Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

The Big Quit, Dilema dan Pendidikan Lanjut Petani Milenial

6 November 2021   16:30 Diperbarui: 8 November 2021   02:00 1480
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kebun sayur seorang petani millennial di desa Kerirea | Dokumen pribadi oleh Ino

Sangat mengkhawatirkan lagi hasil Survei dari  McKinsey yang memprediksikan bahwa sekitar 40 % karyawan akan berganti pekerjaan. Uniknya lagi bahwa sekitar 43 % wanita dari tenaga yang sedang aktif bekerja merasakan kelelahan yang aneh dan 36 % dialami oleh kaum pria.

Fenomena kelelahan ini membenarkan beberapa pengalaman beberapa orang yang saya kenal pasca terkena covid-19. Seorang teman saya berasal dari India mengatakan itu, "Saya tidak bisa bertahan berdiri pada saat memasak lebih dari setengah jam. Hal ini karena kondisi badan saya sudah menjadi begitu lelah, ya tidak biasanya."

Hal lain yang terkait dengan fenomena "The Big Quit" itu adalah bahwa berhentinya industri hotel dan catering hampir 7 % di Amerika. Situasi lain yang juga menambah kekuatiran adalah tumbuhnya rasa tidak puas itu sampai pada aksi pemberontakan sebagian orang.

Bahkan ketua serikat pekerja AS, AFL-CIO menegaskan kecemasannya bahwa pandemi telah mengungkapkan ketidaksetaraan  sistem dan pekerja menolak untuk kembali ke perusahaan karena dianggap bisa membahayakan kesehatan mereka. 

Sumber ntv.de telah merilis alasan-alasan yang memperburuk keadaan ekonomi AS antara lain: Inflasi menggerogoti daya beli tambahan pada satu sisi, dan sementara itu setiap orang masih punya kesan bahwa mereka bukan hanya pelamar calon majikan, tetapi mereka dapat menaikan keadaan hidup mereka melalui perubahan-perubahan yang ada pada sisi yang lain.

Tidak hanya itu, ternyata ada juga terkait bantuan pemerintah di bidang ekonomi yang rendah, lalu pada sisi yang lain mereka harus membayar bantuan kepada orang-orang dalam pekerjaan secara tidak tetap dan teratur.

Nah, konteks perubahan ekonomi dan tantangan pengunduran diri di AS bisa saja sangat mempengaruhi konteks perekonomian negara-negara lain di mana saja. Lalu, bagaimana fenomena "The Big Quit" itu di Indonesia?

The Big Quit di Indonesia saat ini

Jobstreet Indonesia pernah merilis hasil survei mereka sebesar 35 % pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan ada 19 % pekerja yang diberhentikan sementara. Bahkan ada sekitar 50 % tenaga kerja Indonesia terkena dampak dari pandemi covid-19. (Faridah Lim, Country Manager Jobstreet).

Tentu PHK itu terjadi dalam banyak bidang seperti pada sektor berikut ini: perhotelan, bisnis catering, pakaian, arsitek bangunan, makanan dan minuman, belum lagi di sektor urusan rohani, seperti pembatalan urusan haji ke Mekah dan lain sebagainya.

Jangan lupa lho, bukan cuma soal PHK terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi pemotongan gaji. Dari 45 % yang PHK itu terjadi  35 % pemotongan gaji mereka dan yang tidak bahagia dengan pekerjaannya turun 49 % dari situasi sebelum pandemi 90% bahagia dengan pekerjaannya. Pertanyaannya, mereka kemudian lari ke mana ya? Di mana tempat yang membuat mereka bahagia?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun