Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Lainnya - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

AIDS di Banjar, yang Justru Mengerikan Pengidap AIDS yang Tidak Terdeteksi

25 Mei 2018   06:10 Diperbarui: 25 Mei 2018   08:16 643 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
ilustrasi: Mengajak Warga Menjauhi Stigma HIV/AIDS (foto: kompas.com\)

"Mengerikan, Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Banjar (Kalsel-pen.) Capai 121 Orang." Ini judul berita di banjarmasin.tribunnews.com (7/5-2018).

Kalau saja wartawan atau redaktur yang menulis judul berita ini memahami epidemi HIV/AIDS dengan benar, maka judul berita ini sangat-sangat memalukan.

Hak itu terjadi al. karena pelatihan cara penulisan berita AIDS yang berempati sudah tidak ada lagi. Tahun 1990-an sampai awal 2000-an masih ada donor yang memberikan 'sedekah' (baca: hibah atau grant) untuk pelatihan wartawan. Misalnya, LP3Y Yogyakarta yang didukung oleh The Ford Foundation. Ada lagi dana dari AusAID. Tapi, sejak Indonesia jadi anggota G-20 di masa kepemimpinan Presiden SBY, Indonesia 'haram' menerima 'sedekah' yang membuat donor mengalihkan bantuan ke Afrika.

Celakanya, dana pemerintah tidak ada alokasi untuk meningkatkan kemampuan wartawan dalam menulis berita HIV/AIDS agar jadi sumber informasi yang akurat sebagai pencerahan bagi masyarakat.

Pemerintah boleh-boleh saja mengabaikan peran media dalam penanggulangan HIV/AIDS. Tapi, perlu diingat salah satu faktor yang mendorong keberhasilan Thailand menanggulangi HIV/AIDS sampai kasusnya lebih kecil dari Indonesia justru karena sosialisasi informasi melalui media massa. Ada lima program yang dijalankan Thailand dengan menempatkan media massa di urutan pertama dan kondom di urutan ke lima (Integration of AIDS into National Development Planning, The Case of Thailand, Thamarak Karnpisit, UNAIDS, Desember 2000).

Terbalik dengan Indonesia yang menjadikan kondom di urutan pertama sehingga timbul penolakan besar-besaran karena disseminasi informasi yang komprehensif melalui media massa tidak jalan.

Kasihan melihat pemahaman wartawan atau redaktur yang bikin judul berita ini. Bisa jadi pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS ada di titik nadir.

Dok. Syaiful W Harahap
Dok. Syaiful W Harahap
Soalnya, dalam epidemi HIV kian banyak kasus yang terdeteksi semakin bagus dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS karena satu kasus yang terdeteksi itu artinya satu mata rantai penyebaran diputus. Sebaliknya, warga yang idap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi di masyarakat jadi mata rantai penyebaran HIV, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Kok bisa? Ya, bisalah karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es (Lihat gambar utama): Jumlah kasus yang terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

Kalau saja wartawan dan redaktur yang menulis judul berita itu memahami fenomena gunugn es pada epdemi HIV, tentulah judul berita bukan seperti itu, tapi seperti ini (sebagai contoh): Mengerikan, Warga Pengidap AIDS yang Tidak Terdeteksi Jadi Penyebar HIV/AIDS.

Epidemi HIV/AIDS sudah ada di Indonesia sejak April 1987 seperti yang diakui pemerintah (Baca juga: Kapan, Sih, Awal Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia?). Tapi, informasi HIV/AIDS tetap 'jalan di tempat' bahkan kian mundur. Banyak kalangan yang menyampaikan informasi HIV/AIDS dengan balutan moral. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan