan untuk kerajaannya sendiri. 

Pada akhirnya, Jasmine yang terus dibungkam berusaha memberanikan diri dan berbicara dengan tegas di depan ayahnya, Jafar dan seluruh pengawal kerajaan. Ia pun mendapatkan restu untuk menjadi sultan berikutnya dan menghapuskan peraturan pernikahan dengan seorang pangeran. Jasmine, dalam live action Aladdin berhasil membuat saya terpukau dengan kekuatan dan kepemimpinannya sebagai seorang wanita.

Naomi Scott sebagai Jasmine (Sumber: Youtube)
Naomi Scott sebagai Jasmine (Sumber: Youtube)
Lain halnya dengan Jafar dan Aladdin. Kedua tokoh ini sebenarnya menawarkan pesan yang hampir mirip. Ya, keserakahan. Aladdin yang pada awalnya setia kawan dan rendah hati, berubah menjadi tamak dan tidak jujur usai mendapatkan apa yang ia inginkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x