Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Administrasi

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Tertular HIV karena Termakan Mitos "Cewek Bukan PSK"

23 Agustus 2018   16:55 Diperbarui: 23 Agustus 2018   17:00 860 0 0
Tertular HIV karena Termakan Mitos "Cewek Bukan PSK"
Ilustrasi (Sumber: pinknews.co.uk)

Akhir-akhir ini media massa dan media online diramaikan dengan berita tentang mitos (anggapan yang salah) dan hoax (berita bohong) terkait HIV/AIDS. Sayang, 10 mitos atau hoax yang diumbar itu sama sekali tidak terkait dengan insiden infeksi HIV baru di hulu melalui hubungan seksual yang berisiko.

Kegiatan-kegiatan terkait dengan hoax atau mitos AIDS tsb. sangat kecil jika dibandingkan dengan perilaku seksual berisiko yang terjadi setiap saat di berbagai tempat dengan berbagai macam modus.

Celakanya, perilaku-perilaku berisiko tsb. dianggap tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena sejak awal epidemi HIV/AIDS di Indonesia informasi terkait cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS dibalut dengan norma, moral dan agama sehingga yang muncul hanya mitos.

Misalnya, penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual selalu dikaitkan dengan zina, seks pranikah, seks di luar nikah, perselingkuhan, seks menyimpang, dan pelacuran. Ini semua merupakan sifat hubungan seksual.

Mitosnya kian parah karena penularan HIV/AIDS melalui pelacuran dikaitkan dengan pekerja seks komersial (PSK) langsung yaitu PSK yang kasat mata, seperti yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran, di jalanan, dll.

Akibatnya, banyak laki-laki yang merasa dirinya tidak berisiko tertular HIV karena: (a) tidak melakukan hubungan seksual dengan PSK langsung, dan (b) hubungan seksual tidak dilakukan di lokasi atau lokalisasi pelacuran.

Seperti yang disampaikan oleh seorang pejabat tinggi di sebuah kabupaten di Indonesia bagian Timur melalui surat untuk sebuah rubrik "Konsultasi HIV/AIDS" di sebuah koran di Sulsel awal tahun 2000-an: "Bang, saya seks dengan cewek cantik dan mulus di hotel berbintang di Surabaya dan Jakarta. Tentu saya tidak punya risiko tertular HIV/AIDS."

Waktu itu penulis menganjurkan agar pejabat itu menjalani tes HIV karena dia seks dengan perempuan yang sering ganti-ganti pasangan yang sama saja dengan seorang PSK. Tapi, dengan tegas dia menolak karena tidak hubungan seksual yang dia lakukan tidak berisiko. Belakangan saya dengar kabar dari seorang teman konselor AIDS di sana pejabat tadi berobat rutin ke sebuah rumah sakit rujukan di ibu kota provinsi dengan catatan penyakit infeksi.

Dok Pribadi
Dok Pribadi
'Cewek cantik dan mulus'atau 'cewek bukan PSK langsung' yang disebut pejabat tadi dikenal sebagai PSK tidak langsung yaitu cewek yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang berganti-ganti. Bisa saja salah satu dari sekian banyak laki-laki yang pernah seks dengan dia, terutama jika laki-laki tidak memakai kondom, mengidap HIV/AIDS sehingga ada risiko penularan HIV/AIDS.

Inilah salah satu mitos yang sangat kuat di masyarakat karena disuarakan oleh pejabat (tinggi), sebagian pakar, bahkan pakar medis, toga (tokoh agama) dan toma (tokoh masyarakat) serta aktivis AIDS.

PSK tidak langsung adalah perempuan atau cewek yang sifatnya seperti PSK tapi tidak kasat mata dan tidak mangkal di satu tempat yaitu cewek atau perempuan yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dll.

Insiden infeksi HIV baru melalui hubungan seksual dengan 'cewek bukan PSK langsung' jadi motor pendorong penyebaran HIV di masyarakat, terutama pada laki-laki beristri yang menularkan HIV/AIDS ke istri atau pasangan seks lain (horizontal). Jika istri atau pasangan seksnya tertular HIV, maka ada pula risiko penularan HIV kepada bayi yang mereka kandung kelak (vertikal).

Hal itu terjadi karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan orang-orang yang tertular HIV sebelum masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV.

Yang perlu diperhatikan adalah pada rentang waktu antara tertular HIV sampai masa AIDS bahkan sampai meninggal dunia biar pun orang-orang yang mengidap HIV tapi tidak terdeteksi jadi mata rantai penyebaran HIV secara diam-diam bagikan 'silent disaster' (bencana terselubung) yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'.

Celakanya, pemerintah (Pusat) tidak bisa berbuat banyak terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS karena di era Otonomi Daerah (Otda) kebijakan, dalam hal ini penanggulangan HIV/AIDS, ada di pemerintah daerah. Setiap daerah mempunyai aturan main sendiri-sendiri yang tidak terkoneksi secara nasional. *