Mohon tunggu...
Indria Salim
Indria Salim Mohon Tunggu... Freelance Writer

Freelance Writer, Photography enthusiast Twitter: @IndriaSalim / IG: @myworkingphotos

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Nggak Gerah Bikin Orang Resah, Lebih Baik Damai Saja

26 Februari 2019   12:40 Diperbarui: 26 Februari 2019   13:08 0 15 8 Mohon Tunggu...
Nggak Gerah Bikin Orang Resah, Lebih Baik Damai Saja
Foto: Kantor Berita Pemilu - Pepnews!

Kita pendukung atau golput, cuek atau peduli, apakah beneran bahwa otak kita nggak melihat mana kampanye positif, mana yang negatif, dan mana yang kampanye hitam?

Beneran, walau Penulis tidak menyukai pihak yang secara politis tidak didukung, namun kalau melihat orang lain menghina pihak tertentu dengan cara yang sangat tidak manusiawi, sejujurnya hati kecil terusik.

Intinya, Penulis tidak melihat adanya kebajikan sedikit pun yang diakibatkan oleh suatu fitnah, hoaks, pembodohan, slogan kosong tanpa makna, wacana tanpa sedikitpun indikasi fakta nyata, apalagi kalau sudah slogan bombastis, eh yang terjadi di lapangan dan fakta justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Masih bisa dipahami bila yang berslogan adalah orang awam, atau bukibuk yang sebenarnya memiliki dasar pengetahuan minim tentang isu-isu dan fakta yang terjadi di tanah air ini. Sebut saja fakta tertangkapnya ibu-ibu di Karawang, Jawa Barat karena melakukan hasutan dari rumah ke rumah, dengan materi informasi yang sangat menyesatkan.

Mereka itu menghasut orang yang dikunjunginya dengan mengatakan bahwa kalau Pak Jokowi menjadi Presiden lagi alias menang Pilpres 2019, maka "disinyalir" pengajian di masjid akan dilarang, banyak perkawinan sejenis, dan sebagainya yang berkategori penyesatan 100%.

Contoh lainnya, sampai kini masih banyak dihembuskan di media sosial, bahwa meskipun Jokowi dalam pencalonannya menggandeng Ulama (KH Ma'ruf Amin), dia harusnya tidak dipilih karena tetap sabagai Presiden penista agama, begitu yang diuarkan di semua kesempatan, khususnya saat ada "pulkumpul" pihak yang menyebut diri alumni 212, dan itu berlangsung beberapa hari yang lalu di Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Demi memantapkan "peringatan" itu kepada "umat", maka dilantunkanlah sebuah doa, melibatkan Asma Tuhan Yang Maha Kuasa, memohon dengan "hati yang hancur", dengan kode "Kalau ... ".

Ya, isi doa itu rasanya sulit disangkali otentisitasnya, seperti yang telah dipanjatkan langsung dari bibir seorang pejuang "jihad", yang kebetulan dulunya adalah artis layar lebar yang memainkan peran dari kisah dramatis "Sayekti dan Hanafi" (1988) -- Neno Warisman. Mungkin kita semua tahu, acara Munajat

itu juga dihadiri oleh para pemimpin Majelis Permusyawarat Rakyat (MPR), seperti dilansir dalam berita Kompas.com ini.
Ketua MPR-RI Hadiri Malam Munajat 212 di Monas. Acara ini disebut BUKAN sebagai kampanye politik. Baiklah. Sungguh? Lalu Siapa yang dimaksud Fahri Hamzah sebagai pemimpin munafik dan dzalim?

Manusia pada dasarnya diciptakan Tuhan dengan akal, kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk. Ini bedanya manusia dengan makhluk ciptaan lainnya di alam semesta ini. Manusia memiliki daya pikir, manusia memiliki perasaan yang sungguh tidak terselami lapisan-lapisan nuansanya, satu hal yang sama ada pada diri manusia adalah adanya hati nurani.

Bahkan yang khalayak anggap sebagai orang yang mengklaim diri "tidak percaya adanya Tuhan", tidak kita pungkiri, banyak dari mereka yang sebagian besar hidupnya mereka gunakan untuk melakukan hal baik bagi sesama manusia. Ini khususnya bisa kita gali dari Om Google, menampilkan tokoh-tokoh penemu hal yang berguna bagi manusia seluruh dunia, dan mengejutkannya mereka tidak percaya dengan Tuhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2