Mohon tunggu...
ioanes rakhmat
ioanes rakhmat Mohon Tunggu... Penulis - Science and culture observer

Our thoughts are fallible. We therefore should go on thinking from various perspectives. We will never arrive at final definitive truths. All truths are alive, and therefore give life, strength and joy for all.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Seluk-beluk Orientasi Seksual LGBT (Bagian 2)

13 Juli 2016   13:31 Diperbarui: 9 Maret 2018   16:41 1591
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi kebencian terhadap LGBT sebagai FAGs, “Freaky Alien Genotypes”, maksudnya: organisme yang memiliki gen alien yang asing. Sumber gambar https://broadly.vice.com/en_us/article/fag-wars-how-the-phantom-menace-inspired-a-generation-of-lgbt-youth.

Dengan kata lain, LGBT adalah suatu “penyimpangan” kodrat alamiah manusia, tidak berada dalam tatanan ciptaan Allah, sesuatu yang “disordered”. Cuma Paus Fransiskus tidak melanjutkan ke ajaran dasar GRK itu bahwa LGBT itu “penyimpangan” dari tatanan kodrati yang Allah telah ciptakan dengan baik./19/

Meskipun sebagian pimpinan Gereja Roma Katolik menolak diskriminasi yang tak adil terhadap LGBT, buku utama ajaran GRK Katekismus menegaskan bahwa “tindakan-tindakan homoseksual pada hakikatnya tidak bermoral dan bertentangan dengan hukum alam.”/20/

Selain itu, dalam suatu konferensi, para uskup GRK Amerika Serikat menolak keras perkawinan sesama jenis seks. Mereka menyatakan bahwa “GRK menolak perkawinan gay dan penerimaan masyarakat terhadap homoseksualitas dan hubungan personal antar orang sejenis, meskipun gereja mengajarkan bahwa kalangan homoseksual layak dihargai, diperlakukan adil dan patut mendapat bimbingan pastoral.” /21/ Jelas terbaca, dalam satu kalimat panjang ini ada dua posisi yang terbelah dan berbenturan. LGBT harus dihargai dan diperlakukan adil, tetapi mereka tidak boleh membangun hubungan intim satu sama lain! Respek dan adilnya di mana?

Dalam sebuah komentar panjangnya tentang pertemuan pribadi Paus Fransiskus dan Ms. Kim Davis (panitera di Kentucky yang belum lama ini menolak mengeluarkan surat izin nikah bagi pasangan sesama jenis seks), yang berlangsung di Kedutaan Besar Vatikan di Washington, D.C., 24 September 2015, German Lopez antara lain menyatakan bahwa “Paus Fransiskus kadangkala mengucapkan hal-hal…yang kelihatannya bersahabat dengan kalangan gay. Tetapi ketika dianalisis lebih jauh, ajaran-ajaran dasariah GRK dan Paus Fransiskus tidak berubah sama sekali: homoseksualitas masih dipandang sebagai suatu dosa, para gay masih diminta untuk hidup suci, dan perkawinan sesama jenis seks tetap dilawan.”/22/

Ketika diamati lebih luas dan mendalam, ditemukan bahwa kendatipun Paus Fransiskus tampak ramah dan bersahabat dengan kaum homoseksual sejauh menyangkut ucapan-ucapan lisannya, dalam tindakan-tindakannya terlihat jelas bahwa sang Paus tidak ramah dan tidak bersahabat dengan LGBT, setidaknya penulis Hemant Mehta telah menemukan fakta ini./23/

Terus terang, saya merasa iba juga pada sang Paus, karena dia bagaimanapun juga harus tunduk pada dogma dan doktrin GRK, meskipun dia sendiri mempunyai pikiran yang bebas. Ya, begitulah, agama sayangnya lebih sering memenjarakan manusia ketimbang membebaskan. Agama juga sering membelah kepribadian manusia. Agama semacam ini bukan agama yang cerdas. Pertanyaan sufi dari Persia yang terkenal, Jalaluddin Rumi (1207-1273), selalu saya ingat, 

“Mengapa anda terus berdiam dalam penjara sementara pintu-pintunya terbuka lebar?”

Rumi juga memerintahkan, “Jadilah langit! Ambil sebuah kapak lalu runtuhkan dinding penjara itu! Lepaskan dirimu!”

Posisi Dalai Lama XIV

Dalam suatu wawancara di bulan Maret 2014 oleh sosok beken di dunia radio dan TV Amerika, Larry King, tentang perkawinan sesama jenis seks, Dalai Lama XIV menegaskan bahwa “jika dua orang―sebagai pasangan―sungguh-sungguh merasa bahwa cara itu lebih praktis dan lebih memuaskan, dan kedua mitra sepakat sepenuhnya, itu OK saja!”

Tetapi Dalai Lama tetap menghargai sikap dan posisi masing-masing agama lain ketika dia menegaskan bahwa umat setiap agama harus mengikuti kaidah-kaidah moral agama mereka masing-masing di bidang seks.

HALAMAN :
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun