Humaniora

Selamatkan Diri dan Kota dari Bencana Yuk!

4 Oktober 2018   11:53 Diperbarui: 4 Oktober 2018   15:21 429 0 0
Selamatkan Diri dan Kota dari Bencana Yuk!
Dokumentasi pribadi

Waktu saya pertama kali mendengar bahwa Allah pernah membolak balik tanah, membuat yang di atas pindah ke bawah dan yang di bawah ke atas ("Maka apabila datang perintah Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu diterbalikkan dan kami menghujaninya dengan batu-batu dari tanah yang dibakar, menimpanya bertalu-talu." QS11:82) saya bingung dan bertanya-tanya, seperti apa suatu wilayah diterbalikkan? Ternyata kini saya lihat ada di Palu. Merinding, karena ini bukan di luar negeri. Ini di Indonesia. Dan ini adalah peringatan besar bagi kita semua. Tak ada kaum yang begitu spesial yang bisa selamat kalau Allah sudah menurunkan ketentuanNya.

Jadi yuk kita lihat bagaimana kita bisa selamatkan kota kita, kaum kita, keluarga kita, minimal diri kita sendiri dari bencana seperti itu? Bagi Muslim, alhamdulillah ada tuntunannya. Kita simak yuk.

1. Berbuat kebaikan dan ajak sebanyak-banyaknya orang berbuat kebaikan

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. 11:117

Nah ini jaminan langsung dari Allah, Sang Maha Pemilik Semesta, yang menentukan kapan bencana turun, di mana dan seperti apa bentuknya, yang mencintai ciptaanNya lebih dari apapun juga. Allah yang terus mengingatkan bahwa ada hukum-hukum yang berlaku universal di manapun manusia berada.

Kita bisa berbuat hal-hal sederhana, mudah, murah, tak pakai bingung dan pusing. Tulisan ini pun tujuannya untuk itu. Senyum, sedekah, sebar ilmu agama yang mengajak pada kebaikan, berbagi cerita motivasi ringan santai, semua mudah dan murah. Pastikan setiap detik isinya hanya kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Lagi bengong? antri, macet? Coba dzikir, doakan orang yang lewat, atau sapa orang lain yang ada di sekitar. Yang baik, baik, dan baik saja, karena ini yang bisa menyelamatkan.

Dan setelah berbuat kebaikan, ajak orang lain melakukan kebaikan pula. Menulis, menyebarkan, mengirimkan, mengingatkan semua yang ada bersama kita, baik secara fisik maupun virtual, untuk melakukan hal-hal sederhana setiap hari. Hal sederhana dan kecil bisa menjadi hal besar, seperti bakti pada orang tua. Sesederhana menghubungi orang tua setiap hari, mengirim kabar, oleh-oleh terbaik, apalagi menghadirkan diri bersama mereka.

Kalau ada orang lain berbuat baik, doakan agar ia bisa berbuat lebih baik lagi, dan tiru kebaikannya. Seandainya belum bisa, berdoa agar dimampukan oleh Allah, dan lakukan semampunya seperti yang dicontohkan. Doakan pula agar kebaikan yang kita lakukan itu menginspirasi orang lain berbuat kebaikan yang sama atau lebih baik lagi. Maka satu kebaikan bisa menjadi bunga berbunga, merata dalam satu keluarga, kompleks perumahan, RT/RW, perusahaan, komunitas, kaum, dan akhirnya kota. Doakan. Insya Allah dikabulkan, dan kita secara tak langsung ikut menyelamatkan keluarga, kompleks perumahan, RT/RW, perusahaan, komunitas, kaum, dan akhirnya kota kita dari bencana.

2. Jauhi dan cegah keburukan dan pelanggaran ayat-ayatNya

...dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. QS28:59.

Dan sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kalian karena telah berbuat dzalim. QS10:13.

...(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim. QS8:54

Jelas sekali Allah terus mengingatkan bahwa kedzaliman, kejahatan, keburukan perilaku itu membinasakan. Pastikan kita tak tergoda untuk sebar berita hoax (bisa fitnah), gossip-in orang, berkata keras pada orang tua, apalagi dosa besar seperti zinah. Jauhi gaya hidup yang tak mengindahkan perintah-perintahNya dan dekat dengan laranganNya. Ingatkan pula orang lain dari gaya hidup ini. Kalau pelanggaran-pelanggaran ini dilakukan secara merata kebinasaannya pun merata, berupa bencana yang menimpa sebuah wilayah.

Jangan sangka orang yang baik, sholeh, taat bisa selamat, kalau ia tak melarang, mengingatkan, tak mencegah keburukan itu terjadi. Kita wajib mengingatkan, mencegah minimal mengingkari dari dalam hati. 

Rasulullah pun pernah mengisahkan mengenai seorang sholeh yang tinggal di tengah kemunkaran dan tak pernah mengingkari kemaksiatan yang terjadi di sekitarnya, maka pada saat bencana ia pun ikut menjadi korban, karena Allah kecewa padanya. Sebagai orang sholeh harusnya ialah yang pertama kali mengingatkan lingkungannya. Minimal mengingkarinya dalam hati, agar lepas tanggung jawabnya. Minimal satu kali dalam hati, itu sudah cukup untuk menggugurkan kewajiban. Kalau bisa dengan kata-kata dan tangan akan lebih baik lagi dan lebih selamat lagi.

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. 5:78-79

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa. 7:163.

Mencegah keburukan itu wajib bagi kita. Bukan hanya mengajak pada kebaikan (amar maruf) tapi juga mencegah kemunkaran (nahi munkar) wajib dilakukan. Ini yang sering kita lupa. Tak enak rasanya mengingatkan mereka yang melakukan keburukan atau lalai dari berbagai perintahNya. Padahal minimal satu kali kita wajib mengingatkan, minimal mengingkari dalam hati.

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu perbuatan munkar lalu mengubah dengan tangannya, maka ia sudah terbebas dari kesalahan. Dan barangsiapa yang tiada sanggup untuk mengubah dengan tangannya, lalu mengubah dengan lisannya, maka sungguh ia sudah terbebas dari kesalahan. Dan barangsiapa tiada sanggup untuk mengubah dengan lisannya, lalu mengubah dengan hatinya (yakni mengingkarinya), maka ia sudah terbebas dari kesalahan. Dan yang terakhir adalah tingkatan iman yang terlemah. (HR. An Nasai)

Jangan pernah pula merendahkan satu ayat atau hadits. Ini bahaya sekali. Misalnya ada yang tak setuju dengan jenggot atau jilbab. Jangan dihina-hina atau disebar-sebar, karena bisa saja itupun mendatangkan bencana. Ini dalilnya:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2