Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jawa Timur di Puncak Epidemi HIV/AIDS dan Runner Up Pandemi Corona

29 Mei 2020   07:31 Diperbarui: 29 Mei 2020   07:32 67 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jawa Timur di Puncak Epidemi HIV/AIDS dan Runner Up Pandemi Corona
Ilustrasi (Sumber: helplesotho.org)

Selama ini yang bertengger di puncak epidemi HIV/AIDS di Indonesia silih berganti antara DKI Jakarta dan Papua, tapi data terakhir sampai 31 Desember 2019 menunjukkan Provinsi Jawa Timur (Jatim) ada di puncak epidemi HIV/AIDS nasional.

Jatim melaporkan kasus kumulatif HIV/AIDS sejak tahun 1987 sd. 31 Desember 2019 sebanyak 77.963 yang terdiri atas 57.176 HIV dan 20.787 AIDS. Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS ini di atas DKI Jakarta dan Papua.

Sedangkan pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Jatim melaporkan kasus kumulatif positif Covid-19 sampai tanggal 28 Mei 2020 sebanyak 4.312 dengan 334 kematian dan 548 sembuh. Sedangkan jumlah kasus secara nasional dilaporkan 24.583 dengan 1.496 kematian dan 6.240 sembuh.

Penutupan Pelacuran Terbuka Munculkan Pelacuran Online

Secara nasional ada 10 besar provinsi dengan kasus kumulatif HIV/AIDS terbanyak. Provinsi di peringkat 1-10 adalah: Jatim 77.963, DKI Jakarta 76.095, Papua 59.981, Jawa Barat (Jabar) 47.277, Jawa Tengah (Jateng) 45.046,  Bali 29.748, Sumatera Utara (Sumut) 23.418, Sulawesi Selatan (Sulsel) 13.789, Banten 10.039, dan Kepulauan Riau (Kepri) 11.773. Sedangkan provinsi lain ada di peringkat ke-11 sd. peringkat ke-34 (Lihat Tabel).

Peringkat provinsi berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS (Dok. Pribadi dari Ditjen P2P Kemenkes RI)
Peringkat provinsi berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS (Dok. Pribadi dari Ditjen P2P Kemenkes RI)

Penambahan kasus HIV/AIDS di Jatim merupakan fenomena karena daerah-daerah di Jatim sangat gencar menutup tempat-tempat pelacuran terbuka, seperti lokasi pelacuran. Sejak reformasi tidak ada lagi lokalisasi pelacuran yang dijadikan sebagai lokres (lokalisasi dan resosialisasi) tempat pembinaan pekerja seks komersial (PSK).

Baca juga: Menyingkap (Kegagalan) Resosialisasi dan Rehabilitasi Pelacur(an)

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, misalnya, dipuja-puji karena melarang PSK jalankan pekerjaan secara terbuka di Dolly (sejak 2014), sebuah tempat pelacuran yang sudah lama mendunia. Seorang teman pelaut mengatakan di beberapa pelabuhan besar di Eropa kalau ditanya Indonesia mereka akan geleng-gelengkan kepala. Tapi, ketika disebut Dolly mereka langsung manggut-manggut dan tersenyum.

Bahkan, ketika Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, menjabat sebagai menteri sosial, penutupan tempat pelacuran di Jatim dilakukan dengan gencar dan masif. Catatan menunjukkan sudah 22 tempat pelacuran yang ditutup termasuk lokasi pelacuran yang dikenal luas, Dolly.  

Penutupan tempat-tempat pelacuran terbuka itu jadi bumerang karena muncul praktek-praktek pelacuran daring (online) yang memanfaatkan media sosial (medsos). Polda Jatim sudah beberapa kali membongkar prostitusi online di Surabaya yang disebut-sebut melibatkan 'artis' dan foto model. 

Jika dilihat dari aspek kesehatan masyarakat kegiatan pelacuran yang dilokalisir merupakan salah satu cara memutus mata rantai penyebaran 'penyakit kelamin' yang dikenal sebagai IMS (infeksi menular seksual yaitu: kencing nanah (gonore), raja singa (sifilis) klamidia, trikomoniasis, virus hepatitis B, virus kanker serviks, dll.) juga HIV/AIDS dari PSK ke masyarakat dan sebaliknya.

Dok Pribadi
Dok Pribadi

Penyebaran IMS dan HIV/AIDS diputus dengan program intervensi yang memaksa setiap laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK memakai kondom. Celakanya, karena sejak reformasi muncul gerakan moral yang menggebu-gebu menutup lokres sehingga aspek-aspek kesehatan masyarakat diabaikan. Dengan menutup lokres tidak otomatis menghentikan praktik pelacuran karena belakangan muncul prostitusi online. Lokres pindah ke media sosial.

Penularan HIV/AIDS di Masyarakat Jadi 'Bom Waktu' Ledakan AIDS

Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 17/2-2020 menunjukkan jumlah ibu rumah tangga yang mengidap AIDS sejak tahun 1987 sd. 31 Desember 2019 sebanyak 17.522. Mereka ini tertular dari suami yang jadi pelanggan PSK. Survei Kemenkes terakhir tahun 2012 menunjukkan 6,7 juta laki-laki jadi pelanggan PSK. Celakanya, 4,9 juta dari laki-laki ini beristri (bali.antaranews.com, 9/4-2013).

Yang juga menyesatkan dan membuat banyak laki-laki tertular IMS dan HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus adalah ada anggapan risiko tertular IMS dan HIV/AIDS hanya melalui hubungan seksual dengan PSK di lokres atau lokalisasi. Padahal, PSK dikenal ada dua macam, yaitu:

(1). PSK langsung yaitu PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokres, lokalisasi, lokasi atau tempat pelacuran terbuka, dan

(2). PSK tidak langsung yaitu PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, 'artis' dan model prostitusi online, PSK online, dll.

Dok Pribadi
Dok Pribadi

PSK langsung dan PSK tidak langsung adalah orang-orang yang berisiko tinggi tertular dan menularkan IMS dan HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus melalui hubungan seksual, karena mereka sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti yang tidak memakai kondom.

Baca juga: Tertular HIV karena Termakan Mitos "Cewek Bukan PSK"

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS yang dilaporkan Jatim yaitu sebanyak 77.963 secara epidemiologi tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di masyarakat. Soalnya, epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang dilaporkan (77.963) hanya sebagian kecil dari kasus yang ada di masyarakat yang digambarkan sebagai puncak gunung es yang mencuat ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Penyebaran HIV/AIDS dan IMS di Jatim kian masif karena tidak ada program penanggulangan yang realistis di hulu yaitu melakukan intervensi terhadap laki-laki dewasa agar memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung. Yang dilakukan hanya sebatas tes HIV kepada perempuan hamil. Ini program di hilir.

Tanpa intervensi terhadap laki-laki pada kegiatan pelacuran yang melibatkan PSK langsung dan PSK tidak langsung, maka insiden infeksi HIV terhadap laki-laki dewasa akan terus terjadi yang pada gilirannya mereka menularkan HIV ke istri atau pasangan seks lain. Ini jadi 'bom waktu' yang kelak jadi 'ledakan AIDS' di Jatim. *

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x