Mohon tunggu...
Indra J Piliang
Indra J Piliang Mohon Tunggu... Penulis - Gerilyawan Bersenjatakan Pena

Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara. Artikel bebas kutip, tayang dan muat dengan cantumkan sumber, tanpa perlu izin penulis (**)

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Watak Setia Kawan Erwin Aksa

20 Maret 2019   05:21 Diperbarui: 20 Maret 2019   13:49 2114
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Langkah berani ditempuh oleh sahabat saya Erwin Aksa (EA), Ketua Bidang Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. EA memutuskan untuk hadir dalam Debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang digelar pada hari Minggu, tanggal 17 Maret 2019. 

Bukan berada di barisan Cawapres KH Ma'ruf Amin yang diusung oleh Partai Golkar, EA malah berada di sayap pendukung Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno. Praktis, EA menjadi bahan pembicaraan publik, termasuk dapat sorotan media.

Apa alasan EA? Sangat personal.

"Saya dan Sandiaga Uno merupakan sahabat sejati, mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) dan aktif di Kamar Dagang dan Industri (KADIN). Kami punya ikatan emosional yang tidak bisa kami hilangkan dan kami lupakan. Kami memiliki hubungan persahabatan yang hakiki. Saya menggantikan Sandi menjadi Ketua Umum HIPMI Munas di Bali, dan Sandi-lah yang membantu saya sehingga saya bisa menjadi Ketua Umum HIPMI menggantikan Sandi. Bagi saya, persahabatan lebih penting dari segalanya," urai EA dalam keterangan persnya.

Keterlibatan EA dalam upaya pemenangan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto dan Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno sudah jauh-jauh hari saya ketahui. Hal itu bermula dari pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla sebelum penetapan Capres - Cawapres. 

Hanya saja, EA lebih banyak tampil bersama Sandiaga, terutama dalam acara internal di DKI Jakarta. Saya sering mendapatkan kiriman foto-foto keterlibatan itu. Hanya saja, publik secara luas belum mengetahui. EA juga tidak terkesan "pasang badan", hanya bergerak secara diam-diam.

Hubungan EA dengan Sandiaga sudah ia jelaskan. Saya juga mengetahui langsung, ketika EA terlibat dalam proses pemenangan Anies Rasyid Baswedan dan Salahuddin Uno sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta. Keterlibatan itu ia tampakkan dalam Putaran Kedua. Sementara saya melibatkan diri sejak Putaran Pertama. 

Dukungan EA membuat saya merasa lebih sumringah. Sekalipun berbeda dengan keputusan Partai Golkar, saya meminta izin (lebih tepat memberi tahu) dua tokoh utama Partai Golkar, yakni Muhammad Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie.

Pak JK menegur saya di hadapan Pak Sofyan Wanandi dan Pak Komaruddin Hidayat. Persisnya pada bulan Januari 2017. Saya dalam proses memberikan perspektif bahwa pilihan saya bersifat personal.

"Kapan kau tidak menentang partai?" kata Pak JK.

"Maaf, Pak, kalau saya tidak menentang partai, Bapak tidak menjadi Wakil Presiden," jawab saya. Pak Sofyan sampai tertawa terbahak. Sebagai mantan atasan saya di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Pak Sofyan tentu tahu tentang sikap keras kepala saya. Soalnya, Pak Jusuf Wanandi memerlukan waktu lebih kurang dua tahun untuk meyakinkan saya agar bersedia "membantu" Pak JK. Keputusan saya masuk Partai Golkar tanggal 6 Agustus 2008 adalah wujud dari upaya yang dilakukan Pak Jusuf Wanandi itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun