Mohon tunggu...
Inspirasiana
Inspirasiana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Kompasianer Peduli Edukasi.

Kami mendukung taman baca di Soa NTT dan Boyolali. KRewards sepenuhnya untuk dukung cita-cita literasi. Untuk donasi naskah, buku, dan dana silakan hubungi: donasibukuina@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengurai Jati Diri Manusia dalam Fenomena "Belalak"

18 Februari 2021   07:11 Diperbarui: 18 Februari 2021   07:35 841
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bayi yang menangis sehabis menyusu tidak kemudian dipaksa untuk menyusu kembali oleh ibunya. ASI memang penting untuk tumbuh kembang si anak. Tapi, ibu yang bijaksana pasti tahu kalau terlalu berlebihan juga tidak baik untuk si buah hati.

Demikian juga dengan seseorang yang baru selesai makan. Dia tidak akan kembali untuk makan lagi hanya karena menyadari masih ada butiran nasi yang menempel di dagunya.

Bahwa orang tersebut belum kenyang mungkin ada benarnya. Tetapi, keputusannya untuk tidak kembali makan itu mau menunjukkan sebuah sikap: berani berkata cukup. Dia tentu menyadari kalau terlalu banyak makan, juga tidak baik untuk kesehatan badannya.

Fenomena belalak, dalam hemat saya, dapat menjadi instrumen dalam menguak hakikat manusia sebagai makhluk spiritual. Dan juga pada saat yang sama bisa menjadi alat kritik bagi manusia yang mengaku diri sebagai makhluk spiritual, tapi malah seringkali diliputi oleh keserakahan.

Dalam hal ini, saya akan mengaitkan belalak dengan kearifan berladang suku Dayak. Karena, dalam hemat saya, cara berladang yang mereka praktikkan, menampilkan harmoni yang indah dalam upaya menjaga keutuhan ciptaan.

Manusia sebagai Makhluk Spiritual

Izinkan saya menggunakan salah satu kisah dalam Kitab Suci orang Katolik. Dalam hemat saya, kisah ini dapat menjadi contoh untuk menunjukkan bahwa manusia itu adalah makhluk spiritual.

Atau dengan kata lain, untuk menunjukkan bahwa manusia dalam hidupnya tidak cukup hanya mengejar kepuasan lahiriah. Kisah tersebut adalah tentang Yesus yang menyatakan diri-Nya sebagai roti hidup (Yoh. 6:1-59).

Dalam Yoh. 6:1-15 dikisahkan tentang Yesus yang memberi makan lima ribu orang. Orang banyak ini berbondong-bondong mengikuti Yesus karena telah melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.

Melihat orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, Ia berkata kepada Flilipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Dengan nada pesimis Filipus menjawab: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." (Ay.5-7)

Di tengah-tengah mereka ada seorang anak kecil yang mempunyai lima buah roti dan dua ikan. Lima roti dan dua ikan itu pun lalu diserahkan kepada Yesus. Yesus kemudian mengucap syukur atas lima roti dan dua ikan itu dan lalu membagi-bagikannya kepada orang banyak itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun