Mohon tunggu...
Ira Lathief
Ira Lathief Mohon Tunggu... Penulis - A Friend for Everybody, A Story Teller by Heart

Blogger、Author of 17 books、Creativepreneur, Founder @wisatakreatifjakarta @festivalkebhinekaan Personal Blog :www.iralennon.blogspot.com. IG @creative_traveler

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Artikel Utama

Siapa Cagub yang Paling Siap Memajukan Industri Kreatif Jakarta?

15 Januari 2017   23:09 Diperbarui: 16 Januari 2017   10:56 1431
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tiga pasangan cagub dan cawagub saat pengundian nomor urut. Kompas.com

Lalu ia bercerita, saat dirinya masih menjadi menteri, ia melihat ada satu lantai (lantai 6) di salah satu gedung Kemendikbud yang tidak optimal terpakai, karena lebih banyak dipakai untuk olahraga tenis meja. Ia pun mengusulkan menjadikan satu lantai gedung itu sebagai area seni pertunjukan dan budaya berkelas internasional dengan budget sekitar belasan milyar. 

Tapi pengajuan proposal Anies itu dicoret oleh Presiden Jokowi. “Jadi kalau saya terpilih sebagai gubernur, saya akan menuntaskan realisasi ide itu dengan menggunakan APBD,” jelas Anies dengan sangat meyakinkan, dan disambut oleh tepukan tangan hadirin.

Eh sebentar sebentar, tapi kok sepertinya saya tidak bisa sepakat dengan gagasan Anies yang satu ini. Pertama, sebagai Mendikbud saat itu, entah Anies sadar atau tidak, Jakarta sudah punya gedung pertunjukan yang berkelas internasional, yaitu Gedung Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki yang dimiliki oleh Pemda DKI (silahkan googling betapa megahnya arsitektur dan fasilitas gedung itu). 

Kebetulan sebagai pecinta seni dan budaya, saya cukup sering melihat pertunjukkan berskala lokal, nasional, hingga internasional di Gedung Teater Jakarta. Saya pun pernah nonton pertunjukkan di Esplanade, dan menurut saya Gedung Teater Jakarta juga gak kalah kualitasnya.

Beberapa tahun lalu, saya menonton pertunjukkan Stand Up Comedy Panji Pragiwaksono (yang saat ini menjadi Juru Bicara Anies) di Gedung Teater Jakarta, yang merupakan pamungkas dari rangkaian tur stand up comedy ke berbagai kota di Indonesia. 

Saya ingat saat membuka pertunjukan, Panji mengucapkan kalimat pembuka dengan kebanggaan seperti ini kira kira “Ini adalah salah satu impian besar saya sebagai Stand Up Comedian, bisa menutup rangkaian tur saya dengan tampil di gedung pertunjukan berkelas internasional seperti Gedung Teater Jakarta ini,“ Saya jadi bertanya tanya, sebagai Mendikbud yang harusnya tahu seluk beluk perihal kebudayaan, tahukah Anies tentang keberadaan Gedung Teater Jakarta?

Kedua, kalau Anies ingin Jakarta punya gedung pertunjukan sekelas dunia seperti Esplanade di Singapura, masa sih ia ingin mewujudkannya di satu lantai suatu gedung? Ini mau buat hall atau gedung pertunjukan? Kalau cuma satu lantai aja, banyak Shopping Mall seperti Gandaria City Mall yang punya hall khusus (Skeeno Hall) untuk berbagai pertunjukkan termasuk untuk konser musisi kelas dunia. Kalau tidak salah, Bruno Mars pun pernah gelar konser di sana.

Ketiga, siapapun yang menjadi Gubernur di Ibukota, tentulah harus berkoordinasi selaras dengan Presiden. Nah, kalau presiden saja mencoret proposal pembangunan “gedung” pertunjukan yang pernah Anies ajukan, tapi ia ingin mewujudkannya dengan APBD kalau terpilih sebagai gubernur, bukankah ini berarti ngeyel sama keputusan Presiden? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nanti bentuk komunikasi Anies dan Jokowi sebagai kepala negara.

Yang menarik adalah saat sesi tanya jawab, ada hadirin perwakilan dari ASPROFI (Asosiasi Produser Film Indonesia) yang menanyakan kepada Anies bagaimana ia akan memberikan kemudahan izin bagi insan film untuk memproduksi film di Jakarta? Ia mengeluhkan tentang kesulitan melakukan shooting film di Jakarta. 

Ia bercerita, saat syuting film “Filosofi Kopi” yang berlokasi di sebuah kedai kopi di blok M, produser harus mengeluarkan biaya Rp 20 juta/hari padahal lokasi syutingya adalah di depan kedai kopi milik salah satu produser. Tapi biaya tersebut harus dibayarkan kepada banyak pihak keamanan, termasuk kepada FBR dan FPI kalau ga mau lokasi shootingnya didatangi banyak orang dan “diacak-acak.” (waduh saya juga baru tahu tentang ini. Preman dong tindakan FBR dan FPI ini). Menjawab ini, Anies berjanji untuk memberikan kemudahan izin lokasi shooting untuk insan perfilman. Pertanyaan yang masih menyisa bagi saya adalah apakah Anies sanggup mengendalikan FPI untuk urusan “premanisme” ini?

Dari ke 15 sektor industri kreatif, hanya beberapa sektor saja yang Anies paparkan dalam diskusi ini. Memang Anies tampil dengan gaya bahasa yang meyakinkan. Tapi, menurut saya visi misi Anies untuk memajukan industri kreatif di Jakarta belum terelaborasi dalam diskusi ini. Saya juga tidak bisa bilang, bahwa Anies memahami seluk beluk industri kreatif, seperti topik utama diskusi ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun