Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Lainnya - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

AIDS di Papua: Sunat (Bisa) Menjerumuskan karena Dianggap Kondom (Alam)

20 Maret 2011   07:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:37 509 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
13006072271100060003

* Memasyarakatkan Sunat Mengabaikan Kondom Mengesankan di Papua Tidak Ada (Lagi) Pelacuran

Sejak virus penyebab AIDS ditemukan (1984) dan WHO menyebutnya sebagai HIV (1986) cara-cara pencegahannya pun sudah pula diketahui, khususnya melalui hubungan seksual di dalam atau di luar nikah, yaitu menghindarkan pergesekan langsung antara penis dan vagian serta mencegah agar penis tidak ‘terendam’ dalam cairan vagina, al. dengan memakaikan kondom pada penis pada saat sanggama.

Celakanya, di banyak negara, termasuk Indonesia, kondom ditolak dengan senjata moral karena dianggap mendorong laki-laki untuk melakukan hubungan seksual dengan perempuan selain istrinya, atau lajang dengan pekerja seks komersial (PSK). Padahal, fakta menunjukkan sudah banyak ibu-ibu rumah tangga (baca: istri) yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Begitu pula dengan di Tanah Papua dikabarkan kasus HIV/AIDS justru lebih banyak terdeteksi di kalangan ibu rumah tangga daripada PSK. Kasus-kasus HIV di kalangan istri bisa jadi karena laki-laki ‘hidung belang’ tidak lagi memakai kondom karena sudah disunat. Kasus kumulatif HIV/AIDS di Papua sampai September 2010 mencapai 5.500. Sedangkan laporan Kemenkes RI menyebutkan sampai Desember 2010 sudah dilaporkan 3.665 kasus AIDS dengan 580 kematian.

Fakta itu membuktikan bahwa laki-laki, dalam hal ini suami, tidak memakai kondom ketika sanggama dengan PSK atau perempuan lain. Sayang, fakta ini luput dari perhatian karena banyak kalangan, termasuk pejabat, aktivis LSM, tokoh masyarakat dan tokoh agama tetap berpegang pada asumsi daripada fakta empiris.

Maka, tidak mengherankan kalau kemudian pemerintah provinsi di Papua, dalam hal ini Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua, bagaikan ‘kebakaran jenggot’ menghadapi penyebaran HIV di Papua. Ketua KPA Papua, Constant Karma, mengatakan sunat atau sirkumsisi terbukti efektif menekan resiko penularan penyakit dari virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada laki-laki (Mau Tidak Kena AIDS? Warga Papua Diminta Sunat, www.republika.co.id, 19/3-2011).

Memang, beberapa penelitian menyebutkan sunat pada laki-laki bisa menurunkan risiko (baca: mengurangi risiko bukan mencegah penularan tertular HIV. Memang, tidak ada yang bisa menjamin kondom bisa mencegah penularan HIV 100 persen, tapi jika disimak secara medis kondom membalut penis secara keseluruhan, sedangkan sunat hanya pada kepala penis. ‘Pintu masuk’ bagi HIV tidak hanya pada kepala penis, tapi juga pada batang penis.

Tapi, perlu diingat penelitian pertama di sebuah negara di Afrika dilakukan terhadap mayat yang mati karena penyakit terkait dengan AIDS. Karena sudah mayat tentu tidak dapat ditanya tentang riwayat seks mereka semasa hidup. Data ini penting karena mempengaruhi kemungkinan tertular, misalnya, frekuensi hubungan seksual, jumlah pasangan seksual, pemakaian kondom, dll.

Yang tidak masuk akal sehat adalah: Kondom ditolak, tapi sunat diterima. Ini paradoks. Kondom dianggap melegalkan pelacuran dan mendorong laki-laki sanggama dengan perempuan selain istrinya. Lalu, bagaimana dengan laki-laki yang sudah ‘memakai kondom’ (baca: disunat)? Apakah ‘kondom alam’ yang dipromosikan bisa mencegah penularan HIV tidak melegalkan pelacuran dan mendorong laki-laki ‘hidung belang’ melacur?

Yang dikhawatirkan adalah karena sunat dipromosikan bisa mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual, maka akan ada laki-laki yang menganggap dirinya sudah aman karena sudah memakai kondom yaitu sunat (Lihat: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/01/catatan-hari-aids-sedunia-%E2%80%9Ckondom-alam%E2%80%9D-dorong-penyebaran-hivaids/).

Hubungan seksual yang berisiko tertular HIV bukan hanya melalui hubugnan seksual yang berisiki yaitu dengan PSK, tapi juga dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah. Misalnya, dengan PSK tidak langsung seperti ‘cewek bar’, ‘cewek disko’, ‘anak sekolah’, ‘mahasiswi’, ‘cewek SPG’, ‘ibu-ibu rumah tangga’, selingkuhan, WIL, dll., serta perempuan pelaku kawin cerai.

Mempromosikan sunat bisa menjerumuskan. Analoginya adalah karena kondom bisa mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah, maka sunat pun bisa mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah. Maka, laki-laki yang melakukan hubungan seksual, biar pun berisiko, menganggap tidak perlu lagi memakai kondom karena sudah ada ‘kondom alam’. Akibatnya, risiko tertular tetap ada karena sunat hanya ‘melindungi’ bagian kepala penis, sedangkan batang penis tidak terlindungi (Lihat Gambar 1).

[caption id="attachment_96125" align="aligncenter" width="470" caption="Gambar 1. Analogi Kondom dan Sunat"][/caption] Menurut Constant: "Setelah saya mempelajari epidemi atau penularan HIV, negara-negara yang mempunyai budaya sunat terbukti penuluran HIV sangat rendah. Sedangkan negara yang tidak mengenal sunat sangat tinggi."

Ada beberapa pertanyaan terkait dengan fakta yang dikemukakan Constant, yaitu: Negara mana dengan negara mana yang dibandingkan? Ini penting karena terkait dengan populasi, tingkat prostitusi, tingkat pemakaian kondom, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, dll.

Di beberapa negara yang tidak mengenal kebiasaan sunat pada laki-laki juga ada yang kasus HIV/AIDS-nya rendah. Masyarakat di negara-negara yang insiden kasus HIV baru secara statistik mulai mendatar terjadi karena laki-laki selalu memakai kondom pada hubungan seksual berisiko.

Sedangkan di negara yang menerapkan sunat pada laki-laki dan memakai kitab suci sebagai UUD juga banyak kasus AIDS yang dilaporkan. Arab Saudi, misalnya, sudah melaporkan lebih dari 15.000 kasus AIDS.

Mengapa KPA Papua tidak mengacu ke Thailand yang sudah membuktikan penurunan insiden infeksi baru di kalangan laki-laki dewasa melalui hubungan seksual? Ini yang menjadi pertanyaan besar. Soalnya, Thailand mewajibkan laki-laki ‘hidung belang’ memakai kondom pada hubungan seksual dengan PSK.

Apakah Papua menutup diri terhadap perilaku penduduk yang gemar sanggana tanpa kondom dengan PSK? Artinya, dengan tidak memasyarakatkan kondom maka ada kesan di Papua tidak ada lagi pelacuran. Laki-laki Papua pun dikesankan tidak ada lagi yang melacur karena tidak ada lagi sosialisasi kondom.

Anjuran sunat pun (akan) menimbulkan persoalan baru karena secara histories sunat identik dengan agama tertentu. Walupun ada juga agama lain yang penganutnya juga banyak yang sunat jauh sebelum ada agama yang mengaitkan sunat dengan agama tsb.

Constant juga mengatakan: “ …. Papua memiliki jumlah HIV yang sangat tinggi karena pada umumnya masyarakat di daerah itu belum mengetahui pentingnya sunat. Dia menjelaskan, sunat terbukti bisa mencegah penyebaran HIV sampai dengan 60 persen.”

Jika sunat hanya bisa mencegah penyebaran HIV sampai 60 persen, tentulah penyebaran HIV yang 40 persen masalah besar bagi Papua. Soalnya, diperkirakan 70 persen penduduk asli Papua terpapar dengan HIV/AIDS (tabloidjubi.com ,1/8-2009). Angka 40 persen yang tidak bisa dicegah dengan sunat itu menjadi pendorong penyebaran HIV di Papua.

Jika ingin lebih tinggi efektivitasnya tentu akan lebih baik menganjurkan sunat dan sekaligus juga tetap memakai kondom jika melakukan hubungan seksual yang berisiko.

Agaknya, Papua lebih memilih ‘citra’ (tidak ada sosialiasi kondom mengesankan tidak ada lagi pelacuran) daripada fakta (sosialiasi kondom untuk mencegah HIV, al. menunjukkan ada pelacuran). ***

Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan