Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Blogger - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Danone Indonesia Kolaborasi untuk Tanggulangi Sampah Plastik

19 Oktober 2018   17:10 Diperbarui: 15 April 2023   15:30 592
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

*Bijak Berplastik Bukan Fobia Plastik

Tentu saja tidak ada di antara kita yang bisa melepaskan diri dari plastik. Sebut saja pakaian. Di sana ada serat plastik. Begitu juga dengan telepon pintar tentu saja ada unsur plastik. Beli sayuran, makanan, bahkan pakaian pun akan dibungkus dengan kantong plastik. Belakangan mulai muncul persoalan terkait dengan sampah plastik. Itu bukan berarti memushui plastik, tapi menggalang kerjasama untuk menanggulangi sampah dan limbah plastik yang tidak diolah.

Plastik sendiri diciptakan untuk mendukung kehidupan manusia, "Plastik jelas tidak berbahaya," kata Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone-Indonesia, pada acara Bincang #BijakBerplastik dengan tema "Pentingnya Kolaborasi dalam Mengatasi Permasalahan Sampah Plastik" yang diselenggarakan oleh Danone-Indonesia di Jakarta, 18/10-2018, sebagai upaya memasyaratkan upaya penanggulangan sampah plastik bersama blogger, masyarakat dan komunitas.

Suasana Bincang #BijakBerplastik, Swietenia Puspa Lestari memaparkan presentasi di Jakarta 18/10-2018 (Foto: Dok Danone Indonesia)
Suasana Bincang #BijakBerplastik, Swietenia Puspa Lestari memaparkan presentasi di Jakarta 18/10-2018 (Foto: Dok Danone Indonesia)
Tak Punya Kaki

Plastik tidak bisa lepas dari kehidupan, seperti dikatakan oleh Emenda Sembiring, Industrial Engineering, Environmental Engineering and Quantitative Social Research, ITB Bandung, karena plastik bisa dibentuk sesuai keinginan, tahan air, awet, bisa melindungi isi dengan baik dan tentu saja praktis. Hal ini disampaikan Emenda pada Bincang #BijakBerpalstik.

Plastik jadi masalah besar ketika plastik jadi sampah sumber polusi yang mengotori lahan, sungai, danau dan lautan. Tapi, "Bukan berarti kita fobia terhadap plastik," ujar Arif mengingatkan (KBBI: fobia adalah ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya).

Negara-negara pembuang sampah plastik ke laut (Sumber: blogs.wsj.com)
Negara-negara pembuang sampah plastik ke laut (Sumber: blogs.wsj.com)
Seperti dikatakan Arif, plastik tidak punya kaki sehingga tidak bisa jalan sendiri ke sungai atau laut. Nah, yang jadi persoalan adalah: Mengapa plastik, dalam berbagai bentuk dan ukuran, bisa mengotori lahan, sungai pantai, dan laut?

Memang, dampak buruk (sampah) plastik tidak langsung dirasakan. Tapi, dalam beberapa kasus plastik dalam partikel-partikel kecil bisa termakan melalui daging ikan yang dimakan. Ini terjadi karena ikan di laut memakan sampah plastik yang tidak bisa terurai sehingga daging ikan yang dimakan pun mengandung partikel plastik.

Sebagai gambaran, popok bayi yang mengandung polietilena atau termoplastik, bahan yang sama dipakai untuk membuat dengan kantong plastik, jika dibuang setelah dipakai akan tetap ada di Bumi sampai 450 tahun. Bahkan, tali pancing tidak busuk sampai 600 tahun di Bumi (Deutsche Welle, 14/3-2018).

Indonesia sendiri jadi sorotan dunia ketika media massa internasional memberitakan tentang penyelam yang justru berhadapan dengan sampah plastik di perairan laut di Pulau Bali. Padahal, aktraksi pariwisata penyelaman itu untuk menikmati pemandangan di perairan laut berupa terumbu karang dan ikan. Ini tentu saja ‘tamparan’ untuk Indonesia karena Pulau Bali merupakan daerah tujuan utama (DTW) pariwisata nasional, bahkan masuk kelas internasional.

Rich Horner memfilmkan dirinya sendiri berenang melalui beberapa kantong plastik, botol, dan sedotan di perairan laut Pulau Bali (Sumber: telegraph.co.uk/RICH HORNER)
Rich Horner memfilmkan dirinya sendiri berenang melalui beberapa kantong plastik, botol, dan sedotan di perairan laut Pulau Bali (Sumber: telegraph.co.uk/RICH HORNER)
Langkah Danone-Indonesia untuk menggalang kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengatasi sampah plastik sejalan dengan visi perusahaan yaitu "One Planet One Health". Ketika bumi sudah kewalahan menghadapi ulah manusia perlu dipikirkan planet lain, tapi, "Apakah hal itu memungkinkan," tanya Arif. Untuk itulah, menurut Arif, pihaknya mendorong upaya bersama menanggulangi dampak sampah plastik agar Bumi tempat lestari sebagai tempat hunian manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun