Muda

Suara-suara Umat yang Terabaikan

20 Mei 2017   07:12 Diperbarui: 20 Mei 2017   08:46 33 1 0

Berbagi sedikit kisah disela-sela menyambut kedatangan mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya, tepatnya kemarin (16/5). Ketika sedang duduk-duduk, kebetulan berbincang-bincang ringan dengan salah seorang ibuk yang mengantar putrinya. Iseng-iseng nyapalah karena pas duduk disebelah. Tanya asal, ee.. ternyata satu kampung halaman. Akhirnya ngalir deh ceritanya. Awal bertanya tentang ukt yg didapat. Yaa,, lumayan mahal (muahal menurut saya). Dan ternyata beliau adalah seorang petani, suaminyapun petani tulen menurut informasi yang diberikan ibuk tersebut. 

Tahulah, petani desa itu kayak apa. Kalau ndak tahu sedikit informasi saja ya. Petani desa itu bukanlah petani yang lahan sawahnya luas banget, tidak. Tapi cukup untuk makan sehari-hari. Ada ladang untuk menanam umbi-umbian dan tanaman musisman. Rata-rata di daerah saya begitu. Kalau untuk makan setiap hari saya rasa cukup akan tetapi jika untuk membiyai anak sekolah tidaklah dirasa cukup. Makanya kenapa banyak orang desa yang lebih memilih merantau ke luar negeri. Karena untuk hidup di atas kata cukup itu penghasilan pas-pasan. Apalagi anak yang kuliah dengan ukt tinggi dan membutuhkan biaya hidup yang cukup tinggi. Jika hanya mengandalkan tanaman musiman yaaa pasti tidak nutut. (kecuali juragan tanah ya)

Ibu itu sempat memberikan keluh kesah. Ya petani biasa tapi ya dapat ukt-nya segitu. Bahkan, beliau juga sudah mengantarkan anak sulungnya lulus sarjana. Akan tetapi itu waktu beliau masih kerja bukan sebagai petani tapi kerja lain di luar kota. Tapi sekarang beliau tidak sanggup jika kerja di luar kota atau luar negeri. Yaa, apa daya pikirku. Mungkin itu juga yang dirasa orang tuaku. Tapi semangat beliau mengantarkan anaknya ke jenjang yang tinggi sungguh luar biasa.

Lain orang tua lagi, seorang ibu ini suaminya pedagang. Istilahnya saya lupa. Pedagang yang serabutan kalau tidak salah. Jadi penghasilan tidak tentu karena bergantung pembeli. Beliau juga mengeluh tentang mahalnya ukt. Saya tanya beliau kenapa tidak ikut jalur bidik misi? Jawaban beliau “awalnya mau ikut mbak, tapi menurut ketentuan, rumah yag tembok tidak boleh daftar. Jadi tidak jadi daftar. Dan ternyata dapat ukt segitu besarnya. Mau mencari keringanan tapi belum ada respon”. Astaghfirullah..Hmm... saya tidak bisa berkata-kata lagi. Miris mendengarnya.

Jadi yang menjadi fokus adalah, tidak semua yang mendapatkan ukt itu mampu secara finansial. Dan bagaimana bisa hal ini terjadi? Kenapa ukt malah membebankan rakyat? Padahal dulu spp 1 juta itu paling tinggi katanya para senior yang pernah kuliah. Tapi sekarang? 1 juga jadi terendah dan hanya sebagian kecil yang dapat itu.

Aku hanya bisa menyeru. Dan megajak umat menyerukan kebenaran.

Wahai penguasa negeriku. Engkau ingin anak bangsamu cerdas, berkompeten, dan memajukan bangsa ini. Tapi bagaimana mereka bisa mengenyam pendidikan jika terkendala biaya? Walhasil, tidak semua anak bisa sekolah bahkan kuliah. Karena pembebananmu kepada rakyat sungguh tak berperasaan.

Apalah dayaku. Mau membantu? Sekaya apa aku. Semoga semakin banyak yang mengingatkan penguasa negeri ini bahwa rakyat perlu diurusi. Bukan infrastruktur saja yang diurusi. Infrastruktur memang penting tapi untuk siapa? Rakyat? Saya ragu.

Wahai penguasa negeri, dengarlah suara-suara rakyatmu. Jangan abaikan sedikitpun karena pertanggung jawaban menantimu. Allahu a’lam.