Ira Lathief
Ira Lathief

a Writer, a Story Teller, a Tour Guide, a Creativepreneur, a Friend for Everybody, a Princess in your heart :-)

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Untuk Apa Move On dan Harus Mendukung Pemimpin Baru Jakarta?

11 Oktober 2017   15:13 Diperbarui: 13 Oktober 2017   13:58 1450 3 0
Untuk Apa Move On dan Harus Mendukung Pemimpin Baru Jakarta?
Sumber: https://news.hargatop.com

 

Banyak statement yang bilang warga Jakarta kini harus move on dari Ahok Djarot dan bersatu untuk mendukung  Gubernur baru.

Saya sih tidak sepenuhnya setuju dg konsep yg "mengharus haruskan" seperti itu.. 

Warga Jakarta pemilih Ahok Djarot  sudah lama Move On dengan cara  legowo menerima hasil Pilkada, walaupun pahit mengingat betapa sangat kentalnya sentimen SARA  yg berusaha menjegal Ahok Djarot sepanjang  Pilkada. Tapi kami move on dengan menerima kenyataan bahwa Ahok Djarot  kalah  dan tidak membuat keributan atau  bikin demo berjilid jilid ke  jalanan. 

Tapi haruskah Move On dari nilai nilai (value) baik   yang diwariskan Ahok -- Djarot seperti integritas tinggi, kejujuran,   pemerintahan yg bersih dan transparan,  adanya berbagai fasilitas dan  pelayanan publik dengan kualitas tinggi, dan adanya perubahan luar biasa  di Jakarta , yakin mau move on? 

Saya yakin warga Jakarta ga  akan mau move on dan melupakan segala nilai kebaikan yang diwariskan  Ahok Djarot, dan inilah yang  pasti akan terus dituntut dari pemimpin  baru Jakarta.  Warga Jakarta kini sudah punya standar sangat tinggi  tentang bagaimana seharusnya pejabat publik melayani warganya

Kalau mengibaratkan layanan pemimpin dg layanan hotel nih, kita warga  Jakarta kini udh biasa dpt layanan hotel kelas bintang lima, masa terus  di downgrade jd dpt kualitas penginapan melati? yakin mau?
.
Lalu, saya juga tidak sepakat dengan ajakan keharusan seluruh warga untuk bersatu mendukung pemimpin baru. 

Bagi saya, konsep "memberi dukungan" untuk para politisi dan pejabat  publik hanya saya berikan setelah melihat prestasi dan hasil kerja nyata  dalam melayani masyarakat.  Bagi saya, memberi dukungan utk pejabat publik itu bukan keharusan,yang "ujug ujug" ada seperti tahu bulat yg digoreng dadakan, tp melalui proses krn si pejabat ybs telah menunjukkan hasil karya nyata.

Saat Jokowi naik jadi Gubernur pun, saya  tidak memilih dan mendukungnya. Tapi setelah melihat sendiri hasil kerja  nyatanya selama 2 tahun di Jakarta, saya jelas turun tangan memberi   dukungan utk Jokowi saat nyapres. Begitupun saat Ahok jd Gubernur  menggantikan Jokowi, respon saya biasa biasa saja. Sampai 3 tahun  belakangan ini saya menyaksikan sendiri betapa hebatnya perubahan di  Jakarta  dg tingkat kepuasan warga mencapai 70 persen menurut hasil  survey, ga ada keraguan sedikitpun bagi saya utk kembali mendukung Ahok  Djarot di Pilkada .

Tapi kalau ada pemimpin yang belum kelihatan  kerjanya, untuk apa harus didukung? Tentu saya menerima fakta bahwa  Anies Sandi adalah pemimpin baru Jakarta, dan saya mendukung Jakarta  untuk terus maju.  Tapi untuk memberi dukungan kepada Anies Sandi ? Itu  tidak bisa saya putuskan saat ini
.
Mungkin nanti, kalau  saya  benar benar melihat hasil kerja nyata Anies Sandi,  minimal bisa  menyamai atau  bahkan melampaui apa yang ditunjukkan pemimpin sebelumnya  , saya akan memberikan.dukungan penuh. 

Saya teringat, saat  membawa rombongan tur di Balaikota untuk rangkaian "Wisata Warisan Ahok dan naik ke Jakarta Smart  City Center (JSC) , tempat Pemprov DKI mengawasi keluhan warga dengan  fasilitas sangat canggih, setelah diberikan berbagai penjelasan oleh  staf JSC , ada salah seorang peserta Tur bertanya :
"Mbak, bagaimana rasanya mau kedatangan pemimpin baru?" 

Jawaban staf JSC itu sangat menarik buat saya , "Walaupun Bapak/Ibu  tidak memilih Gubernur yang baru, tapi kita semua warga DKI harus terus mengawasi kebijakan dan pelayanan dari Pemprov DKI, karena Pak Ahok  telah mewariskan pemerintahan yang bersih , transparan, dan mengutamakan  pelayanan bagi warga Jakarta"

Saya memang tidak memilih dan  tidak mendukung Anies Sandi, tapi saya bersama warga Jakarta tentu akan  ikut  mengawasi pemimpin baru Jakarta dalam memenuhi janji janji politik  mereka saat kampanye. 

Jadi, jangan kecele dengan ajakan "ayolah  move on "  ...jangan jangan itu adalah dalih ga boleh mengkritisi  kinerja pemimpin baru. 

Berikut ini list janji janji Anies Sandi, yang dirangkum Pepih Nugraha

 1. Rumah DP 0 Rupiah
2. Rp. 1 Milyar/RW
3. KJP plus
4. KJS Plus
5. Kartu Jakarta Jomblo
6. Stop reklamasi
7. Tutup Alexis
8. Pengusaha oke oce (dicarikan tempat, dikasih modal & dicarikan pembeli )
9. Transportasi serba Rp. 5.000
10. Ojek terbang
11. Jakarta tanpa menggusur
12. Bebas banjir bebas macet
13. Gubernur merangkul smua ras & agama
14. Jakarta Bersyariah
15. Membangun Stadion Sepakbola sekelas Old Trafford
16. Membuat "Pojok Taaruf" di setiap RPTRA
17. Mengajak pegawai Pemprov DKI berlari ke kantor

18. Anies ingin Berkantor di Kepulauan Seribu

19. Selama jadi Wagub, Sandi tak akan ambil gaji sepeserpun

20. Semua rumah di Rusunawa dijanjikan "hak milik" untuk semua penghuninya
(kalau masih ada lagi yg perlu ditambah di list, silahkan tambahkan di komen)

 Selamat Bekerja Anies Sandi, utk memenuhi janji yang Ok ocE !!