Mohon tunggu...
Insyiraa Bunga Putriana
Insyiraa Bunga Putriana Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta

Saya merupakan mahasiswi aktif Universitas Negeri Jakarta. Saya memiliki ketertarikan dibidang menulis.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pengaruh Kekuasaan antara Atasan dengan Karyawan Bawahan terhadap Pelecehan Seksual di Universitas Daerah Jakarta

17 Desember 2022   15:20 Diperbarui: 17 Desember 2022   15:26 350
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kekuasaan merupakan  sesuatu yang sangat penting di masyarakat. Penting yang dimaksud adalah karena dengan seseorang memeiliki sebuah kekuasaan, maka seseorang tersebut akan lebih dihormati atau dipanddang lebih tinggi dan bahkan bisa aja tidak akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat disekiatrnya. Maka dari itu banyak sekali orang-orang yang ingin memiliki sebuah kekuasaan agar mereka dihormati dan disegani individu-individu lainnya.

Relasi kuasa tidak hanya terjadi dalam dunia politik ataupun pemerintahan, melainkan juga terjadi di dalam kekerasan seksual yang sedang marak terjadi di masyarakat kita saat ini. Relasi kuasa dalam kekerasan seksual merupakan unsur yang dipengaruhi oleh kekuasaan pelaku atas ketidakberdayaan korban. Mengutip dari Komariah Emong Sapardjaja dk, pengertian dari kekerasan seksual menurutnya adalah segala perbuatan yang mencakup pelecehan seksual sampai kepada tahap memaksa orang lain untuk melakukan hubungan seksual tanpa adanya persetujuan dari orang tersebut (korban), atau melakukan hubungan seksual dengan cara-cara yang tidak wajar atau tidak disukai oleh korban dan atau menjauhkan dari kebutuhan seksualnya.  

Fenomena kekerasan seksual sedang marak terjadi di sekitar masyarakat kita. Fenomena ini sedang meningkat sangat tajam bukan hanya di Negara Indonesia, tetepi juga di seluruh belahan dunia. . Salah satu kasus pelecehan yang terjadi di Indonesia adalah kasus kekerasan seksual yang dialami oleh salah satu karyawan yang bekerja di salah satu Universitas yang berada di daerah Jakarta.

Pada tahun 2017 hingga 2019 silam, perempuan berinisial "G" yang merupakan karyawan yang bekerja di Universitas tersebut mengalami sejumlah pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu rekan kerjanya. Pelaku berusia lebih tua dan dapat dikatakan sebagai senior secara pergaulan sosial di tempatnya bekerja. Pelecehan seksual yang dialami oleh "G" tidak hanya sekali atau dua kali saja tetapi 3 tahun lamanya ia mengalami pelecehan tersebut sampai-sampai dirinya mengalami trauma.

Pelecehan yang dilakukan oleh pelaku ada bermacam-macam, mulai dari membuat gurauan tentang buah zakarnya kepada korban, menunjuk alat kelaminnya saat korban sedang makan bakso di pantry kampus lain,  bahkan pelaku pernah  membuat lelucon mengenai posisi bersenggama. Pelaku juga pernah menatap korban dengan tatapan tidak sopan dan gestur ingin mencium, bahkan pelaku sampai menjulur-julurkan lidahnya kearah korban.

Dan masih banyak sekali perlakuan semacamnya yang dilakukan pelaku kepada korban. Tetapi yang lebih ironisnya adalah setelah semua hal yang dilakukan pelaku terhadap korban hanya dianggap sebagai bercandaan belaka. Bahkan tak sedikit pula rekan kerjanya yang menanggapi hal tersebut dengan tawaan. Dan juga pada saat itu rekan-rekan kerjanya malah meyetujui korban untuk menyamakan jadwal piketnya dengan pelaku. Korban jura kerap kali mendapatkan gurauan bahwa dia adalah 'istri muda' bagi pelaku tersebut dan selalu bergurau bahwa pelaku pulang kerumah korban setiap tiga hari sekali.

Korban merasa sangat marah dan juga kecewa terhadap rekan-rekan kerjanya yang hanya selalu diam padahal mereka jelas melihat bagaimana raut wajah korban tidak pernah merasa nyaman atas segala perlakuan yang dilakukan oleh pelaku terhadapnya. Masa-masa itu tentu saja bukan menjadi hal yang mudah bagi korban. Kejadian yang dialaminya selama bertahun-tahun tersebut meninggalkan trauma yang cukup besar baginya.

 KESIMPULAN :

1. Jika dikaitkan isu pelecehan seksual diatas dengan relasi kuasa dan gender maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwasannya kekuasaan atau posisi seseorang sangat mempengaruhi bagaimana pandangan seseorang terhadap dirinya. Seperti bagaimana contoh kasus diatas, walaupun pelaku telah melakukan berbagai macam pelecehan seksual yang sangat tidak senonoh kepada korban, tetapi orang-orang disekitarnya malah mendukung pelaku dan tidak membantu korban sama sekali. Hal ini disebabkan karena pelaku terbilang sebagai "senior" dan pelaku memiliki cukup banyak relasi sosial di tempatnya bekerja.

2. Padahal seharusnya hal yang dilakukan oleh rekan-rekan kerjanya adalah menghentikan dan mengingatkan pelaku bahwa perilaku tersebut tidak benar dan hal tersebut bukanlah suatu lelucon. Selain itu seharsunya rekan kerja lainnya lebih merangkul korban agar korban tidak merasa sendirian dan menyebabkan trauma nya semakin parah ataupun mendalam, karena setiap orang yang pernah mengalami pelecehan seksual sangat membutuhkan seseorang disampingnya untuk selalu menguatkannya. 

3. Seharusnya juga masyarakat kita lebih "melek" jika ada kasus pelecehan yang terjadi kepada seseorang, tidak hanya orang terdekat saja tetapi bagi siapapun yang tertimpa musibah tersebut. Selain itu, masyarakat kita masih sangat membutuhkan sosialisasi mengenai pelecehan seksual. Dan juga, seharusnya bagi setiap pelaku pelecehan seksual dikenakan hukuman yang setimpal, agar mereka jera dan menyadari kesalahannya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun