Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mungkinkah Perjaka dan Perawan Mengidap HIV/AIDS?

16 April 2019   19:30 Diperbarui: 22 April 2019   18:16 0 12 6 Mohon Tunggu...
Mungkinkah Perjaka dan Perawan Mengidap HIV/AIDS?
Ilustrasi (Sumber: darkroom.baltimoresun.com)

"Semua laki-laki yang pernah seks dengan saya perjaka!" Inilah alasan seorang cewek berumur 20-an tahun yang membuat dia tidak khawatir tertular HIV/AIDS. Cewek ini  mengaku sudah seks sejak SMP dan dia hitung-hitung ada 10 laki-laki yang pernah jadi pasangan seksnya. Dia bersikukuh tidak khawatir tertular HIV/AIDS karena 10 laki-laki yang pernah jadi pasangan seksnya semua perjaka..

Cara berpikir cewek itu sangat naif. Tentu saja itu terjadi karena tingkat literasi yang rendah serta diseminasi informasi HIV/AIDS yang salama ini tidak konsisten dengan materi yang baku tapi dibalut dengan norma, moral dan agama. Akibatnya, fakta medis HIV/AIDS hilang sehingga yang ditangkap masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah).

Salah satu informasi yang menyesatkan adalah mengaitkan penularan HIV/AIDS dengan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK). Ini membuat banyak orang merasa tidak berisiko biar pun melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti karena bukan PSK.

Bahkan, dalam sebuah diskusi di Facebook ada cewek yang pongah dengan mengatakan teman-teman cowoknya tidak ada yang pernah 'gituan' (maksudnya seks dengan PSK) sehingga bagi dia teman laki-lakinya 'bersih' dari penyakit. 

Ketika dijelaskan bahwa risiko tertular HIV melalui hubungan seksual bukan karena seks dengan PSK, tapi juga dengan pasangan yang bukan PSK tapi ganti-ganti pasangan cewek itu pun "menghilang" dari diskusi.

Cewek-cewek itu sudah memakai jalan pikiran mereka sendiri dalam memahami HIV/AIDS sebagai fakta medis.

Pertama, tidak bisa dibuktikan seorang laki-laki masih perjaka atau tidak karena tidak ada tanda-tanda secara fisik pada penis apakah seorang perjaka sudah pernah atau sering melakukan hubungan seksual. Sedangkan perempuan ada tanda-tanda secara fisik pada vagina yang bisa dianalisis secara medis apakah sudah pernah dilalului penis atau belum.

Kedua, andaikan 10 laki-laki yang jadi pasangannya memang benar-benar perjaka, tapi pada hubungan seks berikutnya tidak bisa dipastikan 10 laki-laki itu tidak pernah seks dengan pasangan lain (perempuan, laki-laki atau waria).

Ketiga, biar pun 10 laki-laki itu perjaka tidak jaminan tidak mengidap HIV/AIDS karena bisa saja mereka tertular HIV/AIDS melalui transfusi darah yang tidak diskirining HIV, melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan memakai jarum suntik bergantian dengan bergiliran karena ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS, atau menerima seks anal.

Keempat, hal yang sama terjadi pada perawan. Keperawanan tidak jaminan tidak mengidap HIV/AIDS karena bisa saja mereka tertular HIV/AIDS melalui transfusi darah yang tidak diskirining HIV, melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan memakai jarum suntik bergantian dengan bergiliran karena ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS, atau menerima seks anal.

Dalam sebuah liputan di sebuah pusat rehabilitasi narkoba di Bogor di awal tahun 1990-an, ada seorang cewek mahasiswi perawan yang terjerat narkoba. Hasil tes HIV menunjukkan dia tertular HIV. Cewek ini tidak pernah melakukan hubungan seksual. Cewek ini marah besar karena dia kecewa membaca berita HIV/AIDS yang hanya mengaitkan penularan HIV dengan hubungan seksual, terutama dengan pekerja seks komersial (PSK).

Kepada penulis cewek itu mengaku tidak takut tertular HIV ketika menusuk urat nadinya dengan jarum suntik yang berisi narkoba. Soalnya, informasi tentang penularan HIV melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba waktu itu belum gencar. "Saya korban ketimpangan informasi," katanya dengan nada penyesalan yang dalam.

Kelima, ada kebiasaan bagi sebagian pasangan yang pacaran melakukan seks anal dan seks oral untuk mencegah kehamilan. Biar pun perawan HIV bisa tertular melalui kegitan seks anal dan seks oral.

Apakah remaja dan pemuda yang pernah atau sering onani sampai ejakulasi masih bisa disebut perjaka? 

Apakah remaja dan pemuda yang pernah atau sering melakukan seks anal sampai ejakulasi masih bisa disebut perjaka?

Apakah remaja dan pemuda yang pernah atau sering ejakulasi pada saat seks oral masih bisa disebut perjaka?

[Baca juga: ‘Remaja Gay’ dan ‘Waria Muda’ Rentan Tertular HIV]

Agaknya, cewek itu tetap pada pendiriannya bahwa 10 laki-laki yang pernah jadi pasangannya dalam kondisi perjaka sehingga dia menampik ada risiko tertular HIV/AIDS.

Satu hal yang luput dari perhatian cewek itu adalah perilaku seksual 10 laki-laki yang pernah jadi pasangan seksnya. Bisa saja ada di antara 10 laki-laki itu yang juga seks dengan pasangan lain, bisa perempuan, laki-laki atau waria.

Agaknya, penyebarluasan informasi HIV/AIDS masih perlu digencarkan agar masyarakat mengetahui cara-cara melindungi diri agar tidak tertular HIV/AIDS. *

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x